Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Lokasi Berubah


__ADS_3

Puluhan lelaki berpakaian ala preman tampak berada di sekitar tukang cincau. Mereka sengaja di tugaskan oleh Engkos Kosasih yang kali ini buronan nya tidak mau kecolongan.


Tepat ketika para anak buah Engkos Kosasih berada di lingkungan para pedagang cincau itu. Di sana juga ada anak buah Irsyad Maulana yang menyamar dan berjaga jaga di sekitar kawasan tersebut secara sembunyi sembunyi.


"Cek....!! "Cek.....!! "Cek.....!!


"Mochi satu masuk......


"Mochi satu siaga.......!


"Awasi traffic light mobil Marcedez Benz sudah meluncur dari perumahan Elit Leles Residance menuju lokasi tersebut.


"Di copy, komandan.!!


"Mochi dua!!


"Mochi dua siaga.!!


"Awasi sekitar jembatan Citarum dan beberapa pedagang cincau.!!


"Di copy.!!


"Jangan biarkan tikus tikus got bergabung dengan tikus tikus lain segera atur posisi kalian masing masing.


Begitu mendapatkan perintah. Satu persatu dari mereka mulai berpencar menempati posisi yang sudah di tetapkan.


"Komandan masuk.!!


"Bagaimana.!! Apakah korban sudah sampai.!!


"Saat ini korban sudah sampai di parapatan jalan tunturunan tampak tiga motor mencurigakan bergerak dari pangkalan dan membuntuti mobil korban.


"Kalian ikuti. Atur jarak jangan sampai mencurigakan, bila kita ketahuan rencana akan kacau dan para sandera bisa terbunuh.


"Siap.!!


Memang saat itu, Awan yang sedang mengemudi Mobil kesayangan nya, membawa Nabil dan Bu Dewi atas permintaan dari Titin Kharisma baru sampai di jalan raya tunturunan. Awan pun menyadari bahwa ada tiga motor yang mengikuti dari arah belakang ketika melewati jembatan Cisokan yang tak jauh dari pusat pasar Ciranjang Cianjur.


Sepanjang perjalanan mereka bertiga diam membisu tak ada keluar suara sekecil pun. Bu Dewi pokus dalam pikirannya memikirkan keselamatan anaknya dan para pegawainya... Nabil sendiri hatinya gelisah pikirannya tak tau arah yang ada dalam benaknya malam ini adalah malam terakhir.


Berbeda dengan pengemudi mobil itu, dia santai rileks tak terlihat raut ketakutan dan kecemasan dalam menghadapi bahaya yang mungkin beberapa jam lagi akan terjadi.

__ADS_1


Kini mobil yang di bawa oleh Awan berbelok ke arah pom bensin cipeyem jalan raya Bandung. Benar dugaan pemuda itu ketiga motor pun berhenti di depan pom bensin dan memperhatikan mobil korban yang sedang mengisi bensin.


"Hmmmmmmmmm''. Bener dugaan ku ketiga motor itu membuntuti kita." Gumam Awan. Hal itu membuat Bu Dewi dan Nabil tersentak kaget dari lamunannya.


"Mana Nak. Motor yang membuntuti kita.?" Tanya Bu Dewi.


"Itu di depan jalan." Tunjuk Awan ke depan jalan.!!


Bu Dewi pun langsung menatap kearah telunjuk jari dari majikannya... Mungkin kah anak buah Pak Subadra.! Tebak Bu Dewi.


"Bukan Bu. Itu preman anak buah dari Engkos Kosasih." Jawab Awan lalu menginjak pedal gas nya dan mobil pun langsung berjalan kembali setelah bensin terisi.


Ketika mobil mewah Marcedez Benz sudah menyebrang dari pom bensin. Awan pun langsung memecut laju kendaraan nya menuju jalan perbatasan dua kabupaten itu.


Awan mulai menyadari ketiga motor itu pun mulai menarik keras gas motor nya untuk menyalip di jalan yang sepi untuk memberhentikan nya, entah apa rencana yang akan di lakukan oleh Titin Kharisma.!!


Mau tak mau setelah ketiga motor itu menyalip mobil yang di bawa oleh Awan dan melambaikan tangan nya untuk menepi. Awan pun menuruti nya..!!


"Mochi satu masuk.!!


"Mochi satu masuk komandan.!!


"Di terima... Terus pantau.!! Jangan lengah.!!


"Baik komandan.!!


"Bu Dewi....... Nabil...... Sebaiknya kalian berdua tetap di dalam mobil.' Titah Awan ketika mobilnya sudah menepi.


Nabil dan Bu Dewi hanya mengangguk dengan badan gemetaran.!!


Ketiga pengemudi motor yang menyalip paksa itu pun langsung menghampiri mobil tersebut. Awan sendiri pun keluar dari mobil nya.


"Anak Muda... Sebaiknya ikuti jalan kami. Karna lokasi nya berubah." Pinta dari ketiga pengemudi motor tersebut.


"Baiklah... Tolong tunjukkan jalan nya kepada saya." Kata Awan tak berani menentang permintaan mereka, walau bagaimana pun keselamatan para sandera yang pertama.


Silahkan naik ke motor saya untuk di bonceng bersama kedua orang yang ada di dalam mobil." Kata lelaki bermuka hitam itu sang preman yang menguasai kawasan daerah itu.


"Mochi dua masuk.!!


"Mochi dua masuk bagaimana perkembangan korban yang ada dalam pantauan.

__ADS_1


"Terpantau masih terlihat mengobrol. Komandan.!!


"Jangan lengah segera beritahu bila terjadi sesuatu.


"Baik komandan.!!


Awan pun langsung melangkah menuju mobil dan memberitahu kan kepada Bu Dewi dan Nabil atas permintaan dari ketiga pengemudi motor yang mengikuti nya. Tebakan Awan memang benar bahwa mereka anak buahnya Titin Kharisma.!!


"Bu......!! Nabil ayo kita turun... Lokasi telah di ganti oleh Titin Kharisma... Jangan banyak bicara sebaiknya kita mengikuti mereka." Pinta Awan. Hingga kedua wanita berbeda usia pun Nabil dan Bu Dewi pun mengikuti nya.


Mereka bertiga langsung naik ke sebuah motor di bonceng satu persatu dan bergerak meninggalkan mobil Marcedez Benz milik pemuda yang menjadi target Titin Kharisma dan suaminya.!!


"Komandan masuk.!!


"Jalan cihea mengarah ke bukit lembah pasagi.!!


"Di copy...!!


Irsyad Maulana yang sedang memantau bersama Iyus Saputra segera bergerak menuju bukit lembah pasagi atas informasi yang di dapat oleh mochi dua. Sementara anggota yang sedang berjaga di perbatasan Citarum berbaur dengan para pedagang cincau memantau pergerakan anak buah Engkos Kosasih yang ada di tempat tersebut.


"Kang Iyus ayo kita berangkat... Tuan Muda Awan di bawa oleh ketiga motor yang mengikuti menuju jalan pintas.. Sebaiknya kita berdua sudah berada di posisi para sandera." Ajak Irsyad.


"Siap Tuan. Sebaiknya kita menggunakan sepeda motor menuju jalan setapak." Saran Iyus Saputra.!!


"Baiklah.!! Mereka berdua mulai turun dari mobilnya dan langsung melangkah menuju motor yang terparkir di rest area Citarum.


******


Jalan menuju lembah pasagi yang ada di pinggiran dua kabupaten. Awan yang posisi nya sedang di bonceng oleh anak buah Engkos Kosasih berpikir keras, karna lokasi penjemputan nya berubah. Dia tidak bisa menghubungi Iyus Saputra atau pun Lara dan para pengawal bayangan nya.


"Apakah rencananya sudah terendus oleh Titin Kharisma hingga titik penjemputan berubah seketika mungkin." Ucap Awan dalam hati bertanya tanya.


"Bukan kah ini jalan menuju rumah Abah Kusuma. Ayah nya Asep Sunandar.!! Ia tak asing lagi dengan jalanan yang penuh dengan lobang lobang dan terjal.


"Ia berpikir keras.!! Memikirkan bagaimana cara nya agar bisa menghubungi Iyus dan lainnya.


"Kang kalau ada warung yang masih buka berhenti lah sejenak. Aku ingin membeli tolak angin karna masuk angin.." Kata Awan dalam boncengan motor preman itu.


"Hei bocah tengik..!! Nyawa sebentar lagi juga jangan banyak permintaannya." Sergah preman yang membonceng Awan malam itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2