
Rapat pun telah usai sebagian orang telah meninggalkan ruangan rapat malam itu kembali ke rumah nya masing masing atau pun pergi ke kafe untuk meluangkan waktu malam dengan bersantai ria di bawah sinar rembulan malam Kamis.
Kini di dalam ruangan hanya ada. Sepuluh Murid Mama Sepuh dan Sutisna serta Asep Sunandar dan Muhammad Awan Pratama.. Mereka tidak langsung pulang karna ada pembahasan di antara mereka di luar pembahasan perusahaan.
"Akang Syarif dan Cecep, serta Bahar... Untuk sementara jaga keselamatan Bu Pipit yang menjadi target dari Bob Hidayat beserta beberapa orang orang yang sudah di diskusikan malam Minggu kemarin... Sementara ke tujuh murid Mama Sepuh terus pantau pergerakan dari Bob Hidayat dan kawan kawan nya, kemungkinan dendam lama sudah berada di kota ini." Terang Awan. Hal itu membuat Asep Sunandar tersentak kaget.
"Maksud anda... Tuan Muda.!!
Asep bertanya dengan keterkejutan nya.!
"Kang Asep tahu kan tragedi di vila kaki bukit gunung batu dini hari itu ketika menyelamatkan Nyonya Agista dari penculikan yang dilakukan oleh Agus Ferdiansyah dengan di bantu oleh Bob Hidayat dan ketua preman yang bernama Haikal." Kata Awan.
"Iyaa.... Masih ingat dan masih ada dalam pikiran dan hatiku... Memang nya kenapa Tuan Muda.?" Tanya Asep Sunandar... Sementara sebelas orang dari Mama Sepuh hanya mendengarkan saja.!
"Haikal sudah mempunyai istri.... Menurut informasi yang saya dapatkan dari orang orang yang saya susupkan dalam interen mereka. Istri Haikal sudah berada di kota ini dan akan membalas dendam terhadap kita kita atas kematian suaminya dan runtuhnya organisasi ilegal yang di pimpin oleh Haikal.... Dengan finansial yang di berikan oleh Firmansyah melalui kaki tangan nya yaitu Bob Hidayat.... Maka istri dari almarhum Haikal menargetkan Bu Pipit untuk di jadikan umpan guna mendatangkan Nabil Nur Fadillah dan saya seorang diri." Kata Awan terdiam sejenak lalu melanjutkan lagi pembicaraan nya.
"Bukan dari Istri Haikal sendiri yang akan menargetkan Bu Pipit. Tapi preman yang memegang beberapa pasar di kota ini juga menargetkan Bu Pipit, karna Bob Hidayat menjanjikan upah yang begitu besar bila bisa menangkap Nabil Nur Fadillah dan diriku...! Mereka mempunyai kunci gembok untuk bisa menangkap Pipit dengan cara membawa kedua anaknya yang berada di rumah Orang Tua Bob Hidayat." Sambung Awan menerangkan semua nya kepada Asep Sunandar dan murid Mama Sepuh.
"Bahaya...... Tuan Muda kalau begitu mah... Sebaiknya kita harus bisa mendapatkan dulu kedua anak dari Bu Pipit." Saran Sutisna..
"Saya juga sempat berpikiran begitu! Tapi akan mencurigakan pihak dari Bob Hidayat bila tiba tiba Bu Pipit meminta kedua anaknya dan di minta untuk di urus oleh dirinya." Jawab Awan.
"Jadi kita hanya bisa menunggu pergerakan mereka terlebih dahulu atau bagaimana Tuan Muda.? Kini Sutisna yang bertanya.
"Kita tunggu seseorang yang sudah saya susupkan dan menjadi mata serta telinga saya dalam internal mereka." Ucap Awan.
__ADS_1
"Asep Jumat temani saya pergi ke Jakarta." Pinta Awan.
"Siap Tuan Muda dengan senang hati." Jawab Asep Sunandar.
"Baiklah pembahasan kita sudah selesai.. Lebih baik kita kembali ke rumah masing.... Ingat Akang Akang yang tadi sudah kita bahas mulai besok mulai bergerak.! Saya tidak mau tahu keselamatan Bu Pipit ada di tangan kalian.' Kata Awan dengan mata yang serius.
"Siap Tuan Muda." Kata mereka serentak!
Awan pun beranjak bangkit dari duduk nya dan langsung berjalan keluar menuju area parkir kantor Anugrah Awan Sentosa di ikuti oleh Sutisna dan Asep serta sepuluh pengawal bayangan nya.
Setelah basa basi sedikit bersama para murid Mama Sepuh dan Asep Sunandar.. Awan pun menghidupkan mobil nya lalu melesat ke arah jalan raya labuan menuju parapatan lampu merah rawa Bango.
Waktu menunjukan pukul 23:00 mobil Marcedez Benz e-class yang di kendarai oleh pemuda tampan nan rupawan itu membelokkan kemudi ke arah kanan menuju kantor kecamatan..
Hanya lima belas menit berselang mobil pun telah berhenti tepat di halaman masjid Jami Al ikhlas. Awan pun langsung turun dan tampak seorang wanita setengah tua dengan senyuman manis menatap kearah anak nya yang baru turun dari mobil nya dan berjalan kearahnya.
"Hehehehe.... Di rumah ada tamu menunggu kedatangan mu." Jawab Lisnawati..
"Siapa Bun.?" Tanya Awan berkerut keningnya.!
"Anaknya Pak Engkos Kosasih." Jawab Lisnawati.
"Hmmmmmmmm.! Yaa sudah ayo kita temui Bun. Lisnawati pun mengangguk.
"Ehk... Nak Nenek kamu juga Hajah Markonah juga ada." Kata Lisnawati.
__ADS_1
"Ohk.... Ayo masuk Bun. Kasihan mereka menunggu Awan." Ucap nya.!
Setelah masuk ke dalam rumah panggung tampak di ruangan tengah yang cukup luas... Dua wanita paruh baya sedang duduk beralaskan karpet merah begitu akrab dalam penglihatan pemuda yang baru masuk itu. Biasa nya kedua wanita paruh baya itu yang bergelar adik kakak itu kalau bertemu selalu ada saja pertengkaran yang terjadi.
Tapi malam ini sungguh berbeda kedua adik kakak tersebut itu tampak begitu bahagia dan baik baik saja di lihat oleh Awan yang baru masuk kedalam rumah.
"Cucuku Awan... Ayo sini duduk." Tegur Salah satu dari dua wanita paruh baya itu.. Ketika melihat pemuda itu diam mematung di depan pintu.
"Ehk... Iya... Nek.!! Awan terbata bata lalu melangkah menuju Nenek Romlah dan Hajah Markonah. Sambil mencium tangan nya satu persatu.
Setelah selesai dengan mencium tangan kedua wanita paruh baya itu.. Awan pun langsung menyalami seorang wanita berusia 19 tahun yang begitu anggun dan cantik. Wanita itu menjadi kembang desa di kampung nya... Tapi tidak ada yang berani mendekati nya, karna mereka tahu siapa Orang Tua nya.
"Teh Lisa...... Bagaimana keadaan.?" Tanya Awan setelah selesai bersalaman dengan gadis yang tak jauh dari tempat duduk dua wanita paruh baya itu.
"Alhamdulillah.! A Awan sendiri kabar nya gimana.?" Tanya balik yang bernama Lisa itu.
"Syukurlah kalau teh Lisa sehat mah. Seperti di lihat oleh teh Lisa sendiri kabar saya sehat wall a'fiat." Jawab Awan santai sambil tersenyum.. Padahal dalam hati nya bertanya tanya apa tujuan nya malam malam datang bertamu ke rumah neneknya.
"Ohk Iya... Aa Awan. Alhamdulillah." Jawab Lisa tersenyum.
"Bunda.... Ada kopi nggak.! Pengen ngopi heheheh." Kata Awan sambil terkekeh.
"Lagi di buatin sama teteh kamu di dapur.! Sekalian buat Nenek Markonah sama dek Lisa." Jawab Lisnawati. Lalu Ia duduk di samping Awan.
"Siap.!! Kata Awan singkat.! Lisnawati tersenyum.!
__ADS_1
bersambung.
Mohon maaf author post nya telat wae karna masih sibuk dengan aktivitas di dunia nyata.