
Dengan satu hentakan tangan seolah olah sedang menarik mahluk itu untuk masuk kedalam botol, tampak kelebatan bayangan hitam keluar dari tubuh Lara tersedot masuk kedalam botol di tangan kiri Muhammad Awan Pratama.
Dengan cepat Awan menutup rapat botol tersebut, Bersamaan dengan itu tubuh Lara pun lemes dan pingsan di atas pegangan dua pemuda yaitu Tarmin dan Asep Sunandar.
Sementara kondisi Awan sendiri langsung ambruk ke tanah aspal dengan kondisi napas yang telah terputus.
"Kak. Awan." Teriak Nabil berlari kearah pemuda yang ambruk di tanah yang beraspal malam itu.
"Kak. Asep cepat hubungi Bu Dewi agar membawa ambulans kesini." Kata Nabil penuh kepanikan.
"Siap Nona Nabil. Asep langsung melepaskan pegangannya wanita yang tadi kerasukan dan sepenuhnya di serahkan kepada Tarmin. Sementara para pengawal bayangan murid murid Mama Sepuh sedang sibuk mengikat seluruh para preman yang di bawa oleh Cungkring untuk di bawa ke pihak kepolisian dan di mintai keterangan untuk di usut tuntas semuanya sampai ke akar akarnya.
Tak lama kepanikan yang di Landa Nabil pun akhirnya berakhir ketika suara mobil sirine datang dan terdengar di telinga mereka.
"Alhamdulillah." Lirih Nabil. Kak bangun. Aku mohon Kak." Ucap Nabil terisak Isak dalam air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Pak Arianto pun datang bersama Bu Dewi dan beberapa anggota kepolisian. Mereka berdua lalu menghampiri seorang gadis yang sedang memangku seorang pemuda dengan air mata yang mengalir.
"Anakku kenapa Nabil." Tanya Bu Dewi panik melebihi kepanikan seorang Nabil.
"Bu Dewi. Sebaiknya kita bawa dulu ke rumah sakit bersama Teh Lara." Kata Akang satu memberi saran.
Sementara kondisi Lara tak jauh berbeda dengan pemuda yang berada di pangkuan gadis cantik yang sedang terisak Isak pilu melihatnya.
__ADS_1
##################
"Ia terbangun, kedua tangannya mengucek mata, melihat ke sekeliling sangat asing dan tak pernah sekalipun Ia menginjak di dataran hamparan Padang pasir yang begitu luas.
Pemandangan senja di Gurun Putih sangatlah memukau. Sinar matahari yang berwarna oranye bakal menerpa bebatuan dan memantulkan bayangan yang sempurna untuk fotografi. Rasanya seperti dalam lokasi syuting film 'Star Wars'. Subhanallah. Maha suci Allah, akan indahnya Padang pasir ini." Gumam pemuda yang takjub akan keindahan alam di waktu senja itu.
Pemuda itu mulai menarik napasnya, pikiran dan ingatan nya mulai menelisik kepada kejadian yang baru saja di alaminya.
"Bukan kah aku sedang bersama Nabil dan Asep serta Alicia makam di restoran yang ada di kota tempat kelahiran ku. Ingatan ingatannya tertuju setelah Ia keluar dari restoran itu dan di buntuti oleh para preman yang akan membunuhnya dan sampai di lokasi jalanan yang begitu sangat sepi senyap mencekam para preman itu mulai melancarkan aksinya.
"Ohk............ Tidak.!! Para preman itu sudah di tangkap oleh orang orang ku, dan waktu itu Teh Lara yang telah menghabisi kepala preman yang mau membunuh ku. Kenapa aku bisa di sini.?" Tanya pemuda itu kepada diri sendiri.
Pemuda itu mulai melangkahkan kaki nya dengan pikiran dan hati yang linglung. Kenapa Kenapa aku berada di sini bukan kah aku berada di jalanan yang begitu sepi bersama mereka.
Langit tampak sudah menjadi gelap, pemuda itu berjalan sudah satu kilo jauhnya di hamparan Padang pasir yang begitu luas, Tiba Tiba senyumnya mengembang tampak terlihat dua lelaki paruh baya dengan memegang tongkat di tangan kirinya dan tangan kanannya sedang memegang sebuah tasbih yang terlihat berkilau bagaikan emas intan permata.
"Pak Tua......!! Tunggu........ Pak Tua....... Tunggu." Teriak pemuda itu berlari tetapi semakin di kejar semakin menjauh.
Dua pria paruh baya itu mengacuhkan teriakan pemuda itu dan langsung menghilang begitu saja, pemuda yang berlari mengejar nya prustasi saat itu juga, Ia berlutut di hamparan Padang pasir itu.
"Kak..... Awan....... Ayo kita pulang. Bunda udah masak kesukaan mu." Tegur seorang wanita yang sangat Ia kenal dari arah samping.
Pemuda itu langsung mengangkat wajahnya dan menengok kearah samping suara yang menegurnya. Ia tersenyum lalu bangkit dan menghampiri nya, tetapi sama halnya dengan dua pria paruh baya semakin di dekati semakin menjauh.!!
__ADS_1
"Nabil............... Jangan pergi jangan tinggalkan Kakak." Teriak pemuda itu ketika sosok gadis yang menegurnya di saat Ia hampiri menghilang begitu saja.!!
Setelah kepergian Nabil dan dua Pria Paruh baya yang tidak di kenal. Tiba tiba dari arah depan sosok muncul dua sosok wanita yang paling ia hormati dan sayangi sambil mengelus ngelus rambutnya.
"Anakku. Muhammad Awan Pratama. Ayo Nak. Mari pulang. Masih banyak yang harus kamu selesaikan di dunia ini. Ayo Nak." Ajak dari satu wanita yang tak lain adalah Lisnawati Ibu kandung nya pemuda itu.
"Bu.... Bun.... Bunda......... Bu...... Bu Dewi." Serak suara Awan terbata bata. Ia bangkit dari berlutut nya dan memeluknya dengan erat seakan akan pemuda itu takut kedua wanita itu menghilang seperti Nabil dan kedua lelaki paruh baya yang pertama kali ia temui di Padang pasir ini.
"Muhammad Awan Pratama. Bunda tidak akan pernah meninggalkan mu walau bagaimana pun keaadaan mu, sesulit dan sesusah apapun kehidupan mu. Bunda dan Bu Dewi akan berada di samping mu. Ayo Nak kita pulang. Sahabat sahabat mu dan orang orang yang setia dengan mu menunggu kepulangan mu." Ajak Lisnawati.
Pemuda itu melepaskan pelukannya dan Ia tersenyum kepada Bunda Lisnawati dan Bu Dewi, lalu mengangguk.
Mereka bertiga berjalan bersamaan pemuda itu memegang erat kedua tangan wanita hebat dia berjalan di tengah dengan perasaan bahagia.
Senyum terukir di bibir pemuda itu sesekali menengok kearah Bunda dan Bu Dewi, tengokan yang di berikan pemuda itu dengan senyuman di balas oleh mereka dengan senyuman manis yang penuh arti.
Habitatnya seorang insan yang bernyawa tak selamanya Indah. Tak selamanya bahagia, ada saat nya keindahan itu sirna ada waktu nya kebahagiaan itu berubah menjadi kesedihan yang teramat dalam.
Disaat mereka bertiga sedang berjalan di hamparan luasnya Padang Pasir. Entah dari mana datangnya mereka sudah berada dalam lingkaran orang orang yang tidak di kenal, Tampak orang orang yang mengelilingi mereka beraneka ragam, Putih, Hitam, Kuning dan Bule tampak terlihat di kulit orang orang itu.
Tampa bersuara dan bertanya serta memperkenalkan dirinya masing masing, Orang Orang yang mengililingi mereka langsung mengeluarkan senjata api dan menembak nya kearah dua wanita yang paling di cintai dan di sayangi oleh pemuda tersebut.
"Deett....... Dertt.......... Dertt..........!
__ADS_1
Tembakan beruntun senjata Laras api panjang tepat di kedua wanita yang berada di sisi kiri dan kanan pemuda itu, dan dengan kedua matanya Ia menyaksikan Bunda dan Bu Dewi ambruk di Padang pasir oleh tembakan orang orang yang tak di kenal.
Bersambung.