
Empat lelaki yang baru keluar dari mushola yang ada di area kantor pusat Anugrah Awan Sentosa langsung berjalan menuju ruangan Direktur utama perusahaan tersebut.
Setelah sampai di depan pintu ruangan tersebut dan sebelumnya sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.. Empat lelaki tersebut dengan usia hampir sama pun langsung duduk di kursi yang tersedia.
"Nyonya Besar mohon maap mengganggu! Ucap satu dari empat lelaki itu.
"Tidak apa apa Kang Syarif! Ada hal penting apa ingin di sampaikan kepada saya.?" Tanya wanita yang tak lain adalah Bu Dewi.
"Baru saja menerima pesan singkat dari Nona Nabil yang berada di jalan Cempaka Mulya, saya bersama Sutisna untuk segera datang tanpa memberi alasan atau pun ada sesuatu yang akan terjadi." Terang Syarif memberi tahukan.
"Hmmmmmmmmmm!! Ada apa ya.. Bukan kah Nabil bersama majikan kalian sedang menjemput Siti Lara sekaligus bertamu ke rumah nya Orang Tua Tarmin." Terka Bu Dewi...
"Sebaiknya kalian berdua segera berangkat... Nanti saya akan menyusul bersama yang lainnya.... Akang Syarif dan Kang Sutisna setelah sampai di lokasi langsung serlock kirim kepada saya." Titah Dewi.
"Baik Nyonya Besar.! Ucap Sutisna dan Syarif bersamaan.
"Untuk Kang Cecep dan Bahar.. Kalian tidak usah ikut karna harus terus menjadi pengawal bayangan Pipit seperti yang di katakan oleh majikan kalian." Ucap Dewi mengingatkan nya.
"Siap Nyonya Besar.!
Ijin dari Bu Dewi pun sudah mereka terima dan dapatkan. Sutisna dan Akang satu yaitu Syarif langsung beranjak menggunakan motor agar perjalanan nya semakin cepat. Sedangkan Asep Sunandar sudah berangkat terlebih dahulu dari lokasi Cibeber yang hanya berjarak 40 km perjalanan nya dan menempuh satu jam sampai ke lokasi dimana Nona Nabil meminta untuk segera datang.
Dua unit motor cross pun keluar dari kantor pusat Anugrah Awan Sentosa dan langsung menuju jalan utama membelah jalanan di waktu malam yang baru tiba itu.
Kedua motor yang di kendarai oleh Sutisna dan Syarif berjalan dengan kecepatan tinggi meliak liuk di antara para mobil dan motor dimana pada saat itu lalu lintas di pusat kota sedikit padat.
__ADS_1
"Tiin...............!!
"Tiin................!!
Tak henti hentinya mereka berdua menekan klakson guna menghalau dan memberi jalan untuk dua pengendara itu bisa melenggang jalanan agar para pengendara mobil atau pun motor di hadapan nya agar mau memberi nya jalan.
"Arhhhhhhhhh... " Breemmmm....... "Breemmmm....." Erang Kang Syarif sambil menarik narik pedal gas di stang motor nya.. Lalu ia membanting kemudi setang nya untuk berjalan di trotoar.
Ocehan dan teriakan orang orang yang ada di pinggir jalan ia hiraukan.. Yang penting kedua nya bisa keluar dari lalu lintas yang padat itu hingga kedua majikannya tidak menunggu lama kedatangan Syarif dan Sutisna.
"Dasar dua manusia sinting gila dan tak punya otak.." Umpatan pengendara lain melihat dua motor cross yang di kendarai oleh Sutisna dan Syarif menjalankan nya seperti orang yang kesetanan.
Hingga tiba lah mereka berdua di sebuah kawasan yang tampak sepi dan hening malam itu, dengan satu mobil Toyota Agya memblokir jalan dan beberapa orang berkerumun mengililingi dua wanita dan satu pemuda. Bahkan Syarif dan Sutisna pun melihat orang orang yang membuat lingkaran tersebut memegang Tonfa untuk di jadikan alat untuk memukul.
Namun yang membuat mereka berdua geram tampak ketiga orang yang di kepung itu tak lain adalah majikannya, hingga Syarif dan Sutisna pun menginjak rem dengan cepat tepat di hadapan mereka.
Dengan cepat Syarif dan Sutisna langsung turun dari motornya membiarkan motor nya terjatuh dalam aspal tanpa di standar kan terlebih dahulu.
BEDEBAH KALIAN SEMUA HAH!! "Teriak Syarif dan Sutisna bersamaan. Mereka berdua siap untuk melawan para pengepung itu.
"Hahahaha...!
"Hahahaha....!
"Hahahaha.....!
__ADS_1
"Sudah aku duga dan aku sangka bahwa pemuda dan gadis buruan kita tidak mungkin mereka keluar tanpa ada pengawalan sama sekali." Tawa lepas dengan suara yang keluar dari dalam mobil Toyota Yaris tanpa di sadari oleh Sutisna dan Syarif saat itu.
"Sial........ Kita terjebak oleh mereka.. Pantas Tuan Muda dan teh Siti Lara hanya diam tak melawan mereka, di karenakan pihak musuh memegang kendali dengan menyandera anak nya Lara dan Ibu nya dalam genggaman Bob Hidayat.
Kenapa bisa dengan mudahnya anak Siti Lara dan Ibu nya dalam genggaman mereka. Tarmin dan Asep Sunandar yang terlebih dahulu datang ke tempat itu dimana. Apakah mereka berdua sedang bersembunyi untuk tidak gegabah dalam melakukan tindakan penyelamatan majikannya yang jelas jelas tidak berkutik sama sekali dalam kepungan orang orang kang Dayat yang di bawa oleh mereka masing masing.
Seorang lelaki dengan gaya rambut di belah dua dengan menggendong bocah kecil berusia dua tahun itu keluar dari mobil majikan nya bersama dengan wanita yang tampak anggun dengan menyeret paksa wanita paruh baya itu menghampiri Sutisna dan Syarif yang siap melancarkan pukulannya ke arah para anak buahnya.
"Hahahahahahahah...... Kalian mau menyelamatkan majikan kalian hah.. Selangkah kau bergerak anak ini sudah tak bernyawa." Ancam Bob Hidayat.
Akang satu dan Sutisna bener bener tak bisa berkutik saat ini... Ke tujuh temannya yang di tugaskan oleh Tuan Muda Awan kemana..! Hati mereka berdua bergelut dalam kebingungan.
"Holik dan Dika..... Seret dua lelaki itu dan langsung ikat masukan kedalam mobil bersama pemuda dan gadis yang menjadi buruan kita... Ayo kita bawa ke Vila dan di serahkan kepada Tuan Muda Firmansyah." Titah Bob Hidayat.
Dengan senang hati Brother Bob Hidayat." Kata Holik Simatupang dan anggukan kepala Dika yang sedang memegang Tonfa besar.
Awan bener bener tidak bisa berbuat apa apa! Begitu juga dengan Lara yang yang sedang melindungi Nabil yang sedari tadi bersembunyi di belakang baju nya.
"Tuan Bob Hidayat.. Lepaskan mereka semua.. Tujuan anda dan para pengawal anda adalah saya dan Nona Muda Nabil Nur Fadillah." Pinta Awan dengan exfresi memelas.. Keselamatan anak dan ibu Teh Lara itu lebih penting dari pada nyawa nya sendiri.
"Hahahahaha.... Cuih...... Semua orang yang telah hadir di sini tidak akan mudah lepas begitu saja." Tawa lepas Bob Hidayat di sertai perkataan dengan nada mengancam.
"Tapi Tuan Bob... Mereka tidak ada kaitannya dengan saya dan Nona Nabil.." Kata Awan........... Ia mencoba untuk bernegosiasi.
Wanita di samping Bob Hidayat yang mempunyai dendam kesumat kepada Muhammad Awan Pratama yang telah menghabisi suami nya malam itu di Vila bukit Gunung batu. Langsung menghampiri nya dan............
__ADS_1
Bersambung.