Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Siapakah Mereka Berdua


__ADS_3

Sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi seorang pemuda bangun dari tidur panjangnya ketika semua orang masih terlelap dan nyenyak nya tidur.


Muhammad Awan Pratama, karna sudah terbiasa dari kecil hingga sekarang berusia 16 tahun tidur nya selalu terjaga dan bangun pukul 03:30 atau pun pukul 04 dini hari.


Begitu juga dengan hari ini, dia sudah bangun dari tidur nya sekitar pukul 03:00 padahal dia malam tidur hampir pukul 00:00 karna banyak nya pembahasan bersama dengan ketiga pengawal nya.


Awan langsung bangun dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan guyuran air yang masih dingin saat itu.. Selang beberapa menit kemudian setelah selesai aktivitas di kamar mandi. Ia pun kembali dengan wajah dan tubuh yang segar dan langsung memakai sarung dan menghamparkan sajadah sambil menunggu tiba nya waktu adzan subuh berkumandang.


Hampir satu jam tiga puluh menit dan setelah melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba yang taat, pemuda itu pun keluar dari kamar nya untuk menikmati secangkir kopi menunggu muncul nya sang mentari yang menyinari Bumi Pertiwi ini.


"Aden....... Biasa kopi." Sapa seorang wanita berusia 38 tahun dan sudah di anggap ibu sendiri oleh pemuda itu ketika pemuda itu keluar dari kamar nya.


"Hehehehe.. Seperti biasa Bu. Kopi luwak white kopi." Jawab pemuda itu.


"Siap Aden." Jawab Bu Ida singkat.. Ia pun beranjak ke dapur, sementara Awan langsung menuju ruangan depan teras rumah.


Tak lama kemudian pesanan kopi yang di minta oleh Awan pun datang dengan membawakan gorengan pisang kesukaan nya yang masih panas.


"Den kopi nya..... Ini gorengan pisang nya selagi panas." Kata Bu Ida seraya menatakan kopi dan sepiring yang berisi gorengan.


"Terima Kasih Bu...... Ehk.... Yang lainnya udah pada bangun belum.?" Tanya Awan sambil meniup niup kopi yang di suguhkan oleh Bu Ida.


"Baru Neng Siti Lara sama Nyonya Azzahra dan Nona muda Nabil yang bangun Aden... Asep Sunandar dan kedua temannya tampak masih tertidur kaya nya." Terka Bu Ida.


"Ohk...... Tolong bangunin Bu, udah siang bilangin nanti solat subuh nya bisa jadi subrang ( Subuh Berang ) hehehe." Titah Awan seraya terkekeh.

__ADS_1


"Mangga Aden...! Ucap Bu Ida seraya mengangguk!


Setelah kopi dan gorengan pisang di suguhkan dan Bu Ida pun telah kembali menuju dapur seraya membangunkan Asep Sunandar dan Sutisna serta Kang Syarif yang kemungkinan besar masih tertidur karna rasa lelah akibat perkelahian semalam.... Azzahra Masika Fatharani datang bersama Teh Lara ikut dalam obrolan di pagi buta itu.


"Hmmmmmmmm.! Nikmat tuh kaya nya." Tegur wanita setengah tua.. Awan pun menoleh dan tersenyum.


"Bunda.... Teh Siti Lara!! Sini duduk." Pinta Awan.


Mereka berdua pun langsung ikut duduk dan mencicipi gorengan yang ada di meja ruangan depan.


"Nak.. Berangkat jam berapa ke Jakarta.?" Tanya Azzahra sambil mengunyah gorengan pisang tersebut.


"Jam sembilan Bunda." Jawab Awan sama hal dengan Azzahra dan Siti Lara menikmati goreng pisang yang di buat oleh Bu Ida.


"Ohk.... Hati hati di jalan nya jangan ngebut ngebut." Pesan Azzahra.


"Nabil.... Ikut pokok nya awas kalau kak Awan gak ngajak.! Tiba satu suara datang dan langsung duduk di samping pemuda tersebut.


"Aduh..... Tuan Putri datang..." Tepuk jidat Awan.


"Kenapa gak boleh." Sungut Nabil... Melihat Awan menepuk jidatnya sendiri.


"Hehehehe..! Hehehehe..! Boleh atuh.. Apa sih yang nggak buat kamu." Rayu Awan.


"Huh.... Dasar tukang gombal." Ketus Nabil..... Azzahra dan Siti Lara hanya geleng-geleng kepala nya. Melihat mereka berdua..

__ADS_1


*******************


Sementara di lain tempat di salah satu Mansion mewah di kota Jakarta tepatnya di salah satu kompleks yang di tempati oleh orang orang berduit.


Seorang pemuda yang memiliki mata bening dan hidung mancung serta kulit yang begitu putih keluar dari kamar atas dengan pakaian yang terlihat rapi dengan stelan berdasi.


Pemuda yang di kenal dengan sebutan Tuan Muda Rojak berjalan kebawah melalui pintu lifs khusus yang berada di mansion itu dan langsung menuju sebuah ruangan meja makan yang telah di tunggu oleh dua Orang yang usia nya jauh dari pemuda tersebut.


Rencana hari ini Moch Rojak akan bertemu langsung dengan orang orang yang sudah tiba dari belahan dunia. Orang yang akan di temui oleh pemilik perusahaan Holding Company Group di antara adalah para gangster dan mafia kelas atas yang begitu kejam dan sadis serta tak pandang bulu bila melakukan tugas nya.


Para mafia dan para gangster yang sudah tiba di negara tempat Azzahra Masika Fatharani dan Nabil Nur Fadillah berada, masing masing membawa para anak buah nya sekitar seratus orang terlatih dan ahli dalam bidang lainnya.


Tuan Muda Rojak dengan di bantu Paman nya Abu Bakr tidak main main menjalankan rencana nya untuk menghabisi perisai atau tameng Azzahra Masika Fatharani dan Nabil Nur Fadillah.. Bagi Rojak dan Abu Bakr yang berusaha melindungi buruannya. Maka jawabannya adalah kematian.


Bahkan bukan dari segi lahiriah saja serta dari dunia kasat mata saja Rojak dan Abu Bakr akan menghabisi orang orang yang menjadi perisai buruannya itu, tetapi dari batiniah atau tak kasat mata yang di datangkan oleh pemilik perusahaan Holding Company Group.. Melalui tangan dingin Tuan Jabar beberapa paranormal tingkat dunia pun di datangkan oleh nya, bahkan dukun yang telah mengirim santet kepada Moch Ismail selaku ayah mereka berdua pun akan ikut dalam barisan orang orang Holding Company.


Kini Muhammad Awan Pratama dalam masalah besar, yang menjadi perisai bagi Nabil Nur Fadillah atau pun Ibu nya... Kini di depan mata nya akan berurusan dengan orang orang yang tingkat dalam seni beladiri jauh di atas dirinya atau pun para pengawal yang setia kepada nya.


Bukan Awan sendiri yang akan menghadapi masalah yang begitu besar dalam menghadapi para Mafia dan Gangster yang sadis dan kejam, tapi Aden Haruman pun ikut terseret dalam menghadapi dukun dukun sakti yang ada di muka bumi ini.


Hasil penyelidikan yang di lakukan oleh agen agen rahasia yang di datangkan oleh Tuan Muda Rojak dan Paman nya yaitu Abu Bakr... Ketika posisi Muhammad Awan Pratama dan para anak buahnya sibuk dengan permasalahan dari Engkos Kosasih, orang orang yang ahli dalam menyusup dan mengintai serta mencari informasi di masukan dalam barisan orang orang di sekitar Pemuda Hebat Seperti Dewa itu, sehingga dua tuan Muda pemilik perusahaan terbesar ke tiga di negaranya mengetahui semua yang berkaitan dengan Nabil Nur Fadillah dan Azzahra Masika Fatharani.


Tapi ada satu yang tidak mereka ketahui oleh Rojak dan Jabar maupun Abu Bakr... Yaitu dua orang yang tadinya muncul di hadapan Azzahra Masika Fatharani dan Nabil Nur Fadillah sekarang telah menghilang.


"Siapakah mereka berdua.?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2