Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Obrolan Awan Di ruangan khusus


__ADS_3

Di ruangan khusus kantor besar Future Nugraha Company Group. Tampak orang orang hebat sedang duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu.


Tedi Ferdiansyah bersama anaknya Excel Ferdiansyah sedang duduk berhadapan dengan dua lelaki setengah tua dan dua sejoli yang di sangka sepasang kekasih oleh mereka berempat.


Sementara di ruangan satu nya lagi. Orang orang yang statusnya hanya anak buah ataupun pegawai sedang berdiskusi dengan Asisten Tuan Besar yaitu Tuan Robi. Untuk membahas pembentuk kelompok organisasi Singa Putih. Yang di minta dan akan di komandoi oleh murid pertama dari Aden Haruman sebagai Ketua di Organisasi tersebut.


Atas masukan dari pemuda berusia 15 tahun agar terbentuk nya organisasi tersebut untuk di tugaskan di dalam proyek proyek atau pun kantor kantor cabang Future Nugraha Company Group yang sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan terbesar ISMAIL GROUP. Maka pengamanan Extra ketat harus di lakukan.


"Nak Awan perkenalkan kedua lelaki yang berwarga negara asing adalah. Moch Aidil dan Moch Ahmad mereka berdua CEO dan Asisten di perusahaan terbesar di negara nya." Kata Tedi Ferdiansyah memperkenalkan.


Pemuda itu tersenyum dan berdiri lalu membungkuk hormat, langsung berjabat tangan.


"Salam hormat. Tuan Tuan. Saya Muhammad Awan Pratama dan yang di samping saya Akila." Ucap pemuda itu mengulurkan tangannya.


"Gadis itu yang merasa pemuda itu sedang berbohong atas nama dirinya hanya tersenyum manis kearah dua lelaki yang dalam pikirannya terasa pernah bertemu dan serasa akrab kepada lelaki yang di kenalkan dengan nama Moch Ahmad.


"Anak muda. Salam hormat kembali dari saya. Moch Aidil dan yang di samping saya adalah Asisten dari pemilik perusahaan ISMAIL GROUP yaitu Moch Ismail." Seraya menyambut uluran tangan pemuda itu.


"Serr.......... Berdesir hati Nabil sesaat mendengar nama Moch Ismail terucap dari lelaki yang mengaku adik kandungnya pemilik perusahaan terbesar di negaranya.

__ADS_1


"Kenapa nama Moch Ismail dan Moch Ahmad terasa tidak asing dalam ingatan dan pikiran ku. Seolah olah nama itu telah melekat dalam hati sanubari ku." Batin Nabil Nur Fadillah bergejolak.


Setelah Muhammad Awan Pratama dan Moch Aidil berjabat tangan dan di lanjutkan kepada Moch Ahmad Asisten itu. Nabil pun memperkenalkan diri nya serta berjabat tangan dengan lelaki yang mulai masuk dalam gejolak hati gadis cantik tersebut.


Bukan Nabil sendiri yang merasakan gejolak Hati dan pikirannya yang menganggu saat ini. Ahmad pun saat ini hatinya tertuju kepada gadis yang baru saja berjabat tangan itu.


"Apakah...... Gadis ini bener benar anak Azzahra Masika Fatharani hidung bibir mata dan wajahnya mirip sekali dengan majikannya yang sudah meninggal. Akan tetapi pemuda yang di samping nya itu memperkenalkan dengan nama Akila." Ucap hati Ahmad.


Awan. Kedatangan mereka berdua ke negara kita bukan sekedar menjalin kerjasama dengan perusahaan milik ku saja. Tapi ada misi yang harus di selesaikan atas amanat dari almarhum Moch Ismail. Untuk mencari dan menemukan istri dan anaknya untuk di bawa kembali lagi ke negaranya." Kata Tedi Ferdiansyah menjelaskan maksud tujuan dua lelaki yang di panggil dengan sebutan Moch.


Pemuda itu hanya manggut manggut mendengar kan penuturan dan penjelasan yang tadi hanya Tedi Ferdiansyah, kini Moch Aidil yang menjelaskan semuanya dari kepergian adik iparnya Azzahra Masika Fatharani dan anaknya hingga Aidil menyuruh nya untuk menemui sahabatnya yang ada di kota Jogja. Tetapi setelah sampai di rumah sahabatnya. Bahwa adik iparnya tidak pernah sama sekali menginjak kakinya di kota gudeg tersebut.


"Anak Muda. Dengan sangat kamu berdua meminta bantuan dan pertolongan dari anda untuk mencari keberadaan istri majikan saya." Ucap Ahmad lalu menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat yang di dalamnya terdapat Poto dan anaknya yang sudah lima tahun meninggalkan negaranya.


"Insyaallah. Saya bersama dengan anak buah dan teman teman ku akan ikut membantu Tuan Tuan, tentang keberadaan istri dan anak dari Tuan Moch Ismail. Seandainya saya atau pun anak buah saya menemukan mereka berdua. Apakah tuan tuan akan membawa mereka berdua langsung ke negara asalnya.?" Tanya pemuda itu. Membuat mereka berdua tersentak kaget dengan pertanyaan dari pemuda itu.


"Kenapa Anak muda bertanya begitu.?" Tanya Aidil. Sudah jelas kita berdua akan langsung membawa mereka berdua kembali ke negara nya." Kata Aidil.


"Mohon maapkan hamba sebelumnya. Bila pertanyaan dari hamba membuat tuan tuan tersentak kaget. Setelah mendengar cerita dari Tuan berdua. Tidak sederhana mungkin istri dan anaknya menjadi incaran anak anak atau pun kerabat dari istri Moch Ismail yang pertama dan incaran incaran dari para selir selir dari Moch Ismail.

__ADS_1


Perkataan dari pemuda itu, membuat Aidil dan Ahmad berpikir keras dan berkerut kening milik lelaki yang bergelar ayah dan anak itu, mengapa pemuda itu bisa berpikiran kesana. Sementara mereka berempat tidak sampai berpikir kesana.


"Anak muda apa yang kau katakan. Kita berdua acungi jempol. Kami berdua tidak sampai punya pemikiran sampai kesana.!!


"Anakku. Seandainya dari pihak kamu dan beberapa anak buah mu, atau pun dari pihak orang orang ku. berhasil Menemukan Istri dan anak nya. Apa yang harus kita lakukan.?" Tanya Tedi Ferdiansyah.


"Awan tersenyum manis.!!


"Sebaiknya kita jebak mereka yang akan melenyapkan istri dan anaknya Moch Ismail sampai akar akarnya. Seperti kita menjebak adik tiri Tuan Besar." Jawab Awan.


"Nabil yang tadi hanya diam saja. Mendengar kan diskusi mereka yang ada di ruangan itu. Bertanya tanya dalam hatinya. Apakah kisahnya hampir sama dengan kehidupan yang sekarang ia jalani. Obrolan mereka semua mengarah kepada diri gadis itu dan Ibu nya.


Pemuda itu yang menyadari gerak tubuh gadis itu sedang gundah gulana dengan obrolan mereka berlima. Awan pun langsung menggenggam tangan gadis itu. Genggaman tangan dari pemuda itu mampu menghilangkan rasa kecemasan yang ada dalam diri Nabil Nur Fadillah.


"Tenang lah Bidadari ku. Aku tau perasaan mu saat ini. Aku akan selalu berada di sisimu." Bisik Awan ke telinga Nabil. Walaupun di lihat oleh mereka berempat dan merasa curiga tentang gelagat dari pemuda itu.


"Tuan Besar. Tuan Muda serta Tuan Tuan. Mohon Maapkan saya, obrolan kita akhiri sampai di sini. Karna waktu semakin larut dan kita berdua pun jauh menuju arah pulang. Kita berdua ijin pamit. Insyaallah amplop ini saya terima dan secepatnya akan saya kabarkan hasil pencarian istri dan anak Moch Ismail." Ucap Awan lalu berdiri dan berjabat tangan kepada Aidil dan Ahmad sementara kepada Tuan Besar Tedi Ferdiansyah dan Tuan muda. Saling berpelukan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2