Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Kesepakatan Bedul dengan Boyen dan Jujun Junaedi


__ADS_3

"Pak kopi hitam dua. Jangan di kucek ya kopi nya." Pinta lelaki berusia 24 tahun setelah duduk di kursi panjang bersama sahabat nya dan lelaki yang di intai oleh mereka berdua.


"Siap, tunggu sebentar Aden." Pinta pemilik warung seraya menggunting kopi yang di pajang warung tersebut.


"Mangga Pak.!


"Pak Bedul tidak ngopi..... Santai aja Pak tak usah tegang begitu." Kata Boyen melihat exfresi wajahnya yang sangat tegang.


"Ehk.. Iya... Anu... Kopi hitam aja." Jawab Bedul terbata bata.


Boyen dan Juna tersenyum, melihat exfresi nya. "Pak kopi hitam nya satu lagi buat teman saya." Kata Boyen kepada pedagang warung itu, lalu pedagang itu pun mengangguk.


Tak lama beberapa menit kopi pun sudah di suguhkan oleh pemilik warung dan mereka bertiga pun duduk di samping warung yang hanya berjarak 200 meteran dari warung tersebut. Sebelum nya sudah meminta ijin kepada pemilik warung.


Sesaat terdiam sejenak. Masing masing menyeruput kopi yang ada di hadapannya sambil mencapit dengan dua jari nya rokok yang akan di hisap.


"Pak Bedul kami meminta anda menjadi mata dan telinga dalam barisan majikan saya." Kata Juna memulai obrolan nya.


"Maksud anda.?" Tanya Bedul tak mengerti atau pura pura bodoh.


"Sama hal nya dengan posisi anda menyelidiki posisi majikan saya dan memberikan informasi kepada Nona Sulastri untuk di jadikan target dan di bunuh." Kata Juna mata nya sorot tajam kearah Bedul.


"Pak Bedul, perlu anda tahu, kau bersama orang orang mu yang ada di markas para preman tempat mu sekarang singgah bersama Bedil adik seperguruan mu, sudah berada dalam genggaman anak buah majikan saya, tinggal meng-klik tombol panggilan telepon kepada pihak kepolisian, maka saya jamin anda bersama yang lainnya sudah bisa tertangkap dan masuk kedalam jeruji besi." Terang Juna.


Bedul hanya berdiam bisu mendengarkan penuturan dari Juna tampak baju nya terlihat basah karna keringat yang bercucuran di seluruh tubuh nya.. Bukan tak berani melawan mereka berdua, tapi kartu As nya ada dalam genggaman pihak lawan.

__ADS_1


"Seandainya Pak Bedul mau bekerja sama dengan kita kita, saya jamin dengan kepala kamu berdua, Pak Bedul dan Bedil serta Nona Sulastri bisa selamat dan kasus kasus yang menimpa orang yang anda cintai akan di hapus." Kata Juna memberi angin surga kepada Bedul.


Sekilas mata nya menatap ke arah Juna dan Boyen, tatapan yang di berikan oleh Bedul seketika di balas oleh mereka berdua dengan senyuman manis dan anggukan kepala.


"Apakah ucapan anda berdua bisa saya pegang dan di percaya.?" Tanya Bedul.


"Harus apa kita berdua agar Pak Bedul mempercayai kata kata yang sudah di utarakan kepada anda.?" Tanya balik Juna, membuat Bedul mati kutu tak bisa menjawab nya.


Kini posisi Bedul dalam keadaan terjepit.. Maju kena mundur pun kena....." Mau melawan dengan cara apa, sementara keselamatan Sulastri itu lebih baik dari pada melawan nya.


"Baiklah.... Saya akan percaya kepada anda berdua, dengan jaminan Nona Sulastri tidak terjadi apa apa." Jawab Bedul dengan kepasrahan diri.


"Itu lebih baik..." Timpal Boyen!


"Jadi apa yang harus saya lakukan saat ini.?" Tanya Bedul.


"Pak Bedul..... Untuk saat ini lakukan rencana dari Ayah nya Nona Sulastri.. Mungkin Pak Bedul sendiri mempunyai dendam tersendiri dengan Bob Hidayat kan." Kata Juna...!


"Iya." Balas Bedul mengangguk!


"Setelah anda selesai di sini dengan urusan pribadi! Pak Bedul seperti biasa masuk dalam barisan para preman Kang Dayat penguasa pasar induk dan pasar pasar lainnya, semua rencana yang ada dalam pertemuan mereka segera informasikan kepada saya atau Boyen." Terang Juna.


"Apakah anda mengerti Pak Bedul dengan permintaan kita berdua.?" Tanya Juna, melihat lelaki itu berpikir lama hingga terdiam.


"Baiklah... Saya mengerti dan menuruti kemauan anda berdua. Akan tetapi saya meminta anda berdua menepati janji yang terucap barusan." Kata Bedul.

__ADS_1


"Anda tenang saja Pak Bedul... Kami murid dari Kiayi Mangku Bumi tak akan menarik ucapan yang sudah keluar dari mulut kita berdua." Jawab Juna dan di anggukan oleh Boyen.


##########


Sementara di kediaman Aden Haruman yang berada di daerah puncak Bogor masih tampak serius empat orang yang ada di ruangan tengah mendengarkan obrolan dari lelaki paruh baya itu.


Lara dan Nabil tersentak kaget saat mendengar isi hati nya di tebak oleh Aden Haruman, berbeda dengan Asep Sunandar yang telah mengetahui bahwa lelaki paruh baya di hadapannya adalah orang sakti tingkat dewa.


"Abah... Apakah Kak Awan akan baik baik saja.?" Tanya Nabil memberanikan dirinya bertanya kepada guru pemuda yang menjadi perisai dirinya dan ibunya.


"Anakku... Nabil Nur Fadillah... Abah tidak menjamin keaadaan Awan apakah akan baik baik saja atau pun celaka. Itu semua tergantung jalan yang akan di tempuh oleh dirinya.. Abah hanya bisa memberikan pesan pesan untuk dirinya agar setiap langkah kaki nya tidak berbelok arah kepada jalan yang di murkai sang pencipta." Jawab Aden Haruman dengan sorot mata kekhawatiran.


"Tapi sebisa mungkin Abah akan selalu membantu di setiap kesulitan yang di hadapi oleh cucuku ini." Jawab lagi Abah Aden Haruman.


Nabil hanya manggut manggut saja, mendengarkan jawaban dari lelaki paruh baya itu.


"Sudah saat nya Awan berangkat... Kemungkinan sampai di RS sore hari.. Ingat pesan Abah, ambillah keputusan yang bisa menyelesaikan dua belah pihak, jangan mengambil keputusan sepihak... Seandainya kamu sudah memberikan keputusan, tetapi mereka tidak menerima nya, barulah urusannya lain lagi." Abah Aden Haruman mewanti wanti kepada Muhammad Awan Pratama.


"Siap Abah." Kata Awan, lalu bangkit dan memeluk lelaki paruh baya itu dengan erat, seakan akan berat untuk melepaskan nya.


Setelah hampir dua menit lama nya, memeluk Aden Haruman... Lalu Ia memeluk Umi Lilis, begitu juga sama dengan apa yang di lakukan kepada suaminya Aden Haruman.


"Umi... Doa kan Awan ya, agar semua nya cepet selesai dan tidak ada pertumpahan darah dalam perjalanan ku ini." Lirih Awan dengan air mata nya yang menetes begitu saja tanpa di sadari oleh nya.


"Umi akan selalu mendoakan mu Nak... Kamu tenang saja, nanti Umi akan membujuk Abah mu untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang mungkin taruhan nya nyawa kamu sendiri." Bisik Umi Lilis kepada telinga Awan.

__ADS_1


"Terima Kasih Umi... Kalau begitu Awan berangkat dulu." Jawab pemuda itu melepaskan pelukannya.


"Hmmmmmmmm." Anak Jin Kuya." Gumam Aden Haruman mendengar bisikan dari istrinya kepada cucu angkatnya.


__ADS_2