
Minggu Pagi sebelum keberangkatan mereka.
Suasana Pagi hari itu pukul delapan pagi di Ruangan kantor Anugrah Awan Sentosa cukup hening ketika seorang pemuda yang baru berusia 16 tahun duduk di kursi meja pimpinan yang biasa ruangan itu di pakai rapat oleh beberapa staf perusahaan tersebut.
Sebenarnya hari Minggu kantor itu tutup tidak beroperasi sama sekali. Akan tetapi karna ada undangan dari pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group untuk datang orang orang yang ikut dalam penyelamatan Nyonya Agista seminggu yang lalu. Atas saran dari Bu Dewi sebelum kita berangkat ada baik nya berkumpul terlebih dahulu untuk membahas sesuatu dalam undangan tersebut.
Bu Dewi sendiri selaku motor dalam pertemuan itu mulai membuka kumpulan itu setelah kedatangan pemilik perusahaan Anugrah Awan Sentosa yang baru tiba dan sudah duduk di kursi pimpinan tersebut.
"Bos Awan silahkan di mulai untuk mempersingkat waktu perjalanan kita." Ucap Bu Dewi yang duduk di sampingnya.
"Terima Kasih. Bu Direktur." Jawab Awan dengan panggilan khas bila sedang berada dalam lingkungan kerja.
Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.
Yang saya hormati. Bu Dewi, Pak Kohar, Pak Arianto beserta keluarganya. Nona Amel, Iyus Saputra, Asep Sunandar, Hendra dan Hendri tak lupa salam hormat saya kepada Kang Usep dan Kang Boim beserta murid murid dari Abah Aden Haruman dan Opan Jaya Haruman.
__ADS_1
Terima Kasih ucapan hanya ucapan yang saya berikan atas bantuan dari saudara saudara semua yang hadir di ruangan pagi hari ini.
Sebelum kita menempuh perjalanan jauh menuju undangan dari Tuan Besar Tedi Ferdiansyah. Saya di sini mewakili kalian semua. Untuk sekedar mengingatkan agar nanti kita sampai di kediaman pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group untuk waspada dan berhati-hati. Karna menerima informasi dari Tuan Robi dan tuan Muda Excel Ferdiansyah. Bahwa anak dari Agus Ferdiansyah yaitu Adik tiri Tedi Ferdiansyah yang telah kita tangkap dan masih dalam proses di meja hijau. Kemungkinan akan membalas dendam kepada kita yang ikut dalam misi Minggu yang lalu.
Maka dengan ini saya menyarankan untuk berangkat secara terpisah dan berjarak tidak beriringan." Kata Awan berhenti sejenak melihat semua yang hadir di ruangan itu saling mengangguk kan kepalanya.
Untuk Bu Dewi dan keluarganya beserta Pak Arianto dan keluarganya berangkat bersama terlebih dahulu. Melalui jalur Sukabumi dengan di buntuti oleh dua mobil dari murid murid Aden Haruman. Sementara Asep dan Iyus Saputra beserta Hendra dan Hendri berangkat menuju jalur puncak Bogor dengan di ikuti oleh Opan.
Sementara saya sendiri akan menggunakan jalur barat dan masuk ke Tol Cipularang tanpa ada yang mengikuti mobil lainnya. " Kata Awan memberikan saran dan masukan nya.
"Mohon maap bos Awan menyela ucapan nya." Pinta Bu Dewi karna tidak setuju dengan saran yang di berikan.
"Silahkan Bu Direktur. Aku mendengar kanya.
"Awan Menjawab kekhawatiran Bu Dewi.
"Kenapa saya menggunakan jalur barat dan tanpa ada pengawalan dari kalian yang hadir di ruangan ini. Karna orang orang dari Tuan Muda Excel dan Tuan Robi menjadi pengawal bayangan dalam perjalanan menuju undangan tersebut.
Mereka yang hadir di ruangan itu tersentak kaget setelah mendengar jawaban dari pemuda itu. Dan bergejolak hatinya. Pantas dia tidak di kawal oleh kita kita. Bahwa bos Awan sudah ada yang mengawal dari kejauhan." Batin semua orang yang ada di ruangan itu.
"Hmmmmmmm. Anak ini memang susah di tebak." Gumam Bu Dewi. Hingga Awan dan Pak Kohar yang duduk tidak jauh dari wanita itu hanya tersenyum.
"Apakah kalian semua tidak ada bantahan sama sekali." Ucap Awan setelah saling bisik membisik di antara mereka selesai.
__ADS_1
"Ikut apa kata bos Awan." Jawab mereka serentak.
"Bagus........ Bagus.......... Baiklah kalau begitu. Kita akan berangkat sekarang juga." Ucap Awan lalu berdiri di ikuti oleh mereka semua dan melangkah keluar menuju mob masing masing.
Iring iringan mobil berbagai tipe dan merk yang berbeda mulai bergerak meninggalkan kantor pusat Anugrah Awan Sentosa. Tak lama iring iringan mobil pun mulai memisahkan perjalanan nya di pagi hari itu. Dua mobil Honda Brio RS yang di ikuti oleh dua mobil Suzuki Ertiga mengarah ke Jalan Sukabumi sementara dua mobil Toyota Agya dan Ayla yang di ikuti oleh mobil Xenia mulai bergerak berjalan menuju jalur puncak Bogor. Kini mobil yang satu nya Mobil Mewah Marcedez Benz e-class berbelok menuju jalur barat mengarah pada jalan utama labuhan Cianjur Bandung menuju pintu masuk tol Cipularang dengan kecepatan 60 km perjam.
###
Waktu yang sama hanya berbeda tempat pagi itu. Tepatnya di kawasan Jakarta Timur di kediaman Mansion Tuan Besar Agus Ferdiansyah. Seorang pemuda berusia 24 tahun sedang duduk bersama Ibu dan adiknya yang selisih tiga tahun dengan dirinya.
Dalam kebersamaan mereka bertiga sedang membahas satu keluarga yang menjadi musuh nya, yaitu keluarga Tedi Ferdiansyah akan mengadakan jamuan khusus seluruh staf dan kolega kolega bisnisnya setelah mengabarkan dari Tuan Muda Excel dan di perkuat oleh Asisten Tuan Besar yaitu Robi bahwa Pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group belum meninggal dan akan di bahas nanti dalam jamuan makan malam setelah sampai nya orang orang yang menyelamatkan keluarga mereka.
Anak pertama Agus Ferdiansyah yang mendapatkan kabar dari Anak buahnya yang berada di Kota Jakarta yang sengaja Ia susupkan dalam kantor perusahaan Tedi Ferdiansyah, langsung kaget dan tadinya tidak percaya. Akan tetapi setelah di berikan bukti bahwa lelaki tua itu masih hidup. Firmansyah pun langsung kembali dari kota Jogja yang sedang mencari keberadaan anak dan istrinya Moch Ismail yaitu Azzahra Masika Fatharani dan anaknya.
Firmansyah kini kembali ke kota Jakarta dengan kekuatan yang sangat kuat, membawa puluhan para preman bayaran yang ada di Kota Jogja dan kota kota lainnya. Finansial yang ia dapatkan dari Tuan Safir guna menemukan anak dan istrinya Moch Ismail. Ia gunakan untuk merekrut para preman yang sadis dan kejam serta jago dalam beladiri.
Tujuan nya satu membalas dendam dan dengan puluhan para preman pencarian Azzahra Masika Fatharani dan anaknya akan semakin mudah.
"Firmansyah langkah selanjutnya. Apa yang akan kau lakukan guna membalas dendam ayah mu.?" Tanya wanita paruh baya ibu kandung nya itu.
"Ibu tenang saja. Aku sudah mempunyai cara dan kekuatan yang sangat besar. Tapi kita tidak usah berburu buru, karna kemungkinan terbesar dari orang orang lelaki busuk Tedi Ferdiansyah saat ini sedang dalam keadaan waspada tingkat dewa." Jawab Firmansyah dengan sorot mata yang menyala nyala.
Bersambung.
__ADS_1