Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Nabil Bertemu dengan Aidil dan Ahmad


__ADS_3

Pemuda tampan itu manggut manggut mendengar penjelasan dari Aidil dan Tedi Ferdiansyah, Nabil sendiri pias wajah' nya berkeringat. Dalam hati penuh ketakutan dan kecemasan yang akan menimpa dirinya dan ibunya.


"Kak. Awan. Aku tidak butuh semuanya. Aku tidak mau kembali. Biarkan saja semua harta milik ayahku menjadi milik kedua kakak tiri ku. Aku tidak mau kembali ke tempat itu. Aku tidak mau." Teriak Nabil seketika setelah mendengar perkataan dari Aidil yang tak lain Paman nya sendiri.


Tedi Ferdiansyah dan Aidil serta Ahmad tersentak kaget setelah gadis yang memperkenalkan dirinya bernama Akila itu histeris berteriak seraya menangis. Gadis cantik itu seketika dalam pelukan pemuda itu untuk menenangkan nya. Awan pun memberikan kode kepada mereka bertiga untuk diam dan tidak bertanya terlebih dahulu.


Ahmad. Sujud syukur dalam lantai ruangan keluarga. Keyakinan dan daya ingat nya tidak pernah lupa, pertama kali melihat gadis itu, adalah Nona Muda Nabil Nur Fadillah putri dari Nyonya Azzahra Masika Fatharani istri dari majikannya.


"Alhamdulillah. Terima Kasih ya Allah. Terima Kasih ya Robb. Hamba sudah di pertemukan dengan Nona muda Nabil. Lihat lah Tuan Besar Moch Ismail. Anak mu dalam keaadaan sehat dan sungguh cantik bagaikan seorang Putri dari kahyangan." Isak tangis Ahmad dalam berkata.


Nabil masih dalam pelukan pemuda itu. Isak tangis masih terdengar oleh Aidil dan Tedi Ferdiansyah,. Ahmad sendiri kini sudah duduk seperti semula.


Pemuda itu lalu mengambil ponsel yang di simpan di atas meja tersebut. Ia membuka kontak telepon dan langsung memencetnya setelah nomor yang di tuju terlihat oleh nya.


Nada dering terdengar merdu di telinga nya. Menunggu seseorang untuk mengangkat telepon darinya.


"Assalamualaikum. Anakku." Kata seorang dari sebrang telepon setelah panggilan terhubung.


"WaallAikum Salam. Bu Dewi sedang dimana sekarang posisi.?" Tanya Awan dari panggilan telepon.


"Ibu sedang berada di kantor. Ada hal apa siang ini menelepon ibu.?" Tanya Bu Dewi.


"Bu. Bisakah Awan meminta tolong untuk menjemput Bunda Azzahra, dan bawa ke kampung Maleber kediaman Tuan Tedi Ferdiansyah." Kata Awan.


"Bisa. Kebetulan. Ibu sedang tidak sibuk dan saat ini akan langsung menuju rumah Azzahra Masika Fatharani." Kata Wanita setengah tua dari sebrang telepon.


"Hatur nuhun Bu. Awan tunggu." Kata nya. Balasan singkat dari Bu Dewi. Iya. Mengakhiri panggilan telepon tersebut.

__ADS_1


"Tuan Awan." Kata Aidil jantung berdetak kencang setelah mendengar obrolan telepon, pemuda itu meminta untuk menjemput kakak Ipar nya yang lima tahun terakhir bertemu untuk di jemput dan di bawa ke sini.


Pemuda yang masih memeluk gadis itu mengangguk. Lalu melepaskan pelukannya.!!


"Sayang. Sudah.........! Cepat peluk Paman mu dan cium tangan nya." Titah Awan kepada Nabil.


"Kak." Lirihnya. Awan pun langsung menyeka Air Mata nya. Anggukan kepala dari pemuda yang penuh perhatian itu langsung membuat hati Nabil terenyuh.!!


"Keponakan ku, Nabil Nur Fadillah." Ucapnya bibir bergetar seluruh badan menggigil, ia tak percaya bahwa gadis kecil yang dulu di suruh pergi bersama Ibu nya dari tempat kelahirannya. Kini berada di depan matanya.


Gadis itu membalikkan badannya. Mata nya tak luput keluar cairan bening membanjiri seluruh pipi mulus nya. Ia beranjak dan melangkah kepada lelaki setengah tua tersebut. Aidil sendiri sama dengan gadis itu iya menangis terisak Isak. Sambil merentangkan kedua tangannya, menyambut pelukan dari keponakan yang sudah lima tahun tak bertemu.


"Tuan Besar. Sebaiknya kita keluar dulu. Biarkan mereka bertiga melepas rasa rindu dan temu kangen setelah lima tahun tidak bertemu." Kata Awan kepada Tedi Ferdiansyah memberi saran.


"Iya. Anakku. Ayo." Ajak Tedi Ferdiansyah.


"Sayang. Kakak. Tidak akan pergi kemana mana. Kakak dan Tuan Besar akan menunggu di luar sambil menikmati kopi di siang hari dan menunggu kedatangan Bunda." Jawab nya. Nabil pun mengangguk.


Mereka berdua melangkah pergi meninggalkan ruangan keluarga, tempat Aidil dan Ahmad serta Nabil melepas rasa rindu, Awan dan Tedi kini sudah berada di Gazebo di luar halaman rumah mewah di kampung tersebut.


Beberapa para pengawal berjaga bersiaga dengan cara membaur dengan warga kampung atas perintah dari majikannya.


"Anakku. Langkah selanjutnya bagaimana setelah mereka bertemu.?" Tanya Tedi Ferdiansyah.


"Entahlah Tuan Besar. Aku bingung dengan semua ini. Tapi aku juga tidak akan mengingkari ucapan yang sudah aku ucapkan kepada Azzahra dan Nabil, akan menjadi perisai mereka berdua, sampai urusan nya selesai." Katanya terdiam lalu melanjutkan lagi perkataan nya.


"Mungkin Misi kali ini. Akan sangat beresiko dan mungkin nyawa menjadi taruhannya. Karna yang akan di hadapi oleh ku adalah pihak orang yang tidak mengetahui kekuatan lawan.

__ADS_1


"Anakku. Apakah Abah Aden Haruman sudah mengetahui nya, tentang permasalahan yang akan kamu hadapi.?" Tanya Tedi Ferdiansyah.


"Sudah Tuan Besar. Malah sebelum aku memberitahukan semua nya, Ia menyuruhku pergi kepada Kiayi Mangku Bumi, yaitu Mama Sepuh untuk meminta bantuannya." Jawab Pemuda bernama Awan.


"Lalu. Apakah kamu sudah menemuinya. Perintah dari Abah Aden Haruman menemui siapa tadi yang kau sebutkan.?" Tanya nya lelaki paruh baya itu.


"Kiayi Mangku Bumi.!!


"Iya Itu. Apakah kamu sudah menemui nya.?" Tanya Tedi Ferdiansyah penasaran.


"Kemarin malam aku sudah berkunjung dan memberitahukan maksud dan tujuan ku datang ke Pondok Pesantren Darul Hikmah. Mama Sepuh menugaskan sepuluh santri terlatih dalam Ilmu beladiri untuk menjadi pengawal bayangan, dalam melaksanakan misi mengawal dan menjaga Nabil Nur Fadillah dan Azzahra Masika Fatharani. Tedi Ferdiansyah manggut manggut mendengar nya. Ia percaya penuh Aden Haruman mempunyai mata batin dan penglihatan yang tajam. Terbukti setiap ucapan dan penglihatan nya tidak pernah meleset.


Obrolan mereka berdua terhenti, setelah satu unit Mobil Honda Brio RS masuk ke halaman area parkir rumah mewah tersebut dan bergerak pelan menuju tempat kosong di samping mobil Pajero Sport.


Tak lama setelah Mobil Honda Brio berhenti, dari arah pintu depan mobil tersebut keluar dua wanita yang hampir usia nya sama. Dua wanita berbalut kerudung hitam berjalan menghampiri seorang pemuda dan seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di gazebo dan memperhatikan kearah mereka berdua.


"Bu Dewi. Calon mertua." Sapa Awan terkekeh menyambut dua wanita hebat tersebut.


"Hmmmmmmm. Gumam Tedi Ferdiansyah.!!


"Hehehehe. Am sorry Tuan Besar.! Seserius apa pun. Aku tidak bisa nahan untuk menggoda dua wanita hebat yang ada di hadapanku." Bela Awan dengan alasan nya.


"Bunda. Kenalkan ini Tuan Besar Tedi Ferdiansyah. Yang malam itu mengajak Nabil pergi ke Jakarta." Kata Awan.


"Tuan Besar. Salam hormat dari saya." Ucap Azzahra membungkuk hormat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2