
Malam semakin larut, ketiga wanita dan seorang pemuda masih duduk di ruangan tengah kontrakan yang di tempati oleh Azzahra dan anaknya beserta mbak Pipit.
Setelah tangisan Azzahra reda begitu juga dengan anaknya yang menangis di pelukan Mbak Pipit seorang wanita yang mempunyai kesalahan sangat fatal dan hampir tersulut dalam api dendam, berkat uluran tangan Azzahra Masika Fatharani. Mbak Pipit menjadi kepribadian yang sangat baik dan taat kepada sang pencipta.
"Bunda. Di minum air nya. Nabil yang membawa kannya. Kasihan kalau tidak di minum." Kekeh Awan untuk mencairkan suasana di malam itu.
"Hmmmmmm. Kak Awan, seketika Nabil menyeka air matanya. Bibirnya manyun membuat hati pemuda itu tenang melihatnya, begitu juga dengan Bunda Zahra tersenyum manis dan Awan langsung mengusap dengan kedua tangannya air mata yang mengalir dari kelopak mata bening seorang Nyonya Besar Ismail.
"Anakku. Coba kau jelaskan semuanya, tentang malam itu bertemu dengan adik Ipar dan Asisten Moch Ismail suami Bunda." Pinta Azzahra.
"Bu.. Bun.... Bunda......... Nabil tersentak kaget setelah Ibu kandung nya meminta penjelasan malam itu tentang kedua lelaki yang mencari Istri dan anaknya Moch Ismail.
"Nabil. Sayangku. Jangan dulu menyela ucapan dari Awan." Protes Azzahra.
"Iya...... Bun. Maap." Lirih Nabil.
"Awan jelaskan sekarang juga semua nya. Agar Bunda bisa memutuskan dan mempertimbangkan serta memaafkan mereka semua." Pinta Azzahra Masika Fatharani.
"Hmmmmm. Baiklah Bunda. Awan jelaskan semuanya. Tapi mohon jangan ada yang menyela, sebelum aku selesai menjelaskan semuanya.!!
"Malam Itu. Ketika Awan dan Nabil di bawa oleh Tedi Ferdiansyah dan Excel keruangan khusus bersama dengan dua orang yang memperkenalkan nama nya Moch Aidil dan Moch Ahmad dari perusahaan ISMAIL GROUP. Di negara Piramida. Selain kedatangan nya menghadiri pertemuan dengan pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group dan ada misi yang di amanat kan oleh almarhum kakak kandung Aidil yaitu suami Bunda Moch Ismail.
Azzahra terkejut setelah mendengar kan perkataan dari pemuda itu almarhum Moch Ismail. Berarti suamiku sudah meninggal, tapi ia tidak menyela, mendengar kan penuturan pemuda itu sampai selesai.
Moch Aidil dan Ahmad mencari keberadaan Azzahra Masika Fatharani dan anaknya Nabil Nur Fadillah, pertama ke kota Jogja, karna dulu sempat menyuruh Bunda untuk menemui sahabat Aidil di kota gudeg tersebut.
Karna koneksi perusahaan terbesar di negara nya mempunyai banyak rekan dan kolega bisnis, Moch Aidil pun menemui pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group untuk meminta bantuan dari Tedi Ferdiansyah dan orang orangnya. Tanpa di duga dan di sangka, Moch Ahmad yang sehari harinya menjadi Asisten suami Bunda. Masih mengenal dan mengingat sosok Nabil Nur Fadillah yang berusia sepuluh tahun, sedangkan yang di bawa saya sudah berusia 15 tahun. Ciri wajah dari hidung, mata persis seperti Nabil berusia 10 tahun.
__ADS_1
Malam itu juga. Aku yang sudah mengetahui bahwa dua orang warga negara asing itu mencari keberadaan Azzahra Masika Fatharani dan Nabil Nur Fadillah, lantas tidak langsung memberitahukan nya kepada mereka yang duduk di ruangan tersebut, karna terikat janji sama Bunda.
"Bunda dulu pernah berjanji sama Awan, bahwa identitas nya jangan sampai ada orang lain pun yang mengetahui nya.
"Awan juga memperkenalkan Nabil dengan nama Akila. Dan para pegawai Awan seperti Bu Dewi dan yang lainnya sudah di beritahu tentang gadis yang di bawa oleh nya kalau ada yang bertanya, bilang saja nama nya Akila.
"Bunda. Aku hanya menerima dan akan membantu mencari keberadaan istri dari almarhum Moch Ismail dengan koneksi yang aku punya. Aku tidak memberi tahu kan keberadaan Nyonya Azzahra dan Nona Muda Nabil Nur Fadillah." Kata Awan menjelaskan panjang lebar dan di anggukan oleh Nabil apa yang di ucapkan olehnya emang benar.
"Semua sudah Awan jelaskan kepada Bunda. Tidak ada yang di tambahkan atau pun di kurangi. Tapi perlu Bunda tahu. Bukan dari pihak Moch Aidil dan Ahmad saja yang mencari keberadaan Bunda dan Nabil, tapi pihak kakak tiri Nabil, yaitu Moch Rojak dan Moch Jabar juga mencari keberadaan kalian berdua. Maksud dan tujuan Awan tidak mengetahui nya.
Nabil terdiam. Bergeming. Jadi malam itu kedua lelaki itu adalah yang satunya Paman Nabil. Sementara yang memperkenalkan dirinya Moch Ahmad, yang terus menerus menatap Aku. Adalah Asisten ayah Aku." Batin Nabil bergejolak.
"Aku tidak percaya. Suamiku sudah meninggal. Tak percaya." Lirih Azzahra. Menundukkan wajahnya, menahan air matanya.
"Biar lebih jelas. Awan akan mempertemukan Bunda dan Nabil bertemu dengan Moch Aidil dan Ahmad." Kata Awan memberi saran.
Azzahra menggeleng kan kepalanya. Bunda tidak mau, Bunda tidak mau kembali lagi ketempat dimana. Aku dan anakku di campakkan. Bunda tidak mau terpisah dengan mu Awan.
"Bunda, akan tetap berada di negara ini dan tidak akan terpisah dengan Awan. Tapi setiap permasalahan bila kita tidak di bereskan tidak akan selesai. Bunda dan Nabil tenang saja Awan yang akan menjadi perisai di kalian berdua." Kata Awan meyakinkan Azzahra agar mau menemui mereka berdua.
"Terima Kasih Nak. Kalau begitu Bunda dan Nabil akan menemui mereka berdua." Jawab Azzahra tersenyum.
"Iya...... Kak Awan. Nabil juga akan ikut sama Bunda menemui Paman Aidil dan Paman Ahmad. Asal Kak Awan berjanji tidak akan berpisah dengan kita berdua." Sahut Nabil.
"Insyaallah. Awan seraya mengangguk.
"Kapan perkiraan nya Nak. Bunda bisa bertemu dengan mereka berdua.?" Tanya Azzahra.
__ADS_1
"Malam Minggu Bun. Karna Awan mau ada urusan terlebih dahulu dan menyiapkan penjagaan ekstra ketat. Yang di takutkan bukan dari pihak Moch Aidil dan Ahmad tapi dari orang orang yang di suruh oleh kakak tirinya Nabil.
"Bunda dan Nabil ikut aja. Apa kata mu Nak." Ucap Azzahra.
Obrolan pun semakin malam, setelah penjelasan yang di berikan oleh pemuda itu dengan sangat jelas dan detail serta berjanji agar tidak meninggalkan mereka berdua, akhirnya Azzahra dan Nabil pun bersedia bertemu dengan Moch Aidil dan Ahmad.
"Bunda. Nabil. dan Mbak Pipit karna waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Awan pamit mau pulang. " Ucap Awan undur diri.
"Nak..... Apakah tidak menginap lagi di sini." Pinta Azzahra mencegah.
"Terima Kasih Bunda. Tapi bila sering menginap nanti oleh warga di gerebek." Kekeh Awan.
"Hehehehe. Tinggal kawinkan saja Mbak. Awan sama Nabil." Timpal Pipit.
Wajah merah merona di Nabil. Ihk mbak Pipit apaan sih." Sahut Nabil tertunduk malu.
"Mbak. Pipit. Kalau Awan sih mau mau aja hahahaha." Pemuda itu tertawa lepas.
"Ahhhhggg........ Sakit Nabil. Pekik Awan karna di cubit oleh gadis itu.
"Sudah........! Sudah........ Jangan di ledek mulu Nabil. Kasihan muka nya memerah." Bela Azzahra.
"Hehehehe. Hehehehe. Awan dan Pipit hanya terkekeh.
"Bunda. Awan pulang dulu." Ucap nya seraya mencium tangan wanita itu.
"Iya....... Hati hati Nak.!
__ADS_1
"Siap. Ibu mertua." Kekeh pemuda itu lalu keluar menuju mobil mewah Marcedez Benz.
Bersambung.