Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Duel Satu Lawan satu Awan dan Haikal Bos Preman.


__ADS_3

Malam itu pukul 23:40 Suasana di vila yang di sewa oleh pemuda kampung bernama Awan. Terasa dingin menusuk tulang. Akan tetapi rasa dingin di tubuh Friska dan Tedi Ferdiansyah bersama yang lainnya tidak berarti. Rasa itu berubah menjadi rasa ketakutan yang teramat dalam ketika mobil Mewah Toyota Alphard melaju keluar menuju Vila yang ada di kaki bukit gunung batu.


"Ayah. Aku takut, harapan tidak sesuai kenyataan." Lirih Friska sorot matanya menatap kearah mobil yang sudah menghilang dari pandangan nya. Aku takut..... Sungguh takut....... " Lirihnya lagi.


"Kita hanya bisa berharap dan berserah diri.!! Ketakutan yang kau alami saat ini. Tidak jauh berbeda dengan ketakutan yang di alami oleh ayah. Air mata nya keluar Tedi Ferdiansyah buru buru menyeka nya.


"Apakah mereka akan berhasil Ayah.? Apakah kak Awan akan membawa Ibu dengan keaadaan selamat.? Tanya Friska.


"Iya.......... Tedi Ferdiansyah mengangguk.!! Ayah yakin dengan pemuda itu. Tuhan memberikan jalan melalui pemuda itu. Kita harus optimis dan membantu dengan memohon kepada sang Maha Esa. Tedi langsung berjalan masuk kedalam Vila. Friska sendiri masih menatap kearah pergi nya mobil itu.


"Di sebuah mobil Toyota Alphard. Excel memegang kemudi setir mobil itu. Dia terus melajukan mobilnya dengan pelan. Sementara pemuda itu sibuk dengan ponselnya mengirim pesan singkat untuk bersiap siaga karna dia akan sampai dan memasuki vila yang menyandera Nyonya Agista.


"Mobil pun kini sudah berada di luar Vila. Terlihat puluhan pengawal sedang berada di penataran halaman. Salah satu pengawal Agus Ferdiansyah membuka kan pintu gerbang dan menyuruh mobil yang di tumpangi Excel dan Awan beserta Hendra dan Hendri untuk masuk.


Tepat di samping mobil Pajero sports berwarna hitam. Mobil Toyota Alphard pun berhenti. Beberapa pengawal dan ke lima preman anak buah bos Haikal sudah bersiap menghadang. Akan tetapi dari arah pintu utama seorang kepala pengawal Tuan Agus Ferdiansyah membiarkan mereka untuk masuk dan bertemu dengan majikannya.


"Kak. Excel dan kalian berdua ponsel jangan di bawa dan matikan." Titah Awan masih berada dalam mobil.


Anggukan dari mereka bertiga seraya mematikan ponsel dan di simpan dalam mobil. Lalu mereka berempat pun turun dari mobil dan di kawal menuju pintu utama untuk bertemu dengan dalang penculikan nya itu.


****


Sementara di luar halaman vila mewah itu. Setelah mengetahui posisi Tuan muda Excel dan pemuda bernama Awan masuk kedalam Vila tersebut. Opan dan beberapa murid Aden Haruman mulai bergerak secara terpisah. Sama hal dengan Robi dan anak buahnya menuju Vila Agus Ferdiansyah. Asep Sunandar dan Iyus Saputra menyelinap secara naik keatas pohon yang berada di pinggir bangunan yang begitu luas melalui arah belakang.


Kang Usep memberi instruksi nya kepada tujuh murid Aden Haruman untuk pokus kepada lima preman yang di instruksi oleh Nak Awan.


"Semua bergerak kita lumpuhkan malam ini." Titah Kang Usep.


Asisten Tuan Besar juga sudah bersiap siaga bila perkelahian itu pecah maka. Ia dan anak buahnya langsung masuk ke penataran halaman Vila tersebut.

__ADS_1


****


"Prok...........! " Prok..........! " Prok.........! Suara tepukan tangan tengah mengagetkan Excel. Awan serta Hendra dan Hendri.


Ada tiga orang dengan berdiri tegak di lantai atas. Salah satu dari mereka bertiga Excel mengenal nya dia adalah Paman nya yaitu Agus Ferdiansyah.


Mereka bertiga mulai berjalan melangkah kan kaki nya turun mendekati nya. Tatapan dan senyuman licik terpancar oleh mereka bertiga.


Excel melihat sekitarnya. Begitu pun dengan Awan dan kedua anak buahnya Hendra dan Hendri, mereka berempat menenangkan hatinya. Jangan sampai tersulut emosi, agar rencananya berhasil.


"Paman Agus." Ucap Excel dengan raut wajah yang penuh amarah.


"Apa kabar keponakan Excel Ferdiansyah.?" Gimana rasanya kehilangan seorang Ayah yang mungkin sebentar lagi ibu mu akan saya kirim ke neraka.! Hahahaha. Tapi aku tidak akan membunuh ibu mu dengan satu syarat.? Kau harus menandatangani berkas pengalihan perusahaan Future Nugraha Company Group kepada saya." Ancam Agus Ferdiansyah penuh penekanan.


"Excel menatap tajam adik tiri Ayah nya.


"Plak............!


"Plak............!


"Haikal. Panggil Agus Ferdiansyah.


"Kasih dia pelajaran. Agar dia mau menandatangani penyerahan perusahaan milik ayahnya yang telah di bunuh sama anak buah mu." Perintah Agus Ferdiansyah dengan senyuman jahat.


"Dengan senang hati Tuan besar. Ucap nya. Haikal lalu melangkah dan menarik Excel. Tapi tangannya. Di tepis oleh Awan.


"Aw...... Aw...... Aw....... Anak kecil berani berani nya kau menghalangiku.


"Hahahaha..........!! Kalau gue berani. Anda mau apa hah.? Tantang Awan dengan bentakan keras.

__ADS_1


"Bajingan kau............ Kau Anak bau kencur.


"Wuzzzzzzzzzzz......... Sebuah pukulan mendarat kepada perut Awan. Tapi Ia tangkis dengan cepat.


"Blugh............ Tangkisan Awan hingga terdengar oleh yang hadir di ruangan tengah villa itu.


"Sialan kau.......... Aku akan membunuhmu saat ini dengan tanganku." Geram Haikal.


Awan hanya tersenyum mencibir dan memberikan jempol terbaik kearah wajah Haikal.


"Hajar.!


"Pukul Bos Haikal......! Bob Hidayat memberi dukungan kepada bos preman itu.


"Diam kau........... Bentak Awan.!! Setelah ku menghabisi lelaki Iblis ini. Nanti loe dapat giliran." Ucap Awan.


"Hei bocah tengik berani berani nya kau membentak ku." Geram Bob melaju melangkah. Tapi di tahan oleh Haikal.


"Pak. Bob serahkan kepada saya urusan kecil ini. Menahan Bob Hidayat untuk maju. Bagaimana pun Haikal penasaran dengan sosok pemuda yang konon katanya pemuda di hadapannya itu yang menghajar habis habisan anak buah nya.


"Baiklah bos. Ucap Bob Hidayat dan Haikal menatap kearah Agus Ferdiansyah lalu Tuan Besar itu mengangguk seraya tangannya Ia naikkan ke atas lalu memberi kode untuk di bunuh.


Pertarungan pun di mulai antara pemuda berusia 15 tahun melawan lelaki dewasa usia 40 tahun di malam itu. Excel. Hendra dan Hendri hanya menatap. Begitu juga dengan Agus Ferdiansyah membiarkan saja dua orang itu berkelahi. Karna bagi Agus. Haikal akan dengan mudah nya menghabisi orang yang di bawa oleh Excel.


Sementara di luar juga tak kalah heboh anak buah bos preman dan anak buah Agus Ferdiansyah menonton dari arah jendela dan pintu utama pertarungan dua lelaki yang berbeda usia itu.


Perkelahian antara Awan dan Haikal di ruangan tengah villa yang luas itu. Terpantau oleh Asep Sunandar dan Iyus Saputra. Segera Iyus pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Robi dan di teruskan oleh nya kepada murid-murid Aden Haruman untuk segera menyerang anak buah Agus Ferdiansyah dan Bos Preman itu yang ada di halaman Vila.


"Tuan Robi sebaiknya kita bergerak sekarang. Bos Awan sedang melawan dengan seorang lelaki yang di bayar oleh Bob Hidayat." Pesan Chat di kirim oleh Iyus Saputra kepada Asisten Tuan Besar.

__ADS_1


"Siap........... Balasan dari Robi singkat.


Bersambung.


__ADS_2