
Kawasan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki sejumlah spot foto menarik. Tak mengherankan masyarakat yang datang ke bandara bukan hanya mereka yang akan bepergian, tetapi tak sedikit pula yang datang ke bandara baru itu untuk mengabadikan momen di setiap sudut bandara.
Pada hari biasa atau lebih-lebih pada akhir pekan banyak kunjungan warga dalam rombongan kecil hingga datang bersama dalam rombongan lebih besar sengaja ke YIA guna menikmati suasana bandara dengan ragam arsitektur yang ada, lalu mengambil foto untuk kemudian diunggah ke media sosial. Tidak hanya warga sekitar bandara, tetapi banyak juga yang datang dari luar Kulonprogo.
Berbeda dengan pemuda berusia 24 tahun itu dia pergi ke bandara internasional Kulonprogo Yogyakarta, karna sudah berjanji dengan seseorang yang tinggal di negara Piramida.
Firmansyah selaku mediator di negara kesatuan republik Indonesia ini. Untuk mencari informasi tentang ahli waris dari Moch Ismail pemilik perusahaan terbesar nomor dua puluh di dunia. Dan orang terkaya nomor sepuluh di negara nya.
Seandainya Firmansyah bisa membantu sekaligus menghabisi anak almarhum Moch Ismail dan istrinya. Ia akan di berikan dua puluh persen saham perusahaan ISMAIL GROUP dan akan di bangun cabang perusahaan di negara nya. Untuk menyaingi perusahaan Future Nugraha Company Group.
Sudah hampir setengah jam dia menunggu bersama kepala pengawal yang bernama Jaja Sadikin. Di lobi bandara pagi hari itu.
Lima belas menit berlalu di saat Firmansyah dan kepala pengawal akan pergi meninggalkan bandara itu dengan hati yang kecewa karna tak kunjung tiba orang yang di tunggu. Tiba tiba dari arah belakang ada sosok suara yang tak asing menegurnya.
"Tuan Firmansyah mohon maap anda menunggu begitu lama kedatangan kami." Tegur satu suara. Firmansyah dan Jaja pun lalu membalikkan badannya dan senyum mengembang pun terukir dari mulutnya.
"Tuan Safir. Akhir anda datang juga. Saya sangka tidak akan datang karna ada kesibukan yang tiba tiba." Jawab Firmansyah.
"Hahahahaha. Maapkan saya dan Orang Orang ku. Karna anda menunggu cukup lama." Kata Safir serendah mungkin.
"Itu tidak masalah Tuan Safir. Dengan anda sudah hadir di sini. Membuat jiwa ku ini bersemangat kembali. Kalau begitu bagaimana kalau kita mengobrol di kafe yang tak jauh dari bandara ini.?" Tanya Firmansyah mengajak.
"Baik......... Itu lebih baik...... Silahkan Tuan Firmansyah menunjukkan jalan nya. Aku dan orang orang ku akan mengikuti dari arah belakang." Pinta Safir.
__ADS_1
"Mari Tuan. Silahkan. Ucap Firmansyah.
"Mari.........!!
Sesampai di salah satu kafe yang tak jauh dari bandara internasional Kulonprogo. Firmansyah dengan di dampingi oleh pengawal pribadi nya sudah duduk di kafe tersebut bersama Tuan Safir orang kepercayaan dari kedua anak Moch Ismail dari istri pertama nya.
Basa Basi obrolan di antara mereka pun sebagai tanda obrolan pengenalan sebelum mencapai tahap obrolan yang serius.
"Tuan Firmansyah. Menurut informasi yang saya dapat dari beberapa anak buah ku yang di susupkan di dalam rumah almarhum Moch Ismail. Bahwa istri dan anaknya Moch Ismail sedang berada di Kota Jogja ini. Untuk tempat dan lokasi kampung nya saya tidak mengetahui. Di dalam amplop ini ada Poto istri Moch Ismail dan anaknya." Kata Safir setelah puas dengan obrolan perkenalan kini dia langsung pada intinya sambil menyerahkan satu amplop berwarna coklat.
Pemuda berusia 24 tahun itu lalu menerima amplop tersebut dan langsung membukanya. Untuk melihat semua informasi yang kemungkinan terbesar bisa mencari nya dengan mudah. Apalagi Firmansyah mempunyai beberapa koneksi para preman di kota Jogja.
"Tuan Safir. Seandainya saya dan anak buah ku menemukan ibu dan anak yang ada di Poto ini. Harus bagaimana.?" Apakah di habisi saja.?" Tanya Firmansyah.
"Hahahahaha." Tuan Safir......... Pasti aku bersemangat. Karna bila aku mendapatkan mereka berdua. Anda akan memberikan dua puluh persen saham perusahaan ISMAIL GROUP itu." Jawab Firmansyah dengan tawa bahagia.
"Pasti.......... Pasti......... Aku sebagai orang kepercayaan Tuan Muda Rojak dan Tuan Muda Jabar. Akan menepati janjinya. Bila Tuan Firmansyah berhasil menemukan ibu dan anak dari istri Moch Ismail.
"Tuan Safir percayakan tugas ini kepada saya. Anda tinggal tunggu kabar bagus dari ku." Ucap Firmansyah jumawa.
"Terima Kasih. Aku percaya kepada anda. Tuan Firmansyah. Tapi ingat bukan dari pihak kita saja yang mencari keberadaan Azzahra Masika Fatharani dan anaknya. Tapi pihak adik nya Moch Ismail dan Asisten perusahaan ISMAIL GROUP juga mencarinya. Di dalam amplop warna coklat itu. Ada Poto Moch Aidil dan Asisten perusahaan yang bernama Moch Ahmad. Bila Tuan Firmansyah bentrok dengan mereka berdua atau pun beberapa pengawal nya. Sebaiknya habisi saja." Ucap Safir dengan tersenyum jahat.
"Siap dengan senang hati Tuan Safir." Jawab Firmansyah
__ADS_1
Pembicaraan mereka pun cukup lama informasi yang di berikan oleh Kaki tangan anak dari Moch Ismail dari perkawinan dengan Istri pertamanya. Cukup detail dan akurat. Hingga akan mempermudah langkah Firmansyah untuk mencari nya.
**********.
Sementara itu di kediaman rumah Pak Lukman yang berada di kampung Situhiang. Dua gadis berusia 17 tahun dan masih sekolah kelas 11 di SMA Negeri di kota nya dengan sangat khidmat mendengar kan penjelasan dari lelaki paruh baya itu tentang seorang pemuda yang terkena pitnah di kampung nya itu.
"Aku sependapat dengan Wa Lukman. Bahwa Awan hanya korban rasa Iri dan syirik nya seseorang." Kata Irma Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Lelaki paruh baya itu.
"Bagaimana menurut loe Mira.?" Tanya Irma.
"Entahlah Irma. Ucap nya seraya menggeleng kan kepala nya.
Pak Lukman tersenyum.Mira belum sepenuhnya belum percaya dengan semua ini. Diam diam Ia mengirim pesan singkat kepada pemuda itu. Butuh penjelasan Atas insiden yang terjadi malam itu. Dimana Hilman meraung Raung kesakitan terkena guna-guna kiriman dari seseorang yang tidak suka kepada nya. Anehnya kedatangan Awan membuat guna guna itu langsung menghilang dan malam nya sembuh seketika. Semua orang percaya dan yakin bahwa Awan lah yang telah mengirim guna guna itu kepada ayahnya. Karna rasa sakit hati nya. Meninggalkan Ibu dan anak anaknya demi seorang wanita muda.
Tak lama kemudian ponsel milik Mira pun berdering kencang di ruangan tamu itu. Mira pun kaget seketika sesaat terlihat dalam layar ponselnya yang menelepon itu Awan.
"Hmmmmmmmmm''. Kenapa menelepon kan aku sudah kirim Via wasttap saja tanpa harus menelepon." Ucap Mira dalam hati.
"Siapa yang menelepon Mira.?" Kenapa loe tidak di angkat.?" Tanya Irma penasaran. Angkat saja. Nak Mira." Timpal Pak Lukman meneruskan ucapan dari Irma. Putri dari adik nya.
"Awan.......... Yang menelepon." Lirih Mira dengan wajah tertunduk dan suara pelan.
Bersambung.
__ADS_1