
Setelah Abah Aden Haruman dan Muhammad Awan Pratama kembali kepada raganya. Tak lama setelah itu suara dari guru sekaligus pemimpin Tawasul di Gunung Masigit itu mulai membacakan doa penutup, tanda Tawasul itu sudah mulai selesai.
Hampir lima jam lamanya berada di gunung Masigit dan kini mereka sudah kembali ke rumah nya masing masing. Sedangkan Aden Haruman bersama Muhammad Awan Pratama dan Tedi Ferdiansyah berada di kampung Citamiang tepat nya di rumah Abah Aden Haruman.
"Awan keluarga mu sudah selamat dan rumah Nenek Romlah sudah bersih dari hal kalian sekeluarga tidak akan di ganggu lagi. Akan tetapi Ayahmu terkena guna guna penyakit yang di kirim oleh Dukun santet itu atas suruhan dari orang orang yang tidak suka terhadap keluarga mu." Kata Abah Aden Haruman. Membuat Tedi Ferdiansyah terkejut kaget, tidak dengan Awan yang ikut menyaksikan langsung.
"Tapi Abah....... Apakah memang benar ini kiriman dari orang yang tidak suka terhadap keluarga ku.?" Tanya Awan menatap tajam kepada Abah Aden Haruman.
"Memang bener Awan.! Tapi kau tidak harus membalasnya. Karna yang melakukan ini suatu saat akan menerima balasan nya." Ucap Abah Aden Haruman dengan seringai kecil di wajahnya.
"Apakah keluarga Engkos Kosasih yang melakukan semuanya Abah.?" Tanya Awan dengan mengaitkan kedua alisnya.
"Nanti kamu sendiri akan mengetahui nya. Setelah Abah melenyapkan dukun santetnya itu, sebagai perantara orang yang akan menyantet keluarga mu." Jawab Abah Aden lalu mengambil roko dan mulai menghidupkan nya.
"Hmmmmmm." Terus untuk mengobati ayahku bagaimana Abah yang terkena kiriman santet itu.?" Tanya Awan sama hal dia juga menghidupkan rokoknya.
"Nanti bawa air Tawasul dari Gunung Masigit lalu campurkan dengan air sumur yang ada di rumah Ibu mu. Suruh dia mandi dan membaca syahadat tiga kali mintalah sendiri kepada sang maha esa untuk kesembuhan nya." Jawab Aden Haruman seraya menghisap rokok yang ia pegang.
"Baiklah kalau begitu............. Awan akan melakukan nya dan memberi tahukan kepada Bunda." Ucapnya lalu menatap kearah Tedi Ferdiansyah.
"Tuan Besar silahkan bila ada yang mau di minta tolong oleh Abah Aden Haruman.?" Tanya Awan yang sedari tadi hanya mendengar kan ucapan dirinya bersama gurunya.
"Ehk....... Anu...... Itu...... Nak........." Ucap nya tergagap.
"Sudah...........! Sudah..........! Sudah.........! Abah sudah tahu Tuan Tedi apa yang kau mau di katakan." Ucap Aden Haruman tersenyum.
__ADS_1
"Kamu mau menanyakan siapa dalang di balik kasus pembunuhan Anak buahmu dan dirimu kan.?" Tanya Aden Haruman.
"Sakti bener sakti Abah Aden Haruman bisa mengetahui isi hati saya." Ucap Tedi dalam hati.
"Hahahaha." Tuan Tedi Abah emang sakti." Seru Aden Haruman membaca hati Tuan Tedi. Sehingga membuat lelaki paruh baya itu menunduk karna mengetahui Aden Haruman membaca pikiran dalam hatinya.
"Huh......... Dasar licik, Aki aki Ompong ini." Sahut Awan.
"Hei......... Anak Jin Kuya syirik bilang bos." Kekeh Aden Haruman. Membuat Tedi Ferdiansyah tersenyum seraya geleng-geleng kepala.
"Tuan Tedi tidak usah heran antara Abah dan Nak Awan bila berbicara saling menghina dan meledek sudah biasa. Sejati nya kami berdua sudah mengetahui murid murid Abah. Dan anak Jin Kuya ini sudah Abah anggap anak sendiri, terkadang sipat dan kelakuannya membuat hati Abah bikin emosi dan marah'." Ucap Aden Haruman menjelaskan.
"Iya Abah. Apakah ada nasehat untuk saya menghadapi orang orang yang akan berniat jahat kepada keluarga saya. Apalagi nanti hari Sabtu anak pertama saya akan melakukan perjalanan menuju kota kecil untuk memantau proyek perumahan yang sedang di jalani oleh kontraktor CV Hansel Mandiri anak perusahaan dari PT Bina Sakinah Group. Menurut kabar informasi yang di dapatkan oleh asisten saya bahwa perjalanan menjadi target buruan Adik Tiri saya menyuruh para pembunuh bayaran." Kata Tedi meminta nasehat.
"Hmmmmmmm." Tidak sederhana mungkin musuh yang di hadapi Tuan Tedi nanti nya akan ada bantuan Ghaib dari Gunung Nyongkokot sang penunggu nya adalah Raja Jin penunggu Goa Lawa yang berada di Jawa Tengah." Ucap pelan Aden Haruman.
"Tuan Tedi kapan akan bertemu dengan anakmu.?" Tanya Abah Aden Haruman.
"Untuk saat ini saya sedang bersembunyi dan tidak mungkin akan bertemu dengan anak dan istriku." Jawab Tedi Ferdiansyah.
"Kalau bisa nanti Air dari Tawasul kita di gunung Masigit. Untuk di mandikan atau di minum kan kepada anakmu." Kata Aden Haruman.
"Kalau untuk itu bisa Abah. Melalui Asisten saya." Jawab Tedi Ferdiansyah.
"Bagus kalau bisa mah segera di minumkan atau pun di mandikan." Titah Aden Haruman.
__ADS_1
"Siap....... Abah. Kebetulan asisten saya sedang berada di kawasan puncak Bogor.
Abah Aden Haruman tanpa menjawab hanya menyeringai menepuk pundak Tedi Ferdiansyah dan berlalu ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Tak lama setelah itu Abah Aden Haruman kembali dengan membawa dua botol air dan menyerahkan kepada Tedi Ferdiansyah dan Awan masing masing satu botol.
Air itu taburkan di sekeliling rumah kalian berdua tepat di saat senja akan datang." Ucapnya.
"Siap Abah................. Kata Awan di angguki oleh Tedi Ferdiansyah.
"Awan ingat pesan Abah satu. Jangan kau turuti amarah mu dan membalaskan dendam. Karena dendam itu tidak berkesudahan ikhlaskan saja semuanya. Biarkan hukum alam yang akan membalasnya. Tinggal kau saksikan saja kehidupan mereka yang telah berani berani nya berniat jahat kepadamu dan keluarga mu." Kata Aden Haruman memberi nasehat kepada anak angkatnya.
Sementara Awan hanya terdiam dengan senyuman kecil di wajahnya.
"Baiklah Abah aku akan mengingat pesan dan nasehat dari Abah." Jawab Awan.
Karna waktu sudah menunjukkan pukul 03:00 lalu Abah Aden Haruman menyuruh mereka berdua untuk beristirahat. Karna esok pagi Tedi Ferdiansyah akan bertemu dengan asistennya, jadi atas inisiatif dari pemuda itu untuk menginap saja di rumah Abah Aden Haruman. Agar esok pagi air buat anak pertama nya bisa di berikan kepada Robi Asisten nya itu.
**********************************************
Sementara di waktu yang sama malam itu di kediaman keluarga pasangan suami istri setengah tua sedang tertawa terbahak bahak di pukul 03:00 dini hari itu. Karna kiriman santet nya sudah mengenai sasaran nya tinggal menunggu kabar esok pagi Keluarga Siti Romlah beserta anak dan cucunya itu meraung-raung kesakitan. Dan tak menunggu kabar berita dari Toa masjid di kampung Situhiang bahwa seorang pemuda yang bernama Muhammad Awan Pratama di kabarkan meninggal dunia.
"Sayang sebaiknya kita tidur dan beristirahat. Besok di kampung kita dan kampung Situhiang akan gempar dengan berita berita dari ibu ibu tukang gosip mengabarkan bahwa keluarga Siti Romlah terkena penyakit yang begitu amat dahsyat." Ucap Engkos Kosasih tertawa terbahak bahak.
"Hahahaha." Ayo Suami ku. Aku sudah tak sabar menanti hari esok." Jawab Titin istrinya yang ikut membantu mengirimkan santet.
__ADS_1
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.