Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Niat Busuk Markonah di Tolak mentah mentah


__ADS_3

Sore itu di rumah nya Bu Lisnawati Awan setelah mengobrol bersama pasangan suami istri tentang perihal rumah yang mau di jual oleh pasangan tersebut, pemuda itu kembali kerumahnya untuk mengambil tas berisi uang dan meminta Bunda Lisnawati dan Teh Dena untuk menjadi saksi pembelian rumah Mang Baban itu.


***


"Kalau Nenek........? Tanyaku, seraya mata Awan berkedip kearah wanita paruh baya itu.


"Nenek di beliin kalung sama kurabu." Jawab Lisnawati ibu kandung nya.


Ohk my Good.........." Mantap Nenek......! Awan memuji Nenek nya serta di acungi jempol.


Orang yang di puji hanya tersenyum, keiinginan memakai kalung dan kurabu di waktu tua akhirnya kesampaian juga.


Tiba tiba ponsel pemuda itu berdering di saat Muhammad Awan Pratama sedang menggoda Nenek dan kakak' Ipar nya itu.


"Kriiiiing............!


"Kriiiiing............!


"Halo..........! Kak Excel....... Awan di sini siap menerima perintah." Kata pemuda yang menjawab telepon masuk.


Bunda, Teh Dena serta Nenek nya kini menatap kearah pemuda yang sedang menerima telepon dan kaget saat pemuda itu menjawab siap menerima perintah.!!


"Awan, tadi gambar yang kau kirim melalui pesan singkat, apakah itu buatan kamu atau orang lain.? Tanya Excel di sebrang telepon ada rasa penasaran.


"Itu buatan aku sendiri Kak, Emang nya kenapa?" Tanya Awan, seraya jari telunjuk di simpan di bibirnya agar jangan berisik.


"Bagus..... Dan indah serta begitu cantik, kakak suka konsep dan gambar yang kau berikan. Kalau boleh tahu lokasi tempat nya di lokasi mana nanti kalau di bangun kan mall tersebut.


"Lokasi nya ada di pusat Kota kak, tidak jauh dari alun alun kota dan terhubung di dua jalan utama." Jawab Awan.


"Awan, coba kamu kondisi kan dengan pemilik lahan itu, dan seandainya lahan itu bisa di jual cepat beritahu kakak, " Ucap Excel.


"Kak kebetulan lahan tersebut sudah di beri kuasa kepada aku, segala bentuk surat surat apapun......! Dan IMB nya sudah terdaftar di pemerintahan untuk pembangunan Mall di kota ku ini." Jawab Awan memberi tahukan.


"Bagus....... Kakak senang mendengar nya, kalau begitu nanti kakak meluncur ke kota mu! Jawab kak Excel.

__ADS_1


"Siap Kak, nanti kabaran sebelum esok nya berangkat." Pesan Awan.


"Siap Adik ku yang paling ganteng, kalau begitu kakak akhiri telepon nya, silahkan adik beraktivitas kembali di sana." Kata Excel seraya mengakhiri panggilan telepon.


Panggilan telepon pun berakhir Muhammad Awan Pratama lalu mengucap kata syukur


"Alhamdulillah. mudah mudahan jadi yaa Allah. Gumam nya.


"Anakku siapa yang menelepon barusan.? Tanya Bunda.


"Bos Awan Bun yang tinggal Jakarta, dia pemilik perusahaan terbesar di Indonesia." Jawab Awan, membuat Lisnawati dan Nenek Romlah serta Dena kaget.


"Hmmmm." Sejak kapan anakku kerja di Jakarta.?" Tanya Lisnawati.


"Awan hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan dari Ibu nya, dan meminta doa serta berkata.


"Doa kan saja mudah mudahan proyek pembikinan Mall terbesar di kota kita jadi dan di menangkan oleh anakmu ini, seandainya jadi lumayan mendapatkan komisi." Ucap Awan


"Emang berapa mendapatkan komisinya.?" Tanya Nenek kepo.


"Lumayan nek di kasih Sepuluh." Jawab Awan.


"Hmmmmmm." Bukan Nenek.


"Berapa atuh ihk........? Tanya Nenek penasaran jiwa kepo nya melayang layang.


"Ada........ deh, yang penting doa kan saja oleh kalian bertiga.'' Ucap Awan.


"Amiin doa nenek selalu ada untuk Cucu ku," Ucap nya.


"Bunda, ayo ikut ke rumah Mang Baban sama teh Dena, jadi saksi jual beli rumah Mang Baban." Ajak Awan........ Seraya membuka resleting tas yang tadi di taro di pinggir Nenek Romlah.


"Baik' , Sebentar Bunda beresin dulu baju Adik Adik mu ini.! Jawab nya.


"Bun, tapi jangan ngomong kalau Awan yang beli ya.? Tanya Awan pelan.

__ADS_1


"Memang nya kenapa? Tanya Bunda penasaran.!


"Pokok nya ikuti aja dulu alur cerita author yang kata nya tidak nyambung dan membosankan." Kata Awan.


"Yaa sudah, terserah.!! Jawab Bunda, lalu mereka bertiga beranjak menuju rumah yang mau beli oleh Muhammad Awan Pratama.


*******************************************


Senja belum bisa di sebut, karna masih ada waktu sekitar tiga puluh menit menjelang waktu Magrib, tepat di salah satu kampung Situ Babakan yang tidak jauh dari kantor kecamatan, disalah satu rumah pasangan suami istri berusia 40 tahun di rumah yang paling besar di kampung nya.


Hajah Markonah bersama dengan anak yang paling besar sedang berada di ruangan tamu milik pasangan suami istri Engkos Kosasih dan Titin Kharisma, sedang mengobrol mode serius.


Kedatangan Hajah Markonah kerumah Pak Engkos, sekedar memberi tahukan tentang tadi siang bahwa anak dari Kakak nya Siti Romlah, untuk melunasi hutang yang waktu itu dia pinjam dengan jaminan sertifikat sawah milik almarhum ayahnya.


"Saya tahu bahwa kalian berdua ingin memiliki sawah milik ayah saya, tetapi sebelum masa perjanjian pinjaman itu yang tepatnya dua Minggu lagi masuk jatuh tempo, sudah di bayar oleh Lisnawati, maka harapan kalian berdua sirna." Ucap Hajah Markonah tersenyum jahat.


"Hahahaha." Saya tidak yakin bahwa Lisnawati akan mampu membayar sawah yang telah di jaminkan oleh kau, Markonah." Jawab Titin kharisma.


"Ya....... Saya juga tidak yakin, tetapi, seandainya Lisnawati mampu membayarnya, bagaimana." Ucapnya Markonah.


Titin bergeming diam tidak menjawab.!!


Seandainya Lisnawati mampu membayar hutang wanita iblis di hadapannya, harapan yang selama ini dia dambakan dan impikan pupus sudah, batin Titin bergejolak.


"Ayah........ bagaimanapun ini, seandainya apa yang di katakan Bu Hajah Markonah, benar. Bahwa Lisnawati mampu membayar hutang dan mengambil kembali sawah yang hampir 10 tahun kita dambakan.?" Tanya Titin kepada suaminya.


"Sudah tidak usah panik dan cemas begitu istriku. Aku tahu Lisnawati mampu membayar hutang Hajah Markonah dan mengamalkan sawah yang sebentar lagi akan menjadi milik kita, tapi aku punya rencana lain, kamu tenang saja." Ucap Engkos Suaminya menenangkan, kecemasan yang di rasakan saat ini.


"Baiklah, Ayah. Aku menurut saja apa yang di ucapkan oleh suami ku tercinta." Pasrah istrinya.


"Untuk Bu Hajah Markonah dan saudara Misbah sebaiknya anda pergi dari rumahku, terima kasih atas informasi nya." Usir Engkos dengan sopan.


"Anda sungguh berani mengusir kami berdua. Tadinya aku mau memberikan solusi agar sawah itu menjadi milik mu." Kata Markonah emosi tapi dia tahan.


"Hahahaha." Aku tahu rencana busuk mu Hajah Markonah, kau mau meminta menaikkan nominal perjanjian yang sudah di tulis antara pihak peminjam dan pihak pemberi pinjaman kan hah." Bentak lelaki setengah baya itu.

__ADS_1


"Hajah Markonah dan anaknya pergi keluar dari rumah pasangan rentenir itu, dengan rasa malu karna niat nya sudah terbaca oleh Engkos Kosasih, yang tadinya dia mau mengajak bekerja sama, agar saling menguntungkan antara mereka dan Markonah.


Bersambung.


__ADS_2