
Keberanian dari seorang istri mengungkapkan perasaan yang selama ini dia pendam dalam hatinya. Kini selama tiga tahun dia ungkapkan kepada sosok suami yang telah tega meninggalkan nya demi wanita lain yang mungkin lebih cantik dari dirinya.
"Bapak mungkin melalui hari-hari nya yang bahagia dengan istri barunya, bersenda gurau saling memadu kasih di mereka berdua. ingin waktu itu Ibu berontak dan mendatangi Pelakor yang telah merebut Bapak dariku. Tapi waktu itu aku berpikir kembali. Biarlah aku terima jalan takdirku di madu oleh suami ku. Asal dia tidak melupakan anak anak nya. Tapi kenyataannya jauh dari harapan. Bapak tak pernah pulang untuk sekedar menengok dan menanyakan kabar tentang diriku dan anak anakmu." Lirih Lisnawati dalam amarah yang tertahan. Lalu melanjutkan lagi ucapan nya.
"Kini Suamiku yang telah tiga tahun pergi datang menemui ku dan mengajak rujuk kembali. Membuatku dan anak anak terkejut dan berburuk sangka terhadap dirimu. Maka dengan ini sebelum Bapak menyentuh dan masuk ke dalam keluarga ini. Aku ingin bertanya apakah murni kembalinya atas kemauan sendiri atau suruhan dari istri muda Bapak.?" Tanya Lisnawati.
Hilman saat ini tidak bisa menjawab dia hanya diam membisu tatapan mata nya sang sayu menatap kearah istrinya yang sudah dia tinggalkan selama tiga tahun lamanya.!!
"Maap.!! Ucap nya singkat.!!
"Jawab pertanyaan dari Ibu Pak." Pinta Lisnawati.
"Bukan kata maap. Tapi minta penjelasan yang masuk akal.' Pinta Lisnawati lagi.
Diam. Itu lah jawaban dari Hilman saat ini.!!
"Baiklah bila bapak tidak mau menjawab pertanyaan dari Ibu. Dengan sangat terhormat aku menolak untuk bersama lagi." Kata Lisnawati lalu pergi meninggalkan suaminya yang sedang berada di teras rumah.
************
Siang pun semakin sore matahari memulai berubah warna kekuningan tanda senja akan datang di kampung Situ Babakan. Wanita setengah baya bersama kedua anaknya dan satu menantunya kini sedang berada di kediaman Ibu Romlah. Nenek kandungnya Muhammad Awan Pratama.
"Bu malam ini aku mau menginap disini." Kata Lisnawati di sore hari itu.
"Hmmmm." Ada apa.?" Kenapa kamu mau menginap di sini sedangkan suami mu di tinggalkan.?" Tanya Romlah ibu kandungnya.
"Biarlah Bu, dia merenung seorang diri mencerna dan menimbang perkataan ku, yang tadi siang aku dan suamiku sudah berbicara panjang lebar tapi dia tidak memberikan jawaban nya." Kata nya lesu tak bergairah.
__ADS_1
"Terserah kamu saja. Aku tak mau ikut campur urusan rumah tangga mu yang bikin pusing kepalaku.!! Ingat satu hal, Aku ibu kandung mu beserta Dena menantu mu di tugaskan oleh Awan anak ketiga mu untuk memantau gerak gerik Hilman." Kata Romlah tegas.
"Aku sudah tahu Bu. Makanya tadi aku ngajak berbicara dan langsung menanyakan kepada Bapak nya anak anak. Tapi dia hanya bergeming tanpa memberi jawaban." Kata wanita beranak lima itu.
"Lisnawati kita tidak di bolehkan berburuk sangka terhadap orang lain pun. Tapi rasa curiga itu harus ada. Lagian aku bersama anak anakmu juga heran kok tiba tiba suami mu datang dan meminta balikan lagi. Setelah tiga tahun nya meninggalkan keluarganya." Kata Romlah penasaran.
"Mudah mudahan suamiku kembali dengan rasa penyesalan dan tidak ada maksud lain Bu." Lisnawati hanya bisa berharap.
"Amiin yaa robball allamiin. Mudah mudahan Lis." Ucap Romlah dan di amin kan oleh menantu nya.
Senja telah datang suara adzan magrib berkumandang di Masjid Nurul Huda, yang tidak jauh dari kediaman rumah panggung Nenek Romlah. Lisnawati bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu mensucikan dirinya menghadap ilahi Robbi. Begitu juga dengan Ibu kandung serta anak dan menantunya.
Malam ini malam satu syuro pas dimana anak ketiga nya lahir ke alam dunia, setiap tahun di malam satu syuro. Lisnawati selalu menyambut datangnya bulan itu dengan membaca ayat ayat suci Al-Quran sampai pukul dimana Muhammad Awan Pratama lahir pukul 02:00 dini hari.
******************
Setelah sampai di kediaman rumah Tedi Ferdiansyah, pemuda itu pun kini sudah bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan menuju kawasan puncak Bogor.
Perjalanan Pemuda itu kini di sertai dengan ikut nya pemilik perusahaan Future Nugraha Company untuk sekedar bersilaturahmi dan ikut dalam menyambut tanggal satu syuro yang biasa Abah Aden Haruman beserta murid muridnya mengadakan Tawasul atau pun mengaji bersama di gunung Masigit. Konon katanya gunung Masigit itu adalah tempat belajar mengaji nya Eyang Haji Suryakencana penunggu Gunung gede.
"Nak Awan apakah sudah di masukkan motornya ke dalam garasi mobil.?" Tanya Tedi Ferdiansyah dengan memakai setelan baju Koko dan celana sayur dan memakai peci warna hitam.
"Sudah Pak ustadz Tedi." Goda Awan cekikikan. Hingga Tedi Ferdiansyah berkerut kening nya di panggil dengan sebutan ustadz.
"Ayo kita berangkat.! Biasa acara nya pukul berapa.?" Tanya Tedi Ferdiansyah.
"Kalau tanggal satu syuro, Abah Aden Haruman biasa memulai Tawasul nya dari pukul 10 malam, tapi sebelumnya kita kumpul terlebih dahulu di rumahnya Aden Haruman." Jawab Awan.
__ADS_1
"Berarti kita menjalankan mobil nya santai ya.! Kata Tedi Ferdiansyah.
"Iyaa Tuan Besar. Nanti di warung sembako kita beli beberapa rokok dan air botol untuk persiapan di situ." Kata Awan.
"Ok." Kamu yang bawa mobil ya." Pinta Tedi seraya memberikan konci mobil kepada pemuda itu.
Satu unit mobil Pajero Sport melaju keluar dari pintu pagar rumah mewah malam itu. Di dalam mobil dua sosok lelaki berbeda usia dengan menatap kearah depan kaca mobil itu.
Mobil pun melesat membelah jalanan labuan Cianjur di malam itu menuju kawasan puncak Bogor dengan kecepatan 60 km perjam.
Tepat di salah satu parapatan Citamiang mobil yang di kemudikan oleh pemuda berusia 15 tahun itu berhenti untuk membeli rokok dan makanan lainnya untuk di suguhkan di rumah Abah Aden Haruman.
"Tuan apakah ada yang mau di beli. Biar saya saja yang ke warung nya." Kata Awan setelah mobil berhenti dan terparkir dengan aman.
"Titip beli rokok 234 beserta air botol Aqua saja Nak." Kata Tedi Ferdiansyah mengeluarkan dompetnya. Tapi di tolak oleh Awan.
"Uang nya ada. Tuan Besar hehehehehe." Tolak Awan.
"Yaa sudah. Terima Kasih sebelumnya.!! Ucap lelaki paruh baya itu.
"Siap..............!! Seraya keluar dari mobil nya dan berjalan menuju warung sembako.
Tak lama setelah itu pemuda itu setelah selesai memberi rokok dan beberapa makanan serta minuman. Mereka berdua pun segera masuk kedalam mobil melanjutkan perjalanan yang hanya berjarak satu kilo meter lagi sampai ke rumah Abah Aden Haruman.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.
__ADS_1