
Negara Piramida.
Pagi itu, Seorang lelaki berusia 45 tahun berbaring di ranjang Baldacchino hasil ukiran tangan Stuart Hughes yang tepiannya dilapisi emas murni dan di buat oleh tiga kayu Ash, Cherry dan Classy Canopy.
Ranjang itu dibeli seharga 52.5 milyar rupiah. Di samping dekat kepalanya sebelah kanan, ada sebuah meja unik model elips karya Eames. Meja itu ia beli dengan harga 35 milyar belum termasuk ongkos kirim melalui COD.
Meja elips persis model meja Resolute milik presiden Amerika Serikat yang ada di Ruang Oval, White House.
Di atas meja, ada cangkir peninggalan Dinasti Ming berusia 500 tahun, ia beli dengan harga 308 milyar. Cangkir itu, selalu berisi kopi Pinogu asli. Ia impor dari kota leluhur nya.
Setiap pagi sebelum ia memulai aktivitas di hari itu, Ia pasti menyeruput kopi Pinogu nya bersama sebatang cerutu merk Cohiba yang impor langsung dari Kuba, tepatnya
cerutu peninggalan Fidel Castro. Ia memang berteman baik dengan orang itu.
Pagi kali ini, Moch Ismail hanya berbaring saja. Kakinya tak mampu melangkah menuju kursi sofa yang tak jauh dari tempat dia berbaring.
Lelaki tua itu, sekarang tidak memiliki istri. Ia tidak begitu percaya kepada perempuan. baginya, perempuan tidak lebih seperti Cleopatra yang melegenda itu. Bibir seperti gincu beracun. parasnya menipu. Dan Moch Ismail' tidak suka penipu.
Lima tahun di tinggal oleh istri dan anak nya hidupnya, ia ditemani selir - selirnya. Setiap jam, selir selir itu bergantian menemaninya.
Selir selir itu didatangkan dari setiap negara. Sampai pagi ini tercatat sudah ada 2000 selir yang pernah menjadi teman hidupnya.
Setelah kepergian istrinya 5 tahun yang lalu. Namun, entah kenapa pagi ini, giliran selir dari Indonesia tak berada di samping nya.
Punggung kakinya sebelah kanan bengkak. Ia tak tahu kenapa. Sudah satu minggu ia tergeletak, tak bisa bergerak. Moch Ismail hanya sendiri terbaring.
"Ia tak berkata-kata. Mulutnya seperti bergumam. Entah berdoa atau membaca mantra. Matanya telanjang tanpa kacamata pemberian aktor terkenal Arnold Schwarzenneger kala bermain di film Terminator 1 menatap langit kamarnya.
Matanya basah tapi tidak menangis. Ia hanya heran saja, mengapa orang yang kaya raya seperti dirinya bisa dihinggapi penyakit aneh.
Seorang tabib dari negara tirai bambu yang pernah mengobatinya mengatakan bahwa ini penyakit terserang panu. ( Hapuran ) kata orang Sunda mah. Namun, Ia tidak percaya.
Bukan Moch Ismail' namanya kalau mudah percaya. Maka, diusirlah tabib dari tirai bambu itu.
__ADS_1
Pada waktu berikutnya, ia mengundang dokter ahli penyakit kulit dari Universitas ternama di dunia.
Dokter spesialis yang paling top itu ia bayar 100 milyar rupiah setiap kunjungan. Namun, tidak ada tanda-tanda ia membaik. Semula hanya titik biasa di bawah pinggang kirinya. Kira-kira dua sentimeter dari tulang belakang penyakit nya itu.
******
Selirnya yang dari Negara Jepang yang bertanya. Kala itu, Ia memandikan Moch Ismail.!
"Tuan, Kok mentimun nya besar banget apakah muat dalam Goa, kecil saya
Moch Ismail' hanya tertawa kecil. Ini titik rahasia keperkasaan ku selama ini, katanya tempo itu.
Moch Ismail' meyakini, semenjak dia berkunjung ke negara untuk perjalanan bisnis nya dan di ajak oleh orang kepercayaan nya kepada wanita tua itu. Lalu mengutarakan maksud keluhan dalam melakukan persetubuhan suami istri dia selalu kalah dan tak tahan lama. Wanita tua itu mengerti dan langsung mengurut pusaka milik tamu nya hingga menjadi besar dan panjang.
Seminggu yang lalu efek nya langsung teruji saat itu, keperkasaan tubuh dan hasratnya semakin bergelora. Darah muda dan semangat hidupnya semakin hari semakin bertambah sempurna.
Ini dapat dilihat dari bagaimana Moch Ismail menghadapi selir-selirnya setiap waktu, melayani dirinya. Di tambah di beri nya kekuatan dari dari titik warna putih di punggung yang Ia dapatkan dari Dukun leluhur nya. seketika orang orang yang dengki kepadanya. Ia ***** tanpa bekas.
Seperti misteriusnya titik yang makin hari makin menjelma di area punggungnya. Ia tidak curiga sama sekali kalau titik itu adalah penyakit yang akan membawa kematian bagi diri nya. Justru Ia bahkan semakin yakin bahwa semakin bertambah titik itu, semakin abadi dan semakin sempurna kehidupan nya itu.
Tiba pada suatu malam ia bermimpi bertemu dengan istri nya yang jauh di sana bahwa mengabarkan masih hidup sampai sekarang dan memberi tahukan bahwa ia terkena sihir yang amat dahsyat.
"Wahai suamiku sadarlah dan bertobat lah sebelum ajal menjemputmu.
"Suami ku, Anakmu sekarang sudah besar dan sekarang berganti nama Abil Nur Fadillah.
"Moch Ismail, kebenaran akan terungkap tidak lama lagi bahwa aku hanya korban pitnah dari saudara saudara yang tidak suka kepada dirimu dan ingin menguasai hartamu.
Lelaki setengah tua itu pun terbangun terhentak dan titik-titik itu lama-kelamaan selain bertambah juga semakin gatal. Ia berusaha menahan gatal yang dia rasakan itu. Titik-titik itu adalah area berbentuk cincin di permukaan kulit dengan tepian berwarna kemerahan yang timbul bersamaan dengan kulit terkelupas dan rasa gatal yang maha dahsyat.
"Moch Ismail seketika berteriak dengan sangat keras dan histeris seluruh pelayan penjaga berdatangan menghampiri Tuan nya yang sudah terkapar.
"Salah satu orang kepercayaannya Moch Ismail pun mendengar kan bisikan dari Tuan nya yang sedang merintih kesakitan' dalam bisikan nya. Ia bermimpi bertemu dengan istrinya serta menjelaskan semua nya dan ini penyakit yang saya derita ini akibat terkena guna guna ilmu sihir yang di kirim oleh seseorang.
__ADS_1
Siang itu semua dukun dukun ia datang kan dari seluruh dunia. Waktu malam pun tiba, sesajian dari dupa purwarupa dan kembang tujuh warna menjadi asap-asap dalam seribu Doa.
Dihirupnya aroma kemenyan lalu dia tabur dalam nyala api bercampur mantra-mantra paling sakral agar terbang menembus langit ke tujuh menyelamatkannya dari maut.
Lelaki tua itu tak ingin mati.
Diundangnya dukun tua dari tanah leluhurnya, keturunan dari Tutankhamun, yang paling ia percayai. Ia tak ingin menyerahkan kepasrahannya kepada seribu dukun yang silih berganti datang mengobati dari seluruh penjuru dunia.
Ia mulai cemas, disaat. Titik itu terus membiak.
Dukun tua itu berkeliling mengitari setiap inci istananya agar segala mimpi dan jampi bisa lekas hilang dari tubuh sang Tuan.
Setelah itu, tangan keriput dan suara basah sang dukun terpatah-patah seperti batuk atau masih kantuk karena Subuh sudah berjalan dalam doa-doa. Tangan keriput itu pelan-pelan meraba titik demi titik yang ada di sekujur tubuh Moch Adjo lalu air penuh mantra menyembur keluar dari rongga
mulut sang dukun, membasahi sekujur area punggung Moch Adjo.
Seketika Moch Adjo berontak dan menjerit.
Aduuuhh ... ''panas...!...' Aduhhh.....!
"Punggung ku terbakar Suaranya menggelegar menggema memenuhi seisi ruangan istananya, persis seperti suara azan magrib dari toa masjid kampung.
Seluruh mahluk peliharaannya diam seribu bahasa. Sepasang burung beo di depan pintu kamarnya, yang selalu menemaninya, tiba-tiba tertunduk membisu.
Bahkan sembilan singa Afrika yang menjaga pelataran depan rumahnya, segera lari sembunyi di kamar paling ujung rumahnya.
“Punggungku terbakar. Sakit...sungguh sakit. “Aku tak tahan lagi. Arrgghhhhhhhh!” Lelaki tua itu meronta-ronta.
Sakit akibat semburan air dari rongga mulut sang dukun membuatnya mendekati kematian.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya
bersambung.
__ADS_1