
Harlev yang melihat pertahanan Muhammad Awan Pratama rapuh akibat baru saja melepaskan serangan segera mengirim tendangan kearah pinggang yang tepat mengenai sasaran hal itu membuat Awan terhuyung sedikit ke samping.
Namun belum sempat lawan meluruskan posisi gerakan nya selepas menyerang. Awan kini meluruk tampa memperdulikan rasa sakit akibat tendangan tadi dan langsung mengirim pukulan Hook yang telak mengenai rahang kiri lawan membuat Harlev juga terhuyung ke samping.
Jual beli pukulan kini tampak kini sedang terjadi antara Awan dan Harlev saat ini, membuat beberapa para preman yang sedang bertarung dengan para warga dan dua pengawal bayangan Kang Syarif dan Sutisna pokus nya terpecah kepada dua lelaki yang sangat indah di pandang.
Buat Asep Sunandar sama seperti melihat pertarungan melawan Haikal yang tadinya meragukan kemampuan majikan nya itu berbalik tercengang karena Awan mampu mengimbangi lawannya.
"Aku tidak harus menghawatirkan Tuan Muda dan sangat yakin bahwa Tuan Muda pasti akan mengalahkan lelaki itu." Ucap Asep Sunandar dalam hati.
Apa yang di katakan oleh Bob Hidayat anak muda itu cukup liat dan jago dalam ilmu beladiri. Mereka berdua sama sama tangguh, sama sama alot dan berdarah darah. Saat ini hanya yang mempunyai energi dan daya tahan tubuh lah yang akan keluar sebagai pemenang." Ucap Dika memuji pemuda tersebut yang bertarung dengan Harlev anak buahnya yang jago dalam beladiri.
"Hai.. Bangsat lihat saja faktor umur ya yang akan sangat menentukan saat ini. Aku melihat Harlev sudah melihat keletihan sedangkan Tuan Muda Awan masih keaadaan segar bugar.
"Bugh...........!!
"Bugh...........!!
"Arhk............!!
Telak tendangan mendarat kearah pinggang Dika yang di lancarkan oleh Syarif dengan memanfaatkan keadaan, karna posisi Dika saat bertarung melawan Akang satu yaitu Syarif pikiran dan mata nya tertuju kepada pertarungan antara Awan dan Harlev.
"Sialan kau Iblis.... Geram Dika lalu bangkit dan menyerang Syarif secara brutal.. Tapi Murid dari Mama Sepuh itu mampu menangkis setiap serangan serangan yang di arahkan kepada dirinya.
"Hahahaha...... Hahaha......... Setiap pukulan yang kau arahkan kepada ku.. Tak berarti apa apa terhadap ku." Kata Syarif Jumawa... Hingga Dika pun tampak terlihat prustasi di buatnya.
__ADS_1
"Perlu kau tahu melawan dan berani memusuhi Tuan Muda... Sama juga kau mencari penyakit hah." Bentak Syarif lalu dengan satu hentakan telak mengenai dada Dika, membuat Ia tersungkur tak berdaya.!
"Bughh............................!!
"Ahkkkkkkk.................. Suara teriak pegawai PT Bina Sakinah Group itu dan langsung ambruk di jalan yang beraspal.
"Gedebug!!..............!
Satu persatu para sahabat Bob Hidayat tumbang oleh orang orang Muhammad Awan Pratama.. Begitu juga dengan para preman yang di bawa oleh mereka, kocar kacir di serang para warga... Holik Simatupang dan Dika di antaranya sudah tak sadarkan diri.. Tinggal Betmen yang sedang berusaha menangkis dan menghadang serangan serangan yang di hantam kan oleh Sutisna.
Lara dan Tarmin sibuk dengan aktivitas nya menghajar habis habisan Bob Hidayat dan Sulastri.. Kedua nya bagaikan pasangan Srikandi yang bertugas memberantas para biang kerok yang meresahkan warga tanpa ampun.
Kini kembali lagi kepada pertarungan antara Awan dan Harlev..... Apa yang terjadi?
Ketika Harlev merasa memilik kesempatan untuk menendang bagian atas tubuh Awan yang terbuka, tanpa ia sadari bahwa itu hanya pancingan saja. Karena setelah itu Awan langsung merunduk dan menyapu kaki Harlev yang berdiri dengan satu kaki.
Persis seperti Awan menendang Supit dan Iwan ketika mereka berkelahi waktu perkelahian di jalan yang mengarah ke Saguling ketika pemuda itu menjebak orang orang dari Agus Ferdiansyah untuk membunuh Tuan Muda Excel.
Saat ini Tuan Muda Awan seperti orang yang kerasukan menyepak apa saja di bagian tubuh Harlev seperti sekarung padi yang sudah di tumbuk.
Bunyi bak baik buk pun terdengar bercampur teriakan minta ampun dari mulut Harlev.
Kini semua mulut para preman yang ada di area jalan provinsi yang begitu sepi dan hening pun ternganga dengan lebar seperti lubang belut di sawah.
"Kak........ Awan sudah...... Hentikan........ Redakan Emosi mu.. Kak.... Nabil mohon." Teriak Nabil yang melihat pemuda itu mengacuhkan permohonan Harlev yang berulang ulang kali memohon ampunan.
__ADS_1
Seketika pemuda itu pun menghentikan sepakan demi sepakan kaki nya ke arah Harlev setelah Nabil Nur Fadillah meminta untuk menyudahinya.
Bagaikan sebuah alur cerita yang di buat dalam perfilman dan di tayangkan dalam sebuah televisi. Setelah penjahat semua berhasil di ringkus tak lama kemudian suara mobil sirene kepolisian pun datang untuk menyelesaikan tugas nya yang sudah terlebih dahulu beres oleh Muhammad Awan Pratama dan para pengawal nya.
Kiriman lokasi oleh Kang Syarif dan Sutisna kepada Bu Dewi dan memberitahu kan semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada majikannya itu. Dengan cepat Bu Dewi pun langsung menelepon Pak Arianto untuk melaporkan kejadian majikan dari informasi dua pengawal nya tersebut..!
Subadra dan Kanit Reskrim Dikri serta Pak Arianto, langsung menghampiri pemuda yang sedari tadi mata nya memperhatikan seluruh area jalanan di malam itu, bagaimana anak buah nya dan para warga membantu pihak kepolisian meringkus para preman yang di bawa oleh Bob Hidayat.
"Tuan Muda!! Subadra berkata setelah berdiri di hadapannya..!
"Iya.. Pak Subadra." Jawab Awan!
"Mari kita pulang, semua tersangka sudah di bawa ke markas besar dan empat orang salah satu nya wanita di bawa ke RSUD sesuai permintaan dari anda." Kata Subadra.
"Baik Pak.. Perketat penjagaan di rumah sakit dan jangan sampai permasalahan ini bocor kepada pihak musuh.. Aku ada sesuatu yang akan di rencanakan untuk memancing orang orang dari Firmansyah dan perusahaan Holding Company Group." Kata Awan memberi perintah.
"Siap Tuan Muda.!!
"Asep Sunandar, Sutisna, Kang Tarmin dan Kang Syarif serta para warga yang ikut andil dalam penyelamatan malam ini. Saya Muhammad Awan Pratama berterima kasih banyak kepada anda semua." Kata Awan membungkuk hormat kepada mereka semua.
"Sama Sama Tuan Muda Awan." Jawab mereka serentak!
"Tuan Muda... Semua itu sudah menjadi tugas saya." Kata Asep Sunandar dan mereka bertiga Syarif dan Sutisna serta Tarmin, dengan mata berkaca kaca Awan pun mengangguk.
Malam pun semakin sunyi jam di pergelangan pemuda itu menunjukan pukul 22:00 hampir tiga jam lamanya mereka bergulat dalam permasalahan yang sebelum nya sudah di atur oleh Bob Hidayat dan kawan kawannya. Kini pemilik perusahaan yang baru seumur jagung berdiri pun mulai meninggalkan tempat tersebut bersama Nabil dan Lara serta yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung.