
Setelah kepergian Tedi Ferdiansyah berobat ke negara tetangga, bersama istri dan anaknya serta beberapa para pengawal yang di tugaskan oleh Asisten Robi, Awan pun kini kembali kedalam mobil bersama Excel anak pertama pemilik perusahaan Future Nugraha Company. Sedangkan Robi asisten Tuan Tedi kembali ke kantor Karna banyak terjadi pergulatan dalam kantor karna meninggal nya Direktur keuangan, dan belum di temukan nya Tedi Ferdiansyah selaku pemilik perusahaan.
Mobil pun berjalan melesat pergi meninggalkan halaman bandara dan keluar membelah jalanan di suasana yang belum sepenuh nya siang.
"Awan, masukan, mobil ke halaman Bank itu." Titah Excel menunjuk satu bangunan di depan jalan.
"Baik' Kak, Balas Awan, membelokkan kemudinya dan melaju sangat pelan menuju parkiran dan berhenti tepat di samping mobil Avanza Veloz.
Para penjaga di Bank itu buru buru berlari kearah mobil yang baru masuk setelah mengetahui mobil yang baru masuk adalah anak pemilik perusahaan terbesar di Indonesia dan mayoritas saham terbesar di Bank itu.
"Selamat siang Tuan Muda, Ucap mereka membungkuk hormat sesaat satu orang penjaga membuka kan pintu mobil dan keluarlah dua pemuda yang mempunyai wajah berbeda.
"Antarkan saya keruangan kepala Bank saat ini juga." Titah Excel dengan nada datar dan serius.
"Baik' Tuan Muda, mari." Kata salah satu kepala satpam tersebut.
Mereka berdua berjalan mengikuti langkah kaki kepala penjaga keamanan melalui jalur bawah gedung menuju lifs, dan tak lama mereka pun tiba di lantai atas di salah satu ruangan kepala cabang.
"Tok........! Tok.......! Tok..........!
"Masuk teriak satu suara dari dalam ruangan itu.
Kepala satpam itu langsung membuka pintu, serta masuk kedalam di ikuti oleh Excel dan Muhammad Awan Pratama.
"Tuan Muda........! Terbata bata lelaki paruh baya itu setelah melihat penjaga satpam itu masuk di ikuti oleh dua pemuda yang satu nya adalah pemilik perusahaan terbesar di Indonesia.
"Tuan Bandi apakah tidak mempersilahkan saya bersama adikku untuk duduk di kursi ruangan ini? Tanya Excel dengan wajah datar berdiri di hadapan lelaki yang melongo mulut terbuka lebar menandakan exfresi kaget dan syok.
"Sil... Silah.... Silahkan.....! Tuan Muda, mohon maaf atas penyambutan yang tidak berkenan di hati anda.! Kata nya terbata bata.
__ADS_1
Tuan Bandi, tolong buatkan satu buku tabungan berikut kartu ATM untuk adik angkat saya dan masukan uang senilai 30 milyar ke rekening nya. " Titah Excel kepada kepala cabang itu.
"Apa...............! Teriak Awan langsung berdiri, mata memandang kearah putra Tedi Ferdiansyah, lelaki yang di tolong nya itu........!
"Awan loe kenapa sampai teriak teriak, kaya orang ketakutan begitu.? Tanya Excel dengan Xfresi kekagetan sama hal nya dengan kepala cabang serta penjaga keamanan itu.
"Ahk.......! Kak Excel tak asik, ahk.....! Jawab Awan, yang kini sudah duduk kembali di samping Tuan Muda itu.
"Tak, asik bagaimana.! Excel bertanya
"Aku, cuma nolong saja mengapa mau memberikan uang sebesar itu. Bisik Awan ke telinga Excel. Membuat dia tersenyum manis.
"Sudah...... Ahk...... Ikuti saja, berkat bantuan dan pertolongan dari kamu, tak sebanding apa yang di berikan oleh keluarga ku.! Kata Excel dengan menepuk nepuk bahu pemuda tengil itu.
"Yaa.......! Sudah kalau begitu, mah dengan berat hati dan aku juga sedang butuh, Awan terima." Jawab pemuda itu dengan tawa cekikikan.
"Hmmmmmm." ini anak bener bener unik, Gumam kepala cabang itu.
"Baik, Tuan. Ucap satpam seraya beranjak pergi meninggalkan ruangan kepala cabang itu.
*********************************************
Satu Unit Mobil Avanza Veloz terparkir di penataran halaman kantor PT Bina Sakinah Group bersama dua mobil lainnya.
Ketiga mobil berbeda tipe dan merk itu akan berangkat menuju Jakarta sekedar berbelasungkawa kepada keluarga Andri Setiawan korban kecelakaan di jurang hutan jati.
Diantara mereka bertiga yang akan berangkat menuju kota Jakarta yaitu, Sutarman Direktur CV Hansel Mandiri bersama Haji Epen beserta Iwan dan Dika dalam satu mobil Avanza Veloz.
Sedangkan dua mobil lainnya adalah orang orang dari PT Bina Sakinah Group yang di pimpin langsung oleh Bob Hidayat bersama staf dan direktur utama.
__ADS_1
Ketiga mobil pun kini mulai melaju meninggalkan kantor dan berjalan dengan kecepatan di atas rata rata membelah jalanan kawasan puncak menuju pintu masuk tol Jagorawi.
Hanya butuh empat jam perjalanan tiga unit mobil yang berplat nomor kota Cianjur itu tiba di salah satu komplek perumahan Elit nomor dua di kawasan Jakarta timur.
Bendera kuning yang terpampang di salah satu gang jalan menuju satu rumah bertingkat dengan di penuhi ucapan papan bunga turut berdukacita atas meninggalnya Andri Setiawan selaku direktur keuangan PT Future Nugraha Company memenuhi bahu jalan di kompleks perumahan tersebut.
Mobil Avanza Veloz pun melaju dengan pelan di ikuti oleh dua mobil lainnya mencari parkiran yang kosong untuk berhenti dan segera turun.
***
Sebelum Jenazah Andri Setiawan di bawa kerumah duka.
Setelah melewati lama nya pemeriksaan untuk hasil visum dari kepolisan, hari itu juga Andri di nyatakan meninggal dunia, seketika itu juga istrinya pingsan. Vito dengan sigap membawanya ke luar untuk mendapatkan pertolongan dari pihak rumah sakit.
Isak tangis Desi mengiringi kepergian kakak nya secara tragis bahkan ia menyaksikan langsung Jenazah Andri di angkat dari jurang menggunakan tali.
"Sayang tenanglah. Kita Doakan saja semoga Kak Andri tenang dan bahagia di sisi Tuhan. " Vito berusaha menenangkan istrinya setelah kembali keruangan kamar mayat itu.
Kak Andri telah berbuat banyak pada kita. Dia pengganti Ayah sekaligus kepala keluarga bagiku dan adik adikku." Ucap Desi sambil mengingat semua kebaikan Kak Andri pada nya.
Tak lama kemudian Vito mengajak Istrinya keluar, karena jenazah Andri akan segera di urus oleh pihak rumah sakit, sebelum di pulangkan kerumah duka. Dan malam itu juga Desi segera menghubungi Orang Tua Desi kakak iparnya untuk mengabarkan kabar duka ini.
"Sayang..... Sayang.... Jangan tinggalkan aku dan anak serta anak dalam kandungan ku." Racau Erna dengan mata terpejam.
"Nyonya..... Nyonya...... yang sabar. Pak Andri sudah tenang di alam sana, sebisa mungkin pembantu itu menenangkan istri majikannya.
Perlahan mata Erna terbuka. Air mata nya mengalir semakin deras saat menyadari orang yang sangat di cintai telah pergi meninggalkan dirinya dan anak anak selamanya. Dunia Desi saat ini bener bener runtuh saat ini juga. Pria penyayang tempat ia bergantung selama ini sekarang sudah tidak berada lagi selamanya.
Tak lama kemudian Desi datang. Desi memeluk Kak Erna untuk saling menguatkan, dia juga merasa kehilangan sosok seorang Andri Setiawan.
__ADS_1
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung