Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Penjelasan Awan Kepada Mira dan Irma


__ADS_3

"Kriiiiing''....................!!


"Kriiiiing''....................!!


Telepon kembali berdering di ponsel milik Mira yang sedang berada di ruangan tamu Pak Lukman bersama dengan Irma.


"Mira........ Angkat. Bukan nya loe butuh jawaban. Apa susahnya tinggal angkat dan langsung tanyakan pada Awan biar jelas dan beban pikiran mu tidak berburuk sangka. Aku sepenuhnya percaya bahwa itu semuanya hanya pitnah." Kata Irma dengan yakin dan wajah serius.


"Baiklah.............. Aku akan mengangkat telepon nya. Ucap nya lalu menggeser kan layar ponselnya dari bawah keatas.


"Halo.


"Awan kamu sedang di mana bukan nya besok sudah masuk sekolah. Sementara loe tidak ada di kampung mu sendiri. Apakah kau tidak akan melanjutkan sekolah nya.?" Tanya Mira dengan pertanyaan beruntun.


"Aduhhhhh....... Mira bidadari ku paling cantik paling menor paling bohay paling seksi dan paling paling segalanya. Apakah tidak bisa pertanyaan mu satu satu." Kekeh Awan dengan Rayuan maut nya. Hingga Pak Lukman dan Irma tersenyum mendengar nya. Karna panggilan telepon itu loadspeker di aktipkan oleh Mira.


"Sue....... Loe Awan apakah mulut mu tidak bisa di kunci hah. Main nyerocos aja." Sergah Mira dengan ucapan rayuan dari seorang pemuda di sebrang telepon itu.


"Sorry bidadari ku. Aku kangen loe. Dan kedua sahabat ku. Irma dan Kiara. Bagaimana apakah loe dan kedua sahabat ku baik baik saja.?" Tanya Awan.


"Alhamdulillah. Gue dan kedua sahabat kita baik baik saja. Tapi.............. Mira terpotong ucapannya.


"Tapi kenapa Mira. Bisakah kau jelaskan kepada saya yang buta informasi.?" Tanya Awan dengan penasaran yang di buat buat.

__ADS_1


Mira menatap kearah samping sahabatnya. Irma mengangguk dan tatapan pun langsung beralih kepada lelaki paruh baya. Sama anggukan pun di berikan.


"Mira............ Apakah kau masih di situ kenapa diam.?" Tanya Awan karna tidak ada jawaban dari sebrang telepon.


"Ehk...... Iya Awan. Gue masih di sini." Ucap Mira terbata bata.


"Ohk...... Syukurlah di sangka sudah di matikan telepon nya. Karna termakan pitnah di kampung kita." Tebak Awan. Hingga Mira pun kaget dan Syok pemuda itu bisa menebak dan membaca isi hatinya.


Mira tak berani bersuara lagi. Ponsel nya ia berikan kepada Irma biarlah sahabatnya yang bertanya langsung kepada Awan. Sementara dirinya hanya mendengar kan nya saja.


"Awan.......... Ini gue Irma Permatasari. Gue sedang bersama dengan Mira di rumah Wa Lukman. Sorry sebelumnya Mira, Kiara dan gue sendiri. Termakan Pitnah yang di berikan oleh seseorang yang kemungkinan loe sendiri sudah mengetahui nya. Tapi karna tidak ada bukti yang mengarah kepadanya. Hingga Mira mengajak ku kepada Wa Lukman untuk bertanya. Apakah loe sendiri yang mengirim santet kepada Hilman ayah mu. Karna rasa sakit hati oleh perbuatannya meninggalkan keluarganya.?" Tanya Irma berhati hati. Tapi tidak ada cara lain lagi mungkin bila langsung bertanya kepada nya jawaban akan memuaskan hati sahabatnya yaitu Mira.


"Hahahaha.......... Awan tertawa lepas setelah mendengar perkataan dari sahabatnya sekaligus tetangga di kampung nya itu. Irma tunggulah tidak akan lama lagi. Seseorang yang telah menyantet Ayahku akan datang dan meminta maap kepada keluarga ku. Kalian bertiga orang yang paling aku percayai selain Pak Lukman dan Bu Dewi. Aku sendiri pergi dari kampung kita bukan untuk menghindari pitnah yang sedang terjadi. Tetapi sedang ada pekerjaan yang lebih penting untuk masa depan keluargaku. Untuk mengangkat derajat Ibu dan ayah serta adik adikku. Suatu saat kau dan Mira maupun Kiara akan mengetahui kebenaran yang hakiki dan sejati." Ucap Awan memberikan penjelasan.


Irma menghela napasnya dalam dalam dan langsung menghentak dengan kecepatan keras. Sedangkan Mira sendiri tertunduk wajahnya Air mata nya menetes kini dia percaya bahwa Awan bukan lah pelakunya.


"Awan. Aku percaya sama loe. Yakin bahwa loe bukan pelakunya. Ehk...... Besok mulai sekolah. Bagaimana kalau loe nggak pulang ke rumah.?" Tanya Irma.


"Sudah di persiapkan semuanya. Aku tinggal masuk saja di sekolah SMA Pasundan yang tidak jauh dari pusat kota kita." Ucap Awan.


"Jadi.................... Loe sekolah di Pasundan. Satu sekolah dengan kita kita.?" Ucap Irma Permatasari tersentak kaget.


"Iyaaaaa......... Bidadari ku yang paling manja dan kalem. Itu semua berkat Pak Lukman orang yang paling aku hormati." Puji Awan kepada lelaki yang berada di hadapan dua gadis cantik itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Jadi besok kita bisa bertemu di sekolah.?" Tanya Irma dengan senyuman manis.


"Hmmmmmmmmm''. Maapkan Gue Irma. Besok hanya pemilihan bangku dan ospek, karna gue sudah ijin sama kepala sekolahnya tidak mengikutinya. Pas mulai belajarnya saja gue baru sekolah." Ucap Awan memberi keterangan.


"Dasar loe bisa aja........... Kesal Irma.


"Hehehehe............ Irma....... dan Mira kalau begitu gue akhiri telepon nya. Sampai ketemu di sekolah. Silahkan kau sibuk dengan aktivitas kalian di sana. Dan sampaikan salam hormat ku kepada Pa Lukman, serta Ustadzah Marhamah dan suaminya." Ucap Awan.


"WaallAikum Salam. Insyaallah Awan salam dari loe akan gue sampaikan. Siap nanti kita mengobrol di sekolah setelah kita bertemu." Kata Irma. Dan panggilan telepon pun berakhir.


Cukup lama telepon antara Awan dan Mira di pagi menuju siang itu. Hampir satu jam lebih mereka mengobrol dalam sambungan telepon. Penjelasan yang di berikan oleh Awan membuat Mira dan Irma cukup puas. Apalagi sebelumnya sudah di beritahu oleh Lelaki Paruh Baya yang menjadi sesepuh di kampung Situhiang tersebut.


Sekarang tinggal menunggu waktu dan pembuktian dari pemuda itu. Untuk mengungkap pelaku yang mengirim santet kepada ayahnya agar namanya bersih di kampung tempat kelahiran nya.


"Wa Lukman. Kami berdua ijin pamit untuk pulang ke rumah masing masing." Pinta Irma setelah cukup lama dia bertamu.


"Hmmmmmmm. Yaa sudah. Uwa juga mau meneruskan memberi makan anak anak ayam yang tadi tertunda karna kedatangan kalian berdua." Kata lelaki paruh baya itu.


"Hehehehe........ Mohon Maap Wa gara gara kami berdua anak ayam jadi kelaparan." Kekeh Irma. Lalu mencium tangan lelaki paruh baya itu secara bergantian dengan Mira.


Setelah berpamitan dengan Pak Lukman dan tak lupa kepada istrinya. Dua gadis itu pulang ke rumahnya masing masing dan akan berjanji bertemu di sore hari untuk menjelaskan kepada sahabat nya satu lagi yaitu Kiara yang tidak ikut dalam bertamu ke rumah Pak Lukman. Terlihat oleh mereka berdua Kiara Agusta sangat dominan membenci Muhammad Awan Pratama dari sipat dan ucapan nya selama ini. Ia termakan pitnah yang di berikan oleh sebagian warga kampung Situhiang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2