Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Nasehat Untuk Anaknya dari Lisnawati


__ADS_3

Muhammad Awan Pratama. Bunda tahu sekarang kau sedang di puncak kejayaan di usia yang masih belia. Kau sudah seperti Dewa. Tapi semua itu tidak ada apa apa nya bila kamu mempunyai sipat sombong tak bisa menerima pendapat dan perbedaan dari orang lain.


"Ingat Nak. Manusia bisa hancur oleh tiga perkara.


1 Harta.


2 Wanita


3 Tahta.


Bunda dan Nenek mu memberi masukan dan saran agar kedepannya, tidak terjadi permusuhan antar saudara. Seandainya Bunda. Bapak dan Nenek mu sudah di panggil menghadap sang pencipta. Kamu dan saudara saudara tidak akan ada permusuhan di antara kalian. Karna semua sudah di beli oleh mu.


Muhammad Awan Pratama. Kau anak yang di banggakan oleh Eyang mu. Buyut mu, dengan didikan Abah Aden Haruman. Buanglah sipat sombong dan ego mu. Bila kamu masih kukuh dengan pendirian dan sipat egoismu. Lupakan lah dengan merenovasi rumah Bunda." Lisnawati memberi nasehat dan pukulan telak kepada pemuda yang bernama Awan.


JEDDAR...............!!


Hati pemuda itu tercabik cabik bara api neraka yang begitu panas setelah seorang Ibu berkata dengan nasehat yang begitu telak menusuk kedalam kalbu pemuda itu.


"Astaghfirullah........... Bunda. Maapkan. Anakmu ini.' Lirih Awan langsung bersujud tepat di kaki Ibu kandungnya Lisnawati.


Sesaat hatinya terselimuti sipat sombong dan angkuh karna mempunyai harta dan jabatan Padahal di dalam hati ibunya. Sipat itu sangat di benci oleh nya.


"Bertawakal...... Selalu mengingat siapakah diri kita. Kata orang Sunda. Malik usik kersaning Allah. Tidak ada upaya tidak ada kekuatan Anging Pertolongan Allah. Ingat Nak. Jalan kaki mu, sang pencipta lah yang menggerakkan. Semua harta yang kau dapat itu hanya titipan sementara. Jangan lah terlena. Jangan lah sampai terbuai dan menjadi sombong." Kata Lisnawati seraya mengelus ngelus rambut anaknya penuh kasih sayang.


"Bunda maafkanlah kata-kata yang telah terucap oleh bibirku, anakmu terkadang telah menyakiti perasaan ibu, aku sungguh tidak kuasa untuk melihatmu sedih karena kelakuanku." Bunda. Maapkan Awan.! Apakah Bunda mau memaafkan anak mu ini yang telah membuat luka dan sakit di hati Bunda.?" Tanya Awan dengan Air mata yang masih mengalir.


"Tidak apa apa Nak. Bunda akan selalu memaafkan. Karna pintu maap buat anak anak Bunda akan selalu terbuka. Kedepannya jangan kau ulangi lagi sipat yang akan merugikan diri sendiri.


"Terima Kasih Bunda. Terima Kasih." Ucap Pemuda itu seraya menunduk kepalanya di pangkuan paha wanita yang telah melahirkan nya.

__ADS_1


Lisnawati membiarkan anaknya tertidur dalam paha miliknya. Ia memberi kode kepada suaminya dan Ibu nya untuk pergi dari ruangan ini. Karna Lisnawati mengetahui sipat anak nya yang nomor tiga bila sudah mempunyai salah kepada ibunya. Ia enggan untuk jauh dari ibunya.


Sepuluh menit kemudian setelah Hilman dan Romlah Nenek nya Awan tidak ada di ruangan tengah itu. Lisnawati pun membangun tidur anak nya. Karna kaki nya merasa kesemutan.


"Nak....... Bangun...... Kaki Bunda kesemutan dan terasa pegal." Ucap Lisnawati dengan penuh kasih sayang.!!


"Hmmmmmm. Nggak. Ahk.......," Rengek Awan. Masih betah tidur dalam paha Ibu kandungnya itu.


"Awan....... Ayo bangun.! Kaki Bunda kesemutan.!! Sebaiknya pindah tidur nya di kamar bila masih ngantuk." Titah Lisnawati.


Dengan bermalas-malasan Awan pun bangun dari tidurnya dan langsung menuju kamar tidur. Lisnawati hanya tersenyum bila melihat anaknya sedang merajuk. Seorang Ibu mengetahui sipat anaknya. Ia hanya berpura pura tertidur karna merasa malu tentang kesalahan yang telah di lakukan. Padahal suaminya dan Nenek nya sudah di suruh pergi dari obrolan pagi itu.


####


"Ibu. Sedang apa.?" Suamiku kemana.?" Tanya Lisnawati tiba tiba datang dari arah belakang.! Nenek Romlah sedang bersama Dena di dapur.!!


"Suami mu. Sedang keluar mau menemui Mang Salim dan Mang Rohman. Ibu sedang bikin Orek tempe kesukaan Cucuku Muhammad Awan Pratama. Ngomong ngomong mana Cucuku.?" Tanya balik Romlah ibu kandungnya Lisnawati.


Romlah hanya geleng-geleng kepala. Batin nya tersenyum melihat tingkah pemuda berusia 15 tahun itu bila sedang merajuk dan mempunyai kesalahan dalam dirinya.


Ketika mereka sedang asyik bercanda ria di dapur sambil memasak untuk sarapan di pagi hari itu. Tiba tiba ketukan pintu dan ucapan salam terdengar dari arah luar rumah bilik Lisnawati.!


"Tok......... "Tok......... !! Assalamualaikum.!!


Lisnawati. Beranjak tapi Ia tahan oleh menantu nya. Bunda biar Dena yang buka pintu nya. Terdengar suaranya mungkin temannya Awan. Kata Dena. Lalu berdiri melangkah menuju pintu. Lisnawati sendiri hanya mengangguk.!!


"Irma. Mira. Ayo masuk." Ucap Dena setelah pintu terbuka dan terlihat dua gadis cantik sedang berdiri di depan pintu rumah mertua nya itu.


"Dua gadis itu tersenyum kearah istri Ujang. Terima Kasih teh Dena. Apakah Awan ada, kata Kak Ilyas ketua pemuda kampung kita bahwa Awan malam pulang.?" Tanya Satu dari dua gadis cantik itu.

__ADS_1


"Iya. Emang malam Awan pulang. Dia masih ada di dalam kamarnya. Kalian berdua masuk saja." Titah Dena.


"Terima Kasih Teh. Ucap mereka berdua. Lalu melangkah menuju arah dapur dahulu untuk menyapa Ibu dan Nenek nya pemuda yang di cari oleh dua gadis itu.


Mira dan Irma melangkah menuju dapur. Sementara Awan keluar dari kamarnya dengan handuk di lilitkan dalam lehernya. Mereka berdua sama sama menganga mulut nya dan langsung di bekap oleh kedua tangan mereka berdua, Awan sendiri tersenyum matanya berkaca kaca.


"Pemuda itu merentangkan kedua tangannya. Di sambut hangat oleh dua gadis cantik yang menjadi sahabat nya.


"Kalian berdua. Aku kangen sama loe pada." Ucap Awan setelah dua gadis itu dalam pelukan pemuda tampan nan rupawan dan sedikit tengil.


"Hmmmmmm. Kita juga kangen sama loe Sarwan. Kau sekarang sombong dan jahat. Melupakan kita kita." Ucap Mira dalam pelukan dan Air matanya menetes seketika.


"Maapkan Gue. Mira. dan Irma. Sumpah demi Ibu ku. Aku sedang banyak kesibukan akhir akhir ini." Jawab Awan membela dirinya.


"Iya....... Awan. Kita berdua ngerti, dan memaklumi.! Kini Irma yang menjawab.


"Awan. Mira dan Irma. Ayo duduk. Sudah drama pertemuan. Sekarang kita sarapan bersama." Tegur Lisnawati.


Mereka bertiga pun melepaskan pelukannya dan tersenyum kearah wanita setengah tua.


"Malah senyam senyum. Ayo duduk." Kesal Lisnawati kepada mereka bertiga.


"Siap.! Ayo bidadari bidadari ku." Ibu Negara sudah terlihat kesal dan marah marah." Kekeh Pemuda itu menarik kedua gadis sahabatnya.!


"Dasar. Awan." Timpal Dena. Lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk di bawa ke ruangan tengah dan menyantap bareng mereka bertiga di pagi menjelang siang.


Awan dan dua gadis cantik sudah berada di ruangan itu. Tak lama hidangan pun datang oleh Dena dan kedua wanita hebat itu. Lisnawati dan Romlah.


Hari ini khusus Nenek membuat Orek Orek tempe dan sambal terasi sama ikan peda kesukaan Cucuku. Muhammad Awan Pratama." Ucap Romlah.

__ADS_1


"Makasih Nenek ku.!


Bersambung.


__ADS_2