
Malam telah berlalu, dan sang bulan telah hilang seiring nya waktu pagi datang. Matahari tampak telah terlihat di ujung timur menyinari Bumi Pertiwi di pagi hari yang begitu sejuk dan dingin. Tampak seorang pemuda masih terbungkus selimut tebal di pagi hari itu, setelah di paksa dengan suara adzan subuh berkumandang. Pemuda itu bangun dan menunaikan kewajiban nya. Lalu ia tidur kembali, karna baru dua jam ia beristirahat malam itu.
Obrolan malam bersama dengan murid murid Mama Sepuh, tidak terasa sampai pukul kosong kosong dini hari. Pemuda itu pun memutuskan untuk pulang dan langsung menuju kawasan puncak untuk berkunjung ke Abah Aden Haruman sekedar memberitahukan salam dari Kiayi Mangku Bumi pondok pesantren Darul hikmah.
Hampir dua jam lebih Muhammad Awan Pratama mengendarai mobil mewah menuju kampung Citamiang Puncak Bogor.
Sesampainya di kediaman Abah Aden Haruman. Pemuda itu pun lalu menjelaskan semuanya tentang seorang wanita beranak satu yang telah Ia tolong empat tahun yang lalu dan sekarang wanita itu bersama dengan anaknya adalah sang pewaris dari perusahaan terbesar di negaranya yang sedang di cari oleh adik dan Asisten nya Moch Ismail.
Dalam obrolan malam itu, Aden Haruman hanya memberi petuah, agar hati hati. Karna perjalanan misi kali ini tidak bisa di anggap remeh. Menurut penglihatan mata batinnya. Bukan dari pihak pihak pencari istri dan anaknya Moch Ismail saja yang mengincar pemuda yang bernama Awan itu, tapi dari pihak yang telah memberikan santet kepada Bapak nya Awan juga menargetkan dan menjadi incaran para preman bayaran yang sudah di bayar oleh seseorang.
Malam itu obrolan bersama Aden Haruman. Awan sampai tersentak kaget setelah mendengar perkataan dari Abah Aden Haruman bahwa dirinya sedang di incar oleh seseorang yang kemungkinan orang terdekat di kampung Nenek nya. Atas dasar dendam dan rasa Iri hati dan dengki karna tujuannya untuk mendapatkan sawah milik Nenek Romlah tidak tercapai.!
"Anakku. Kamu tidak usah takut dan risau, dengan berkunjung ke pondok pesantren Darul hikmah dan meminta bantuan dari Kiayi Mangku Bumi yang tak lain adalah adik seperguruan Abah. Kamu sudah ada yang menjaganya secara lahiriah dan batiniah." Kata Abah Aden menenangkan ketakutan dalam diri pemuda itu. Lalu melanjutkan perkataannya lagi.
"Untuk dendam orang yang telah menyantet Bapak mu. Dan sekarang menargetkan untuk membunuh dirimu. Kamu tidak perlu cemas karna nanti akan ada seseorang yang akan menghadapi nya dan seseorang itu yang akan menumpas para preman serta majikannya.
Pemuda itu hanya manggut manggut dan mendengarkan saja. Tampa menyeka obrolan dari Abah Aden Haruman sampai selesai. Bila Lelaki paruh baya yang menjadi panutan pemuda itu mengobrol dengan serius. Awan pun tanpa berani membantah nya.
"Sebaiknya silaing cepat tidur, mata sudah terlihat sayu dan dari tadi menguap Mulu." Titah Aden Haruman.
"Hehehehe. Siap Abah. Awan tidur dulu." Ucap nya. Lalu beranjak menuju kamar yang ada di tengah karna matanya sudah tidak bisa di kompromi lagi.
************
__ADS_1
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh siang, tampak pemuda itu sedang mengucek ngucek matanya dan belum sepenuhnya seratus persen pulih dari tidurnya.
Setelah kesadaran nya seratus persen di kuasai, pemuda itu pun langsung bangun dan mengambil ponsel yang Ia cast tepat di samping tempat tidurnya.
Ada beberapa panggilan tak terjawab masuk kedalam ponsel nya yang Ia sengaja nada dering nya di diam kan agar tidak menggangu waktu istrahat tersebut.
"Hmmmmmm. Bu Dewi.! Yang menelepon di pagi hari ini. Lalu Awan pun mulai menelepon balik kepada nomor yang tak terjawab itu.
"Assalamualaikum. Bu Dewi. Mohon maap telepon ibu tidak ke angkat. Awan tadi masih tidur." Kata Awan setelah panggilan telepon itu tersambung.
"WaallAikum Salam. Iya Nak tak apa apa.! Tumben anakku bangun siang begini.?" Tanya seorang wanita dari sebrang telepon.!
"Iya. Bu Dewi. Malam tidur habis solat subuh. Karna ada sesuatu yang harus di kerjakan.?" Kata Awan memberi alasan.!!
"Makasih Bu. Telah mengingatkan Awan. Ngomong Ngomong. Ibu nelepon di pagi hari ada hal penting apakah.?" Tanya Awan.
"Hmmmmmm. Bukan kah Nak Awan, meminta Ibu untuk mengadakan rapat mendadak malam ini.?" Tanya Bu Dewi.
Awan langsung menepuk kening nya. Padahal kemarin setelah menerima telepon dari Tuan Muda Excel. Pemuda itu langsung mengirim pesan kepada Bu Dewi bahwa malam Kamis seluruh staf yang mempunyai jabatan khusus di perusahaan Anugrah Awan Sentosa untuk di adakan rapat.
"Nak apakah masih terhubung.?" Tanya Bu Dewi penasaran karna tak mendengar suara dari sebrang telepon.
"Ohk. Maap Bu. Awan lupa.!! Yaa sudah malam ini pukul delapan malam kita adakan rapat." Kata Awan.
__ADS_1
"Yaa.! Sudah ibu akan memberitahu kan kepada para staf dan orang orang khusus. Tempatnya di kantor pusat Anugrah Awan Sentosa saja ya Nak." Kata Bu Dewi memberi saran.
"Silahkan Bu. Atur saja. Awan mau mandi dulu dan langsung meluncur ke kota Cianjur." Jawab Awan.
"Hmmmmm. Emang Anakku saat ini sedang berada di mana.?" Tanya Bu Dewi.
"Awan saat ini sedang berada di Citamiang, di rumah Abah Aden Haruman. Mungkin satu jam lagi akan berangkat menuju Cianjur karna harus sekolah." Jawab Awan.
"Ohk begitu. Yaa sudah hati hati di jalan nya. Jangan ngebut ngebut bawa mobilnya." Kata Bu Dewi memberi perhatian lebih.
"Siap Bu. Kalau begitu Awan akhiri obrolan telepon ini. Ibu silahkan sibuk dengan aktivitas nya di sana.
"Ok." Nak.!!
Panggilan telepon bersama Bu Dewi di siang itu pun berakhir. Awan pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk membasuh seluruh tubuhnya dan berangkat ke kota Cianjur, karna banyak aktivitas hari ini yang harus di selesaikan. Di antaranya sebagai pelajar kelas sepuluh dan sore nya akan menjemput sepuluh murid Mama Sepuh di terminal Pasir Hayam.
Setelah beres dengan aktivitas dan meminta ijin sama Abah Aden Haruman beserta istrinya. Pemuda itu pun langsung bergegas menuju mobilnya, untuk segera meluncur ke perumahan Leles Residance, untuk mengganti baju seragam sekolah.
"Kapan kehidupan ku seperti anak anak muda seumuran denganku yang tidak mempunyai beban dalam hidupnya. Hanya menuruti perintah dari orang tua. Sekolah beres sekolah pulang kerumah dan main sama teman temannya. Yaa Allah aku ingin seperti mereka. Tapi apa daya, Faktor ekonomi keluarga yang mengharuskan aku mencari biaya untuk kehidupan diri sendiri dan adik serta bunda dan nenek." Ucap Hati pemuda itu sambil mengemudi mobil mewah tersebut.
Satu jam kemudian pemuda itu telah sampai di kediaman nya yang berada di perumahan Leles Residance. Lalu dengan buru buru pemuda itu langsung berganti pakaian dan masuk lagi kedalam mobilnya mengejar waktu yang sebentar lagi bel sekolah masuk.
Bersambung.
__ADS_1