Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Preman Bayaran Engkos Kosasih sudah tiba


__ADS_3

"Ayo kita berangkat sekarang juga." Ucap Ketua Preman yang di bayar oleh Engkos Kosasih.


"Siap bos. Ucap lima anak buahnya.!!


"Masih ada dua jam lagi untuk mengeksekusi. Tapi kita harus bergerak dari sini. Karna perjalanan menuju rumah target sekitar satu jam lebih lama nya." Ucap Ketua preman itu setelah dia naik dalam motor nya.


"Cekkk..... Cekkk....... Brem...... Brem....... Brem...... Starter motor di hidupkan... Bos apakah tidak langsung kita bantai saja setelah sampai di rumah korban.?" Tanya Anak buahnya seraya menghidupkan mesin motornya.


"Jangan kata bos Engkos Kosasih mereka akan tertidur pulas tepat di pukul satu dini hari dan keaadaan kampung pun terasa hening setelah lewat tengah malam." Protes Ketua Preman.


"Baiklah bos kalau begitu kita berangkat sekarang juga." Titah Anak Buah nya dan anggukan dari yang lainnya.


"Ok." Siap. " Jekk..... Jekk...... Jekk.... Brem.... Brem..... Brem....... Bos preman itu menyelah mesin motornya dengan kaki dan terdengar mesin yang sedang di paut paut oleh tangannya sebelum memasukkan gigi motor tersebut.


Empat motor yang sudah di modifikasi dengan Ban Besar pun kini mulai melaju secara beriringan di malam itu, menuju arah gunung gong gong.


Sementara Engkos Kosasih sendiri sedang mengobrol bersama suaminya Lara wanita beranak satu yang tadi di bukit gunung gong gong berani nya mengusir dan membentak serta menolak permintaan untuk balas dendam atas kematian dari ayah nya yaitu Mbah Wongso. Hingga Engkos Kosasih merencanakan sesuatu kepada wanita dan para keluarganya.


"Pak. Engkos kenapa ya malam ini perasaan ku, gelisah akan terjadi sesuatu.?" Tanya Kasim suami Lara.


"Masa. Nak Kasim. Ahk itu mah perasaan saja. Atau jangan jangan Nak Kasim belum ngopi." Canda Engkos Kosasih.


"Sudah tiga gelas Pak. Kalau ngopi mah." Jawab Kasim dengan senyuman ramah.


"Saya sendiri sehari Enam gelas Nak. " Ucap nya. Ahk masa Pak Engkos." Balas Kasim.


"Engkos tersenyum. Aslina Nak Kasim. Kalau tidak minum kopi dan Rokok badan terasa lemas." Keluh Engkos.


"Jangan Banyak banyak Pak gak baik pada lambung." Pesan Kasim seraya menguap tanda mengantuk tapi hati dan pikiran gundah gulana.


"Nak Kasim sebaiknya segera istrahat, dari tadi saya perhatikan sudah menguap beberapa kali. Hehehehe. Tawa kecil Engkos Kosasih.


"Iya Pak tapi entah kenapa hati dan pikiran ku saat ini sedang gelisah." Keluh nya.


"Sebaiknya di tidurkan." Saran dari Engkos Kosasih.

__ADS_1


"Baiklah..........!! Kalau begitu saya istrahat duluan Pak Engkos." Ucap nya meminta Ijin.


"Silahkan.............!! Nak Kasim dengan senyuman.


"Dreet............ Dreet............. Message bergetar di ponsel milik Engkos Kosasih.


"Bos saya bersama lima anak buah sudah berada di kampung yang di kirim melalui serlock.


"Bagus tunggu satu jam lagi tepat pukul satu dini mulai mengeksekusi." Balas Engkos Kosasih.


"Siap bos. Perintah dari anda akan saya laksanakan.!!


###########################


Di kaki bukit gunung batu. Agus Ferdiansyah yang sedang berada di ruangan atas bersama Bob Hidayat dan Bos Haikal. Mulai turun ke bawah menghampiri salah satu anak buahnya agar segera menelepon anak dari Nyonya Agista.


"Pengawal...........!! Teriak Agus Ferdiansyah hingga Nyonya Agista yang tertidur dengan kaki dan tangan di ikat terbangun mendengar teriakan adik iparnya.


"Tuan Besar saya menghadap.!! Kata pengawal setelah mendengar teriakkan dari Bos nya.


"Sekarang telepon anak Tedi Ferdiansyah busuk itu. Sudah sampai mana. Apakah dia berangkat atau tidak." Titah Agus Ferdiansyah.


"Tut.............!! "Tut...........!! "Tut............!!


"Selamat malam Tuan Muda Excel yang terhormat.!! Kata pengawal itu setelah telepon nya tersambung.


"Bangsat...... Tidak usah basa basi. Cepat katakan tujuan mu menelepon malam ini." Geram Excel di sebrang telepon.


"Hahahahaha........ Santai Tuan Muda.......!! Tidak usah emosi. Saya hanya mau menang kan apakah kau jadi datang kesini untuk menjemput ibu mu." Kata Penculik itu.


"Bajingan kau. Tunggu lah aku setengah jam lagi sudah sampai di lokasi yang kau kirim." Kata Excel.


"Hahahaha..... Aku suka gaya mu Tuan Muda. Ingat jika kau sampai lapor kepada polisi....... Aku pastikan Ibu mu sudah tak bernyawa." Ancam penculik itu.


''Kamu tenang saja...... Aku tidak membawa polisi dan melaporkan kepada pihak kepolisian. Akan tetapi bila kulit ibu saya tergores sedikit pun. Kau akan tahu akibatnya." Excel membalas ancaman dari pihak penculik itu.

__ADS_1


"Bagus.........!! Bagus....... Aku tunggu kedatangan mu." Pinta penculik itu. Lalu mematikan telepon nya.


Setelah panggilan telepon itu berakhir. Agus yang secara langsung mendengar kan obrolan penelepon itu karna di loadspeker, langsung memerintahkan para pengawal nya untuk siap siaga. Bagaimana pun Excel tidak mungkin tangan kosong. Setidak nya dia pasti membawa beberapa anak buahnya.


"Pak Haikal segera atur posisi anak buah anda. Untuk bersiap siap." Titah Agus Ferdiansyah.


"Perintah dari Tuan Besar, akan saya laksanakan.!!


"Pak Bob Hidayat........ Teman mu yang bernama Betmen untuk di ikut sertakan bersama anak buah Pak Haikal." Kata Agus memberi saran.


"Sudah di bicarakan Tuan Besar, tadi ketika dia datang dan saat ini Betmen sudah berbaur dengan mereka.!!


"Bagus........ Ayo kita sambut kedatangan Excel dan kita akan berpesta malam ini. Hahahahaha." Tawa Agus Ferdiansyah di iringi oleh Bob Hidayat dan Haikal.


########


"Tuan Robi........... Terlihat dari pantauan pihak musuh sudah mempersiapkan anak buah nya di titik titik tertentu. Pesan chat di kirim kepada Asisten Tuan Besar dari Iyus Saputra.


"Baik........ Iyus informasi di terima. Saya bersama beberapa pengawal sudah siaga di posisi masing masing." Balas Robi yang sedang memantau di titik lain.


****


"Kak. Hendra Kak Hendri. Tolong ya selamatkan ibu saya." Lirih Friska. Setelah mereka berdua mulai mengikuti langkah Awan dan Kakak nya Excel.


"Nona Muda. Akan kita usahakan dengan seluruh nyawa ku." Ucap Hendra dengan sorot mata yang tajam.


"Terima Kasih Kak. Kebaikan kalian berdua tidak akan Friska lupakan." Kata Nya dengan suara serak.


"Nona, Muda............! Anda tidak usah khawatir dan cemas. banyak banyak lah berdoa. Serta yakin lah pada sosok pemuda itu. Semua akan cepat selesai dan berlalu." Ucap Hendra menasehati.


Angguk seraya menyeka air matanya. Ia berlalu menghampiri pemuda tengil yang tampan dan rupawan itu.


"Awan...... Adikku berhati hati ya. Kau harus janji kepadaku agar kau kembali dengan keaadaan selamat dan membawa Ibu dan Kak Excel." Kata Friska memeluk erat pemuda bernama Awan. Usapan tangan yang di berikan pemuda itu kepada anak Tedi Ferdiansyah.


"Bersabarlah dan banyak berdoa. Itu yang harus Kak Friska lakukan sekarang ini. Aku dan yang lainnya hanya sebuah pelantara jalan untuk membebaskan Ibu mu dari orang orang jahat.

__ADS_1


"Bila sang maha tunggal sudah berkehendak.Kita sebagai seorang hamba hanya bisa pasrah dan berserah diri.


Bersambung.


__ADS_2