Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Obrolan Dua lelaki berbeda Usia.


__ADS_3

Anakku.......... semakin gagah dan tampan. Kurang lebih dua Minggu tidak bertemu." Kata Tedi Ferdiansyah melepaskan pelukannya.


"Hehehehe. Tuan Besar pandai memuji. Aku masih segini aja tidak ada perubahan." Jawab halus Awan.


"Ayo kita duduk, Banyak yang ingin aku diskusi kan dengan mu Nak." Ajak Tedi seraya duduk di gazebo.


"Siap Tuan. Tapi ada yang kurang dari tempat ini." Kata Awan tersenyum.


"Luwak white kopi.!! Tebak Tedi Ferdiansyah.


"Tepat sekali hahahahaha." Tawa Awan sumringah.


"Simbo.......... bikinin kopi luwak white dua." Teriak Tedi kepada pembantu nya.


"Baik. Tuan' Balas Simbo dengan nada yang tinggi.


Tak lama kemudian mereka berdua duduk dengan di temani dua gelas kopi dan beberapa cemilan di saung yang ada di halaman rumah milik Tuan Besar Tedi Ferdiansyah.


"Nak Awan, apakah masih ingat tentang perkelahian tempo dulu di hutan jati yang mengarah ke gunung mananggel malam itu.?" Tanya Tedi di sela mulai obrolan di siang hari.


"Masih Tuan dan sampai saat ini juga saya masih mengingat nya. Emang nya kenapa Tuan.?" Tanya Awan penasaran.


"Begini Nak Awan. Semua orang orang kantor Future Nugraha Company dan beberapa rekan bisnis serta kerabat dan saudara saudara saya, belum mengetahui bahwa saya masih hidup. Mereka menyangka bahwa saya sudah mati dan masih mencari keberadaan minimal mayat saya. Kenapa saya pribadi bersama asisten dan istri serta anak saya menjalani rencana ini. Karna mau mengungkit dalang serta tersangka utama di balik tragedi malam itu." Kata Tedi Ferdiansyah berhenti sejenak. Lalu melanjutkan lagi ucapan nya.


"Rencana yang saya sedang jalani. Akhirnya menemukan titik terang dengan informasi yang saya dapat dari asisten saya bahwa mereka sekarang menargetkan kepada Excel Ferdiansyah yang akan memantau proyek yang ada di kota kecil ini." Tedi Ferdiansyah menjelaskan kepada pemuda itu.


"Lanjutkan Tuan Besar saya masih mendengar kan penjelasan dari anda. Supaya saya bisa mencerna dan memberi solusi." Pinta Awan dengan wajah yang sangat serius.


"Begini Nak Awan, apakah sempat mengingat sewaktu Nak Awan mau menyelamatkan saya dari pembunuhan itu, salah satu preman pembunuh bayaran itu menyebutkan sebuah nama.?" Tanya Tedi Ferdiansyah.


"Yaa...... Aku masih ingat mereka menyebutkan orang yang menyuruh nya itu. Bob Hidayat." Jawab Awan.


"Apakah Bob Hidayat orang dari perusahaan PT Bina Sakinah Group yang bekerja sama dengan Future Nugraha Company di bidang pembangunan perumahan." Tebak Tedi Ferdiansyah.

__ADS_1


"Mungkin Bisa jadi tersangka mengarah ke sana Tuan." Saran Awan.


"Kapan Tuan Muda akan datang ke kota kecil ini Tuan Besar.?" Tanya Awan.


"Hari Sabtu sekarang Nak Awan.!!


"Apakah Tuan muda akan di kawal oleh para pengawal atau berangkat dengan orang orang kantor saja.?" Tanya Awan.


"Aku sudah menugaskan kepada Asisten saya untuk memberi kawalan kepada anak saya." Jawab Tedi Ferdiansyah.


"Kalau menurut saya lebih baik Tuan muda tidak usah di kawal dalam perjalanan menuju kota kecil ini." Saran Awan.


"Kenapa Nak Awan punya pemikiran kesana.?" Tanya Tuan Besar penasaran.


"Kalau Tuan ingin menangkap tikus dan mengetahui siapa dalang di balik semua nya. Tuan harus bisa mengambil tindakan yang mungkin menurut Anda akan membahayakan keluarga tuan sendiri.!


"Biarkan Tuan Muda berangkat sendiri atau bersama supir perusahaan. Para pengawal sudah bersiaga di posisi yang memungkinkan akan membantai Tuan Muda Excel. Pihak pembunuh bayaran tidak akan melakukan tugasnya di tempat tempat ramai. Apalagi kemungkinan terbesar preman preman yang akan membantai Anak Tuan Besar adalah pembunuh bayaran yang sama." Kata Awan memberi saran dan masukan.


"Dimanakah titik rawan pembantaian yang kemungkinan terbesar pihak pembunuh bayaran itu akan mengeksekusi buruannya.


"Kemungkinan terbesar di lokasi proyek pembangunan perumahan bila mereka mengeksekusi nya di siang hari.


"Bila malam hari.?" Tanya Tedi.


"Mereka akan memancing Tuan muda ke tempat yang jauh dari para penduduk seperti di hutan hutan kota kecil ini." Jawab Awan lalu menyeruput kopi yang sejak tadi di suguhkan.


"Baiklah. Aku akan membicarakan segera kepada asisten saya tentang saran dan masukan dari anakku yang paling tampan dan cerdas." Puji Tedi Ferdiansyah dengan senyuman manis.


"Alhamdulillah." Banyak orang orang yang memuji diri tampan dan cerdas. Tapi sayang beribu sayang. Puji itu hanya milik ilahi Robbi sang pencipta yang maha Esa." Kata Awan.


Cukup lama mereka berdua mengobrol hingga suara adzan dhuhur pun berkumandang di kampung yang baru di tempati oleh pemilik perusahaan terbesar di Indonesia.


***************************

__ADS_1


Sementara di kampung Situhiang seorang lelaki setengah tua sedang menikmati kopi yang di suguhkan oleh istri nya di teras rumah yang menghadap kearah rumah seorang gadis cantik yang selalu memakai kerudung bila dia keluar rumah.


Pak Hilman lelaki setengah tua itu biasa orang orang menyebut atau memanggil nya. Dia baru menginjak kan kaki dan tinggal di rumah Lisnawati istrinya setelah tiga tahun tidak pernah pulang atau pun tidur di rumah yang jauh kata layak dan berdinding bilik tampak kumuh terlihat dari luar.


Tak lama setelah itu istrinya datang menghampiri nya dengan membawakan beberapa kueh untuk ikut menemani nya dan ada sesuatu yang mau di obrolkan.


"Pak kenapa melamun. Apakah ada yang sedang di pikirkan saat ini.? Tanya Lisnawati seraya duduk di hadapan suaminya.


"Ehk Bu. Anak anak pada kemana kok dari tadi gak kelihatan.?" Tanya Hilman tidak menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Anak anak ikut sama Dena menantu kita pergi ke rumah Nenek nya." Jawab Lisnawati.


"Bapak kenapa. Kok Ibu perhatikan melamun terus.?" Tanya Lisnawati penasaran dengan suaminya semenjak kembali dia lebih banyak diam.


"Apakah. Awan' menerima kepulangan ku dan kembali menjadi keluarga yang utuh lagi.


Wanita berstatus istri itu menatap kearah suaminya dengan tatapan iba dan kasihan.


"Entah lah Pak. Ibu tidak tahu dan tidak bisa menjawab nya." Lirih Lisnawati dengan wajah sayu.


"Uhk........ Dengus Hilman.........!


"Apakah Bapak kembalinya kesini. Itu murni dari hati yang paling dalam. Atau sekedar hanya suruhan dari istri muda Bapak.?" Tanya Lisnawati yang entah dari mana dia mempunyai keberanian untuk berkata kepada suaminya.


"Maksud Ibu bertanya begitu.!! Kaget Hilman suaminya.


Sejak kapan Lisnawati punya keberanian berbicara begitu kepada ku." Ucap nya dalam hati.


"Mohon maap Pak sebelum nya bila perkataan ibu melukai hati Bapak. Tapi ini demi kebaikan keluarga. Lebih baik mengungkapkan perasaan yang tersimpan dalam hati ini dari pada terus menerus di pendam. Dan bila bapak kembalinya kesini murni dari hati dan menyesali semua perbuatan yang pernah di lakukan. Insyaallah Awan' dan Mulyana serta anak anak yang lain akan menerimanya. Kecuali bapak ada maksud tertentu." Kata Lisnawati tegas dalam penyampaian kepada suaminya.!!


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2