Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Awan menjadi target Pembunuhan Preman Bayaran


__ADS_3

Siang telah berganti dengan sore. Di perumahan Elit Leles Residance seorang pemuda yang sedang tertidur lelap di kamarnya setelah melaksanakan ibadah solat duhur di siang itu. Begitu juga dengan dua pemuda lainnya yang berada di kamar tamu. Sementara Hendra dan Hendri sedang pulas tertidur di salah satu Ruko tempat penyimpanan barang di kota kecil itu.


Setelah cukup dengan tidur di siang hari itu. Pemuda tengil tampan rupawan pun bangun ketika suara adzan ashar berkumandang. Ia meregang kan otot otot nya dan langsung bangun beranjak pergi ke kamar mandinya.


Begitu pun sama dengan dua pemuda yang tidur di kamar tamu. Mereka berdua terbangun bukan dari suara adzan berkumandang tetapi terbangun karna suara anak kecil yang menangis. Karna di usili oleh kakaknya.


Tak lama setelah itu. Pemuda itu pun keluar dari kamarnya setelah menjalani aktivitas di sore hari, dengan membersihkan seluruh badannya dan melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim yang taat.


"Ceklek.............. Pintu kamar terbuka. Ia berjalan kearah meja makan karna rasa laparnya menyerang.


"Bu Ida............... Apakah kedua teman ku sudah bangun.?" Tanya Awan setelah duduk di kursi meja makan.


"Sudah Nak......... Nak Iyus baru saja beres dari kamar mandi kemungkinan dia sedang melaksanakan sholat." Jawab Pembantu nya itu.


"Kalau Asep Sunandar.?" Tanya Awan sesekali melihat kearah makanan yang menggoda lidahnya.


Belum juga di Jawab pemuda itu keluar dari kamar tamunya dan ikut bergabung di kursi meja.


"Nak Asep panjang umur." Kata Bu Ida.


"Amiin....... Ucap Asep Sunandar dengan senyuman kecil.


"Sep........ Iyus mana.?" Tanya Awan. Sebentar lagi dia keluar. Bos." Jawab Asep.


"Ohk...... Yaa sudah......... Kitu tunggu dulu Iyus. Baru kita makan." Ucap Awan.


Tak lama, Iyus pun datang dan ikut bergabung bersama Awan dan Asep Sunandar.


"Bu Ida ajak anak anak untuk makan bersama." Titah Awan.


"Iya........ Nak sebentar. Ibu panggilkan dulu mereka. Nak Awan sama yang lainnya duluan saja." Ucapnya.


"Ok....... Ayo Sep. Iyus kita makan. Perut ku dari tadi sudah bernyanyi melulu." Kata Awan.


"Silahkan bos.

__ADS_1


Ketika mereka bertiga sedang menyantap makanan di sore hari itu. Tiba tiba suara bel rumah berbunyi.


"Ting Tong..........!!


"Ting Tong..........!!


Awan pun langsung beranjak tapi di cegah oleh Bu Ida yang datang dari dapur.


"Nak Awan biar Ibu saja yang membukakan pintu rumahnya. Lanjutkan saja makan nya." Ucap Ida lalu berjalan kearah pintu utama. Sementara Awan mengangguk dan melanjutkan lagi makan bersama kedua anak buahnya.


"Ceklek............ Pintu terbuka......... Bu Ida tersenyum melihat seorang wanita setengah tua dan seorang gadis cantik yang bertamu di rumah majikan nya.


"Bu Dewi. Nak Amel. Silahkan masuk. Nak Awan bersama kedua temannya sedang berada di meja makan." Ucap Bu Ida pembantu yang di bawa oleh mereka.


"Terima Kasih Ida.......... Ucap Dewi langsung berjalan masuk menuju ruangan makan di ikuti oleh anaknya. Bu Ida pun menutup kembali pintu rumah nya.


"Anakku Nak Awan. Asep dan Iyus. " Tegur Wanita setengah tua dari Arah belakang.


"Mereka bertiga sontak menoleh bersamaan dan Awan pun tersenyum seraya berkata. Bu Dewi ayo kita makan bareng.


"Iyaa...... Bu silahkan Awan sebentar lagi beres kok makan nya." Ucap Awan. Bu Dewi pun mengangguk langsung berjalan ke ruangan tamu. Dia tidak mau mengganggu makan mereka bertiga.


#############


Sore itu di kaki bukit gunung gong gong setelah urusan Engkos Kosasih selesai membantu Mbah Tukiyem dan warga lainnya menguburkan jenazah suaminya Lara yang di bunuh oleh preman' bayaran itu. Lelaki beristrikan Titin Kharisma pun undur diri akan kembali ke rumah nya yang ada di kampung Babakan Situ.


"Mbah Tukiyem.......... Saya undur diri akan kembali pulang menuju ke rumahku. Bila Mbah Tukiyem butuh sesuatu tinggal telepon ke saya." Ucap Engkos Kosasih menjilat. Padahal dalam hatinya Ia akan pergi menuju gudang penyimpanan ayam kampung dan memperkosa anaknya yang sudah di bawa oleh para preman yang dia bayar.


"Cah Bagus....... Terima Kasih banyak atas bantuan moral dan materi nya. Hati hati di jalan. Nanti Mbah kalau membutuhkan sesuatu pasti akan menelepon mu." Ucap Tukiyem dengan ramah dan tersenyum.


"Sama sama Mbah....... Kalau begitu. Engkos pamit." Ucap nya lalu mencium tangan wanita paruh baya itu.


"Hati hati Cah Bagus." Ucapnya melepas kepergian murid dari suaminya itu.


Setelah Engkos berpamitan kepada Mbah Tukiyem. Ia pun langsung berjalan kearah mobil Xenia yang tak jauh di parkir di gubuk bambu rumah yang menjadi saksi malam keji itu. Para preman menghabisi menantu nya dan membawa kabur anak dukun sakti tersebut.

__ADS_1


Satu unit mobil Xenia berwarna silver pun kini bergerak dari jalanan yang belum teraspal meninggalkan gubug reot menuju gudang tempat penyimpanan ayam ayam kampung milik lelaki berusia 40 tahun tersebut.


Dalam perjalanan Engkos Kosasih tersenyum dan tertawa terbahak bahak karna sebentar lagi dia akan merasakan kue apem legit milik anak dukun sakti yang dia selalu di minta tolong oleh nya.


"Kabar terakhir ia dapatkan dari ketua preman yang sudah menjadi anak buahnya. Bahwa wanita beranak satu itu dalam keadaan tali di ikat dan mulut di tutup lakban.


Setelah memasuki jalan utama Sindang Barang Cibinong tanggeung. Engkos Kosasih pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelepon para preman itu, sekaligus untuk memberikan wanita itu agar mau makan dengan di campurkan serbuk yang sudah dia beli dari toko obat dan malam itu di berikan kepada ketua preman itu.


"Tut................!!


"Tut................!!


"Tut...............!!


"Halo bos. Saya masih di sini situasi aman dan kondusif." Kata Ketua preman itu menjawab panggilan telepon masuk dari Engkos Kosasih.


"Rantai Bumi. Apakah wanita itu sudah di berikan makan.?" Tanya Engkos Kosasih.


"Sudah bos......!! Tadi siang kalau untuk sore ini belum." Jawab Rantai Bumi di sebrang telepon.


"Sebaiknya dia kasih makan saat ini juga. Aku tidak mau di saat wanita itu melayani ku dia dalam keadaan lemas. Sekalian serbuk obat perangsang di campurkan dalam makanan nya atau pun minuman nya." Titah Engkos Kosasih.


"Siap Bos perintah dari anda akan saya laksanakan saat ini juga." Ucap Rantai Bumi.


"Bagus.......... Ada tugas satu lagi dan bayarannya dua kali lipat bila kau berhasil membunuhnya." Ucap Engkos. Membuat Rantai Bumi tersenyum.


"Siapa yang harus saya bunuh bos.?" Tanya Rantai Bumi.


"Seorang pemuda berusia 15 tahun. Dia tinggal di kampung Situhiang yang tak jauh dari rumah saya. Apakah kau sanggup dengan tugas yang saya berikan.?" Tanya Engkos Kosasih.


Tak butuh lama jawaban pun langsung di terima oleh Engkos Kosasih dengan sangat mantap terdengar di telinga nya.


"Dengan Senang hati bos.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2