Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Setengah Niat Jahat Kosasih Berhasil.


__ADS_3

Malam tampak hening di Bumi Pertiwi bagian barat kota kecil. Di salah satu kecamatan yang mengarah jalan pesisir pantai selatan. Tepat di kaki bukit gunung gong gong malam itu. Di salah satu rumah gubug dengan dinding bilik seorang pasangan suami istri yang masih muda sedang terlelap dalam tidur panjang nya itu.


Wanita muda beranak satu itu tidur dalam pelukan suaminya yang baru satu jam dia tertidur. Sementara anaknya tidur bersama Nenek nya. Istri dari Dukun santet Mbah Wongso.


Tepat pukul 00:40 dini hari ketua preman bayaran bersama lima anak buahnya mulai bergerak menuju gubug yang berada di kaki bukit gunung gong gong.


Engkos Kosasih sendiri sedang tiduran di ruangan tengah . Untuk mengecoh orang orang rumah bahwa dirinya tidak ikut dalam pembantaian yang akan di lakukan oleh para preman yang hanya 20 menit lagi segera bergerak.!!


"Kreet................!! Tiba tiba pintu kamar wanita anak satu terbuka dan terdengar langkah kaki yang menuju arah dapur. Engkos Kosasih berpura pura memejamkan matanya.


"Mungkin wanita sialan itu ingin ke kamar mandi." Ucap Engkos dalam hati.


Terdengar suara gericikan air yang sedang jatuh di kamar mandi Engkos Kosasih langsung bangun dan melihat ke kamar tidur Kasim, dengan tergesa-gesa.


"Hmmmmmmmm. Berarti yang ada di kamar mandi itu itu. Istrinya si Kasim." Gumamnya lalu kembali ke tempat semula dan berbaring tidur lagi.


Lara keluar dari kamar mandinya. Berjalan menuju kamar tidurnya. Untuk melanjutkan istrahat malam itu. Tiba di ruangan tengah, Ia melihat lelaki yang menginap di rumah Ibu nya belum tidur.


"Pak Engkos, kenapa belum tidur.?" Tanya Lara melihat lelaki berusia 40 tahun sedang mengutak-atik ponselnya.


"Ehk....... Anu ini....... Lagi mengirim pesan kepada istri. Bahwa esok akan pulang." Jawab Engkos memberikan alasannya.


"Ohk. Begitu. Yaa sudah aku masuk lagi ke kamar untuk melanjutkan tidur." Ucapnya.


"Silahkan.......... Nak Lara...........!! Kalau boleh pinjam selimut. Lumayan cuacanya dingin." Pinta Engkos dengan wajah memelas.


"Boleh......... Pak. Sebentar akan saya ambil dulu. Di lemari yang ada di kamar." Ucapnya. Lalu berjalan melangkah kearah kamarnya.


Tak lama kemudian............ Para preman pun datang dan mulai masuk kedalam gubug itu tanpa harus mencongkel jendela atau pun mendobrak pintu. Karena tidak di kunci oleh Engkos Kosasih agar niat nya terlaksana.

__ADS_1


Di saat Lara sedang berada di dalam kamar nya untuk mengambil selimut tebal yang di minta oleh Kosasih. Ketua Preman dan lima anak buahnya untuk siap siap membekap mulut wanita yang telah membentak dan mengusir orang yang sudah membayarnya. Ketika Lara keluar dari kamarnya untuk memberikan selimut kepada Engkos Kosasih Tiba Tiba..........


"Kreet...................!! Pintu kamar terbuka dan muncul wanita itu dengan membawa selimut.


"Heup....................!


Lara seketika di bekap mulut nya dan di seret ke dapur oleh tiga Preman. Ia berontak dengan keras namun sial bagi dirinya, karna kalah jumlah dan dia perempuan sehingga berontakan nya tidak bisa terlepas oleh bekapan ketiga pria bertubuh kekar.


"Sialan wanita ******...............! Ucap satu pria yang sudah melepaskan pegangan kaki nya dan memukul dengan benda tajam.


"Bugh..............!! Pukulan benda keras tepat mengarah kepada pundak milik wanita itu hingga dia pingsan saat itu juga.


Sementara ketua dan dua anak buahnya preman itu. Langsung masuk kedalam kamar wanita itu untuk menghabisi suami wanita yang sedang di bekap dan di seret oleh ketiga Anak buah nya.


Engkos Kosasih hanya bisa seringai licik saat para preman itu mulai bergerak.


Ketiga preman itu sudah berada di dalam kamar Kasim. Tampa membuang waktu lagi. Ia lalu membangun kan lelaki berusia 25 tahun dengan cara menepuk nepuk pipi nya. Sementara kedua anak buahnya sudah bersiaga dengan pisau yang siap menusuk. Ketika lelaki yang di bangun kan oleh bos nya itu.


Perlahan mata nya terbuka. Kesadaran nya belum sepenuhnya. Tiba tiba lelaki itu mau berteriak sesaat kedua mata dan kesadaran sudah normal.


"Heep.........! Bekapan dari bos preman saat itu juga hingga suara nya tidak terdengar. Kasim berontak dengan kasar. Kedua kaki dan tangannya aktip agar bisa terlepas dari bekapan.


Tiba Tiba kedua preman itu mulai mengarahkan kedua pisau nya kearah perut.


"Tushk...............!


"Tushk................!


"Tushk................!

__ADS_1


Tusukan tusukan pisau belati tepat mengenai dada dan perut Kasim hingga darah pun menyembur dari perut dan dada nya mengenai dua preman yang menusuk dengan sangat kejam dan keji itu.


Tak ada kata suara terdengar di rumah itu. Karna Kasim sedang di bekap oleh bos preman, ketika dia di tusuk perut dan dadanya oleh anak buah preman bayaran itu.


"Sadis........... Sungguh sadis.........!


"Kejam sungguh Kejam. Gubug milik dukun santet itu menjadi saksi seorang menantu dari Mbah Wongso mati terbunuh dengan beberapa tusukan di seluruh tubuhnya.


"Disaat tubuh Kasim sedang menggelegar meregangkan nyawa nya akibat tusukan benda tajam. Tiba tiba suara tangis bayi berusia satu tahun terdengar sangat keras dan kencang di kamar sebelah. Yang di tempati oleh Istri Mbah Wongso yaitu Mbah Tukiyem.


Wanita paruh Baya itu tiba tiba terbangun untuk menenangkan Cucu nya yang menangis di malam hari itu. Mungkin dia sedang bermimpi. Gumam Mbah Tukiyem seraya mengepok epok bayi itu agar berhenti menangis.


Tangisan bayi itu semakin kencang. Hingga Ketiga Preman yang sedang membunuh lelaki yang istrinya sudah di bawa pergi oleh anak buahnya ke gudang tempat penyimpanan ayam kampung terkejut dan kaget. Lalu mereka bertiga keluar dari kamar Kasim.


Wanita paruh baya itu lalu bangun dan menggendong bayi itu untuk membawa kedalam kamar anaknya yaitu Lara yang ada di samping kamar Mbah Tukiyem.


Ketiga preman itu. keluar setelah Kasim sudah tidak bernyawa lagi. Dan terkejut mendengar teriakkan seorang bayi yang sedang menangis. Ketika bos preman membuka pintu kamarnya. Secara bersamaan Mbah Tukiyem pun membuka pintu kamarnya. Tukiyem yang sedang menggendong bayi melihat ketiga lelaki yang keluar dari kamar anaknya. Dengan tangan dan muka berlepotan darah.


"Si...... Sia ...... Siapa........ Kau......! Pekik Tukiyem. Arhg........ Tolong......... Tolong........... Lontong ....... Lontong.......... Teriak wanita paruh baya dengan ketakutan.


Ketua Preman bayaran dengan julukan namanya Rantai Bumi. Langsung segera berlari dan menendang wanita paruh baya itu sangat keras hingga ia terpental bersama Cucu nya.


"Braakkk...............!! Tukiyem dengan menggendong Cucu nya terpental cukup keras menimpa lemari kayu yang tak jauh dari pintu kamar.


"Arghhhhh............... Ringis Tukiyem.........


"Oaaaa...... "Oaaaaa........... Tangisan bayi dalam pelukan Tukiyem yang sedang merintih kesakitan. Air matanya mengalir di wajah keriput istri dari Dukun santet.


"Bagaikan laksana seorang pahlawan kesiangan. Engkos Kosasih berpura pura menolong Tukiyem dan menghadang ketiga preman itu. Dengan sebelumnya Ia berbisik setelah wanita itu terpental masuk kedalam kedalam kamarnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2