Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Rahasia Yang di sembunyikan oleh Awan


__ADS_3

Tampak dalam panggilan video call, Pak Subadra berjalan memasuki rumah sakit dan berjalan menuju lorong lorong tempat orang orang di rawat inap di rumah sakit rakyat itu.


"Berhenti.... Pak Bedul..." Teriak Boyen...... Ia melompat dari sahung tempat duduk nya dan langsung berjalan kearah Bedul dan Juna yang sudah siap dengan posisi nya masing masing.


"Jangan bilang kau mau mengeroyok kita berdua hah.?" Tanya Bedul geram.


"Hahahaha.... Santai Pak Bedul..... Jangan lah dikit dikit kau emosi Pak... Nanti kau cepat tua." Jawab Boyen tertawa terbahak.


"Lalu....... Mau mu apa hah. Menghentikan kita berdua yang ingin menunjukkan siapa yang paling jago dalam pencak silat ini." Bentak Bedul.


"Hehehehe... Aku hanya ingin memberitahu terlebih dahulu sebelum kau memulai berkelahi dengan sahabat ku. Tentang panggilan video call ini." Terang Boyen menunjukkan ponselnya yang terhubung kepada Pak Subadra di sebrang telepon.


Bedul pun langsung seketika melihat layar ponsel yang di berikan oleh Boyen, tampak seorang wanita yang sangat ia cintai terbaring tak berdaya di rumah sakit dengan infus selang di hidung nya.


"Baa... Bajin... Bajingan..... Kalian hah.." Teriak Bedul sesaat amarahnya memuncak ponsel yang terhubung panggilan video call akan di lempar.


"Haap................!!


"Santai Pak Bedul..... Kau jangan sampai terbawa amarah dan meluap kan kepada ponsel saya yang tak berdosa ini, walau bagaimana pun ini ponsel baru seminggu saya beli hehehehe." Kata Boyen sigap memegang tangan kanannya yang hendak melempar ponsel milik nya seraya terkekeh.


"Tujuan kami berdua mengintai pergerakan anda sampai kembali ke kampung halaman, hanya untuk bernegosiasi dan mengakhiri perselisihan antara Nona Sulastri dan Tuan Muda Awan." Kata Boyen.


Mata nya masih melotot tajam kearah Boyen, seluruh tubuhnya bergetar hebat, jantung berdebar kencang, perlahan lahan nafasnya mulai teratur, tak ada pilihan lain buat Bedul untuk tidak melawan karena orang yang di amanatkan oleh guru nya ada dalam genggaman pihak lawan.


Sesaat setelah pernafasan nya teratur dan mungkin amarah yang ada dalam diri Bedul sudah dapat di atasi oleh nya, dia pun langsung bertanya kepada mereka berdua.


"Negosiasi seperti apa yang kalian inginkan.?" Tanya Bedul.

__ADS_1


Juna dan Boyen pun tersenyum, lalu ia pun mematikan panggilan telepon dengan Pak Subadra yang terlebih dahulu meminta ijin dan terdengar oleh telinga Bedul untuk secara musyawarah agar Pak Bedul maupun Pak Bedil serta Sulastri ingin selamat dari kejaran pihak kepolisian.


"Mari Pak Bedul kita berjalan menuju warung kopi agar lebih enak mengobrol nya." Pinta Boyen dan anggukan kepala dari Juna.


"Baiklah........ Mari ikuti saya, ada warung di depan paling lima ratus meter jaraknya dari sini." Jawab Bedul sudah sedikit santai.


"Silahkan Pak.." Kata mereka berdua serentak!! Lalu berjalan meninggalkan sahung yang ada di desa bawah tepat di kaki bukit gunung Kanyang.


###################


Sementara di salah satu kampung yang berada di kawasan puncak Bogor tepatnya di kampung Citamiang tempat nya satu keluarga yang masih ada garis turunan kerajaan Pajajaran.. Sedang kedatangan tamu yang tak lain adalah Cucu angkatnya.


Muhammad Awan Pratama, Nabil Nur Fadillah dan Siti Lara beserta Asep Sunandar, baru saja sampai di rumah Abah Aden Haruman, yang keberangkatan nya menuju ibukota Jakarta, di suruh singgah dulu oleh gurunya.


Hampir tiga puluh menit mereka mengobrol dengan Abah Aden Haruman dan Umi Lilis sekedar basa basi dalam obrolan tersebut.


"Abah........ Apakah ada nasehat buat kita kita.?" Tanya Awan kepada Aden Haruman..


Kini yang ada di ruangan tengah rumah Aden Haruman terdiam, setelah sang Tuan Muda bertanya kepada gurunya.


"Awan..... Untuk masalah yang di alami oleh Tang Kentang Dor.


"Abah Tang Tang Dor.." Protes Awan memotong pembicaraan guru nya yang salah menyebutkan namanya.


"Heeh. Itu namanya. Malas Abah nyebut namanya salah mulu." Keluh Aden Haruman.


"Tong di sebut Abah nama na." Lanjutkan Awan mendengarkan nya." Pinta Pemuda Hebat Seperti Dewa.

__ADS_1


"Begini Awan, setelah malam itu Abah bersama Kiayi Mangku Bumi dan si Juned serta Ayah si Kuya Asep Sunandar yang tak lain Kusuma meraga Sukma dan langsung melesat menuju rumah sakit dimana rekan bisnis mu itu sedang terbaring." Kata Aden Haruman terdiam sejenak.... Sebelum melanjutkan perkataan nya lagi.


"Tidak sederhana mungkin yang di alami oleh pasangan suami istri berwarga negara China itu terkena kiriman guna guna dari sang Istri muda yang dahulu menjadi pegawai bawahan nya." Terang Aden Haruman.


"Terus bagaimana cara mengobatinya... Apakah ada sesuatu yang harus Awan bawa dan langsung di berikan kepada Tuan Tang Tang Dor atau pun istri nya melalui anak atau pun sekretaris nya.?" Tanya Awan.


"Begini anak Jin Kuya..... Bilangin kepada anak nya si Kentang Dor yang bernama Liem Tank Cie, bila ayah dan ibunya mau sehat seperti biasa, berani gak beli sesajennya untuk mengusir santer yang ada di tubuh nya... Ingat harus pake uang dari Liem Tank Cie bukan uang dari kamu." Kata Aden Haruman..


"Hmmmmmmmmm." Gumam Awan.. Ia mengerti tentang kebingungan gurunya, Ia enggan untuk blak blakkan berbicara secara langsung kepada nya, karna ada nya orang lain.


"Awan ngerti Abah." Ucap nya. Aden Haruman pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Cucuku Muhammad Awan Pratama, setelah kau berdiskusi dengan anak nya perusahaan Tang Tang Group dan mencapai kesepakatan... Barulah kau menemui tujuan utamanya.." Pesan Aden Haruman.


"Ingat Awan....... Dalam pertemuan bersama kedua orang itu ada dalam keputusan mu... Seandainya kau memutuskan dengan ragu ragu maka semua nya akan tenggelam ke samudra yang paling dalam." Pesan lagi Aden Haruman.


"Awan paham dan mengerti, sesuai dengan pesan yang Abah sampaikan akan di laksanakan." Jawab nya dengan mata yang sangat tajam.


Lara dan Nabil begitu juga dengan Asep Sunandar tidak mengetahui dan bertanya tanya dalam hati tentang pesan yang di berikan oleh Aden Haruman kepada majikannya itu, ada rahasia yang di sembunyikan oleh Muhammad Awan Pratama kepada mereka yang di ikut sertakan dalam perjalanan ini.


"Kak....... Rahasia apa yang kamu sembunyikan kepadaku.. Kenapa perasaan dan hatiku ini sangat takut akan terjadi sesuatu yang membahayakan dirimu." Ucap Nabil dalam hatinya.


Hal itu juga yang di rasakan oleh Lara dan Asep Sunandar, dan membenarkan ke khawatiran dari Nyonya Dewi Ayunda selaku kaki tangan nya Muhammad Awan Pratama.


"Anak anakku... Nabil, Lara dan Asep Sunandar... Tak usah risau dan cemas tentang pesan dari Abah yang di berikan kepada anak Jin Kuya ini, karna Abah yakin dan percaya Awan tidak akan mungkin mengambil keputusan yang akan mencelakai dirinya sendiri." Ucap Aden Haruman membaca hati mereka bertiga.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2