Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Rahasia besar di kehidupan Azzahra


__ADS_3

Setelah Preman pasar yang biasa di sebut Dayat itu pergi meninggalkan wanita pengemis yang di pukuli oleh nya. Karna memandang anak yang biasa berjualan kantong plastik dan menjadi kuli panggul di pasar induk kota kecil Jawa Barat.


"Ibu. Tidak apa apa, mana yang sakit. Sebaiknya kita pergi ke dokter.?" Ajak Awan. seraya membangun kan wanita setengah Tua yang sudah babak belur itu.


Pengemis tua itu tak menjawab tapi dia tidak menolak ketika Awan membantu untuk bangun.


Karna tidak ada jawaban dari wanita yang sehari harinya suka meminta minta belas kasihan orang bersama anak nya, Awan pun lalu memapahnya dan membawa ke puskesmas yang kebetulan tidak jauh dari ruko yang ia tuju.


Dengan jalan tertatih tatih menahan rasa sakit akibat pukulan dan sepakan preman itu, Azzahra dan kedua anak berbeda jenis kelamin itu kini tiba di puskesmas kota kecil dan langsung menuju ke ruangan perawatan.


Di saat Azzahra sedang di periksa oleh salah satu dokter puskesmas itu. Awan berkata kepada anaknya wanita itu.


"Nenk........ Kamu jaga ibu mu di sini. Kakak mau ke bagian administrasi untuk membayar biaya pengobatan ini dan jangan kemana mana, sebelum kakak' kembali." Kata Awan mengingat kan nya.


Anak kecil yang di panggil oleh Awan dengan sebutan Nenk, karna tidak mengetahui namanya hanya mengangguk.


Awan bergegas melangkah menuju bagian administrasi. Setelah beres membayar biaya pengobatan. Ia lalu pergi meninggalkan puskesmas itu untuk ke ruko yang di perintahkan oleh Pak Ibrahim membeli barang barang yang sudah habis.


Setelah Tiga jam lama nya aktivitas pemuda yang berusia masih cukup belia tetapi memiliki pemikiran yang sangat dewasa dan tidak terlihat oleh semua orang seperti anak kecil itu selesai dan berpamitan kepada Pak Ibrahim, kini Awan telah berada di puskesmas itu.


"Bu. Bagaimana keaadaan nya.?" Apakah sudah di bolehkan pulang oleh dokter.?" Tanya Awan setelah sampai di hadapan dua wanita yang sudah duduk di kursi ruang tunggu yang ada di halaman luar puskesmas itu.


Azzahra Masika Fatharani seketika bersujud di hadapan anak seumuran dengan Nabil anaknya itu, tapi buru buru Awan dengan sigap mencegahnya.


"Nak Awan........ Terima kasih banyak. Terimakasih. " Lirih nya dengan air mata yang mengalir dari mata indah wanita beranak satu itu.


"Sudah...... Bu tak usah berterima kasih segala, sudah kewajiban sesama mahluk hidup saling tolong menolong. Sebaiknya ibu beristirahat sementara waktu di rumah kontrakan yang baru di sewa olehku." Ajak Awan kepada wanita itu.

__ADS_1


"Azzahra Masika Fatharani dan Nabil Nur Fadillah mengangguk. Lalu Awan pun memapah nya untuk berjalan menuju mobil angkutan umum. Yang akan membawanya ke rumah kontrakan milik juragan batako yang memerlukan waktu kurang lebih tiga puluh menit dari pusat kota kecil tempat Awan di lahirkan.


Singkat cerita mereka sudah sampai di kontrakan yang tak jauh dari rumahnya pemuda itu, setelah mereka masuk dan sebelumnya Awan membeli tiga nasi bungkus untuk di makan bersama mereka bertiga di kontrakan rumah kecil tersebut.


Azzahra lalu menceritakan kisah hidupnya kenapa sampai tiba di kota kecil itu, ketika Awan meminta kartu tanda penduduk untuk di laporkan kepada pihak RT setempat.


Muhammad Awan Pratama, teriris hatinya setelah mendengar penjelasan dan penuturan yang memperkenalkan dirinya bernama Azzahra Masika Fatharani dan meminta untuk memanggil dengan sebutan Zahra saja, bila orang lain' bertanya tentang dirinya dan anaknya jangan sampai terekspos nama dan identitas dirinya.


Anak kecil yang menolong Azzahra pun mengerti dan berjanji akan merahasiakan semua cerita kisah kehidupan Azzahra dan anaknya.


"Bu Zahra. Untuk kedepannya menjalani kehidupan Ibu dan anak nya. Nabil Nur Fadillah, bagaimana kalau berjualan kecil kecillan ke kampung kampung berjualan gorengan." Saran Awan, untuk bertahan hidup sementara waktu.


"Terima Kasih Nak. Saran yang kamu berikan, Ibu terima dengan sangat baik, tetapi modal dari mana untuk memulai jualan gorengan gorengan ke kampung kampung." Jawab Azzahra.


"Bu Zahra. Tidak usah khawatir. Itu sudah Awan pikirkan. Ibu tinggal menjalani dan berjualan saja.


"Tidak usah berlebihan Bu. Aku hanya menolong saja, sesama insan yang bernapas. Mudah mudahan ibu dan Nabil Nur Fadillah tidak kembali lagi ke pekerjaan yang lama dengan meminta minta belas kasihan dari orang lain." Kata Awan menasehati nya. Azzahra dan Nabil mengangguk.


"Insyaallah Ibu berjanji Nak. Tak akan mengemis lagi.!!


Hari demi Hari, Azzahra Masika Fatharani dan anaknya menjalani kehidupan baru dengan di bantu oleh seorang anak yang berusia sebelas tahun dan masih sekolah dasar. Sesulit apapun mereka jalani agar tidak kembali lagi ke pekerjaan yang mengemis di pasar atau pun meminta minta di jalanan.


Dua tahun kemudian kini kehidupan mereka berdua sudah merasa ada kemajuan, terlihat di rumah kontrakan tampak barang barang berupa lemari dan televisi serta alat alat dapur sudah di miliki oleh wanita beranak satu.


Atas permintaan dari Awan, Nabil pun kini sudah bersekolah SMP. Anaknya Azzahra Masika Fatharani bisa sekolah atas bantuan dari Bu Dewi.


Malam itu seorang pemuda baru saja pulang dari pasar dan langsung menuju rumah kontrakan Azzahra Masika Fatharani, karna ada sesuatu yang harus di obrolkan kepada wanita beranak satu itu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah kontrakan itu, pemuda itu langsung masuk dengan mengucapkan salam, walaupun pintu rumah kontrakan itu terbuka.


"Assalamualaikum.!! Ucap pemuda itu yang berdiri di depan pintu. Sementara Nabil sedang tiduran telungkup tangan memegang pensil dan di hadapannya buku.


Gadis seusianya pemuda itu menoleh dan menjawab salam dari seorang yang dia kenal.


"WaallAikum Salam. Kak Awan. Masuk.!!


"Bil...... Bunda mana.?" Tanya Awan duduk di samping gadis itu.


"Bunda. Baru saja keluar. Mau ke warung grosir untuk membeli barang barang buat jualan besok." Jawab Nabil.


Awan mengangguk.!


Kak. Mau kopi atau air biasa.?" Tanya Nabil.


"Kalau ada mah pengen kopi saja." Jawab Pemuda itu melihat kearah buku yang sedang belajar gadis itu.


"Ada........ Kopi luwak kesukaan kakak. Nabil bikinkan dulu." Ucap Nabil lalu beranjak pergi ke dapur.


Tak lama kemudian setelah kopi tersedia, Azzahra pun sudah kembali dari warung nya dan duduk di samping pemuda yang sudah dia anggap anak kandungnya sendiri dan berkat bantuan dari pemuda itu. Kehidupan nya semakin baik.


Kedatangan. Muhammad Awan Pratama berkunjung ke kontrakan yang di tempati oleh Azzahra dan anaknya, untuk memberitahu kan mulai di Minggu depan untuk berhenti jualan secara berkeliling ke kampung kampung.


Pemuda itu sudah mengontrak kios yang ada di samping kontrakan. Untuk Azzahra agar mau berjualan di kios nya itu dan berhenti jualan keliling.


Setelah wanita itu menyambut baik tawaran dari pemuda itu, Awan pun langsung pamit karna waktu semakin larut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2