
Seorang pemuda berjalan menuju barat rumah nenek Romlah di pagi itu, tampak suasana masih seperti dulu, tak ada perubahan hanya beberapa bangunan rumah yang telah berada di kampung Situ Babakan, tempat pemuda itu di lahirkan.
Ketika sampai di halaman Balong yang lumayan besar tampak ibu ibu tua maupun muda sedang bergosip di pagi hari sambil mencuci pakaian atau pun piring dan gelas yang kotor.
Tepat ketika pemuda itu melewati Balong tersebut sambil tersenyum kearah ibu ibu yang sedang mencuci pakaian sambil bergosip.... Pemuda itu pun tersenyum kearah mereka.
"Punten Ibu Ibu." Ucap Awan. Ia berjalan melewati Balong tersebut.
"Mangga... Ehk.... Si ganteng mau kemana.?" Bu Omah... Tangan nya sesaat berhenti menggosok baju yang di cuci.
"Mau ke rumahnya teh Lisa Bu Omah." Kata pemuda itu berhenti sejenak menjawab pertanyaan salah satu ibu ibu tersebut.
"Ihk.... Mau ngapain atuh ganteng ke rumah nya Lisa." Timpal Bu Diah jiwa kepo nya timbul seketika.
"Hehehehe... Hehehehe! Biasa ada perlu Bu." Jawab Pemuda itu.
"Ohk......! Kata mereka sambil mengangguk kepalanya bersamaan.
"Kalau begitu Bu... Saya permisi mau ke rumah Teh Lisa dulu.... Silahkan ibu ibu beraktivitas kembali mencuci pakaian bekas semalam bertarung melawan para suami nya hehehehehe." Kekeh Awan... Lalu pergi ketika melihat Ibu Ibu dengan mata melotot dan tangan siap melempar jemuran nya kearah pemuda tersebut.
"Dasar gelo siah. Anak si Lisnawati..." Kesal Omah.!
"ETa si Awan mau ngapain ya kerumah si Lisa... Sudah jelas jelas Orang Tua nya jahat kepada keluarga nya.?" Tanya Bu Diah.....
"Heeh nya.! Boa boa mau balas dendam." Timpal ibu ibu yang lainnya.
"Husss..... Jangan berburuk sangka." Sahut Omah.
__ADS_1
Obrolan pagi di kampung Situ Babakan tepatnya di salah satu Balong ( Kulah ) Tempat para ibu ibu mencuci pakaian atau piring kotor bekas makan, tampak terdengar oleh pemuda itu setelah pamit kepada para ibu ibu yang tinggal di sekitaran rumah Engkos Kosasih.
Awan sendiri setelah sampai di halaman rumah megah yang cukup luas segera melangkah menuju pintu utama dan langsung memencet bel pintu tersebut.
"Ting.............
"Tong...........
"Ting..........
"Tong........
Tak lama setelah itu pintu rumah Engkos Kosasih pun terbuka dan muncul sosok pemuda berusia 20 tahun yang sangat Ia kenal..
"Awan silahkan masuk." Titah pemuda itu mempersilahkan.
Pemuda yang di sebut dengan sebutan Sandi itu, adalah pacarnya Teh Lisa.. Awan sendiri mengenali pemuda tersebut ketika waktu itu Ia berkunjung ke rumah Ibu tiri nya atas perintah dari Bunda untuk memintakan jajan buat adik adiknya... Itu sudah lama sekitar tiga tahun yang lalu.
Sementara hubungan Sandi dan Lisa sudah lima tahun katanya waktu Lisa dan Sandi masih duduk di bangku sekolah menengah atas, tetapi karna status di antara mereka berdua berbeda antara langit dan Bumi maka hubungan nya di lakukan secara sembunyi Sembunyi.
Kini Awan sudah berada di ruangan tamu rumah Engkos Kosasih.. Ia duduk berhadapan dengan Sandi dan Lisa. Entah apa yang di inginkan mereka berdua menyuruh datang kerumah nya di pagi pagi.
"Teh Lisa... Kang Sandi ada perlu apa, menyuruhku untuk datang di pagi hari ini.?" Tanya Awan memulai percakapan.
"Mohon maafkan saya sebelumnya.. Malam belum saya utarakan inti nya menyuruh mu datang kesini, selain ingin menemui Teh Lara dan Ibu nya.. Tapi ada satu hal yang penting ingin di bicarakan dengan mu." Jawab Gadis berusia 19 tahun itu.
"Hal... penting apakah yang ingin Teh Lisa katakan.?" Tanya Awan penasaran.
__ADS_1
Putri satu satunya pasangan Engkos Kosasih dan Titin Kharisma itu, sejenak menarik napas nya dalam dalam sebelum Ia hentakan dengan keras... Tak lama setelah itu pun langsung mengutarakan maksud nya menyuruh anak dari Lisnawati itu untuk datang menemui nya.
"Begini Awan... Setelah ayah ku dan Ibu ku masuk dalam penjara, sehari kemudian... Beberapa penagih hutang datang ke rumah ini, untuk menagih hutang yang di pinjam oleh Ayah ku dengan jumlah yang sangat besar.
"Waktu itu... Aku bener bener tidak mengetahui selama ini bahwa Ayah ku telah meminjam uang dengan jumlah yang sangat besar dan bunga yang sangat mencekik dengan jaminan sertifikat rumah dan rumah kontrakan yang berjejer di samping rumahnya Engkos Kosasih.
Kata salah satu Debkolektor, Engkos Kosasih dan Titin Kharisma meminjam uang kepada salah satu rentenir tersebut... Akan mengembalikan uang dengan bunga nya sekaligus selama enam bulan dan bila sampai enam bulan uang itu tidak di kembalikan maka rumah dan beberapa kontrakan nya akan menjadi milik sang rentenir tersebut..." Kata Lisa menjelaskan. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya lagi.
"Hutang yang harus di kembalikan oleh Kedua Orang Tua berikut dengan bunga nya selama enam bulan sebesar 750 juta.... Sedangkan rumah dan beberapa kontrakan dan beberapa tanah yang masih kosong menurut perkiraan mencapai satu miliar rupiah bila di jual nya." Terang Lisa menjelaskan semua nya kepada pemuda di hadapannya.. Ia berharap Awan membantu kesulitan yang kini sedang di alami nya.
"Jadi tujuan Teteh memanggil dan mengobrol secara langsung tanpa di ketahui oleh keluarga Awan... Yaitu secara pribadi meminta bantuan dan memohon untuk membeli seluruh harta Kedua Orang Tua nya, untuk membayar hutang kepada rentenir tersebut." Sambung lagi Lisa.
Awan hanya manggut manggut saja... Tanpa menyela setiap perkataan dari anak nya Engkos Kosasih itu... Dalam hatinya terkejut dan kaget di buatnya.. Tetapi exfresi nya tidak Ia tunjukkan.
"Teh Lisa... Apakah Orang Tua Teteh sudah mengetahui nya.?" Tanya Awan.
Lisa hanya mengangguk dan menjawab singkat!!
"Sudah.!!
"Terus apa kata nya!!
"Ayah dan ibuku menyuruh ku untuk menjual seluruh hartanya dan membayarkan langsung kepada rentenir sebelum tanggal perjanjian itu pas pada jatuh tempo! Ketika rumah dan kontrakan dan beberapa bidang tanah tidak keburu di jual oleh ku... Maka dengan terpaksa semua nya di serahkan kepada peminjam dan saya sama sekali tidak mendapatkan uang sepeserpun sesuai perjanjian yang di tanda tangani oleh kedua belah pihak. Akan tetapi bila di jual sebelum jatuh tempo, setidaknya saya ada sedikit sisa sisa hasil pembayaran hutang itu dan berniat untuk pindah dari kampung ini... Karna rasa malu atas perbuatan yang di lakukan oleh Kedua Orang Tua ku sudah tak sanggup lagi menanggung beban semua ini." Kata Lisa dengan wajah dan mata berkaca-kaca.
Awan terenyuh hati nya.. Teriris... Apa yang di alami oleh Lisa tak berbeda jauh yang di alami oleh keluarganya waktu itu.... Apakah ini karma buat Engkos Kosasih dan Titin Kharisma.... Atau kah apa yang di ucapkan oleh Aden Haruman yang dulu suatu saat orang yang berusaha memusuhi mu akan mendapatkan hukum alam sesuai perbuatannya.
"Karma Itu berlaku." Ucap Awan dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.