
Video call dalam panggilan telepon masih berdering, belum tersambung di sebrang telepon, semua menatap kearah tablet itu..
"Mungkin kurang dari sebulan lagi internal urusan keluarga Bunda Azzahra sepenuhnya akan selesai dan aku akan pokus pada perusahaan dan kehidupan ku layaknya manusia normal yang tak ada beban sama sekali..." Ucap Awan dalam hati.
Video call tersambung tampak dalam layar tablet lelaki paruh baya memakai gamis putih dengan ikat kepala putih, tanda seseorang di sebrang telepon baru saja selesai dengan kewajiban nya seorang muslim yang taat.
"Ia tersenyum dan menyapa ke seluruh orang yang ada di sahung itu.. Tak di sangka sangka mata nya mengalir air mata menyusuri kulit yang sudah keriput di saat Ia melihat wanita yang duduk di samping Lisnawati... Hal serupa juga Azzahra yang di tatap oleh lelaki paruh baya walaupun dalam layar tablet Ia menangis tanpa suara..
"Kakek.......... Hiks...... Hiks..... Azzahra berkata pelan, membuat Nabil menatap kearah bunda nya.
"Tuan Besar.... Saya sedang berada di kota kecil negara Indonesia dan Alhamdulillah.. Nyonya Muda Azzahra dan cicit anda dalam keadaan baik baik saja.." Kata Safir mencairkan suasana sedih siang itu..
"Safir.......... Safir......... Terima Kasih banyak atas kerja kerasmu.. Saya keluarga Fatharani berhutang nyawa kepada anda.." Ucap Lelaki paruh baya di sebrang telepon dengan membungkuk hormat.
"Tuan Besar... Anda terlalu sungkan yang menjaga dan menyelamatkan serta membereskan semua permasalahan yang ada di interen Nona Muda Azzahra Masika Fatharani beserta anaknya adalah pemuda hebat seperti Dewa,.." Kata Safir seraya mengadahkan jempol nya kearah pemuda yang sedang berdiri di bawah saung itu..
lelaki paruh baya itu lalu pandangan langsung menatap kearah pemuda yang di tunjuk oleh Safir.. Seorang Pemuda tampan nan rupawan sedang tersenyum manis.
"Apakah anak muda yang di sebut sebut oleh Pendeta Haka ini bernama Muhammad Awan Pratama...?" Tanya Fatharani kakek dari Azzahra Masika Fatharani..
__ADS_1
Semua mengangguk menjawab pertanyaan dari lelaki paruh baya yang berada dalam panggilan video call itu.
"Apa yang Kakek tanyakan emang iya.. Dia anak angkat ku.. Dia yang telah membereskan semua permasalahan dalam diriku dan Nabil.. Mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi perisai tanpa ada ikatan darah setetes pun.. Berbeda dengan keluarga besar Fatharani yang lebih percaya terhadap pitnah dan tanpa mau menjelaskan terlebih dahulu akan sebuah kebenaran sejati.." Kata Azzahra Masika Fatharani kata kata nya telak mengenai ulu hati sang Kakek dan kemungkinan kedua Orang Tua serta adik adik Azzahra Masika Fatharani mungkin sedang berada di situ.
"Perlu Kakek tahu.... Seandainya empat tahun yang lalu tak ada uluran tangan dari Muhammad Awan Pratama.. Mungkin hari ini menit dan detik ini.. Nama Azzahra Masika Fatharani dan Nabil Nur Fadillah sudah tidak ada dalam dunia fana ini.." Sambung Azzahra dalam amarah yang tertahan.. Air matanya menetes dalam balutan pipi mulus wanita beranak satu itu.
Lelaki paruh baya itu terdiam total tak bisa berkata apa-apa.. Justru dirinya dan anak anak serta Cucu nya yang lain waktu itu, mendengarkan dulu dan menyelediki terlebih dahulu akan pitnah keluarga Abanoub. Tetapi Ia lebih percaya kepada pengakuan orang lain ketimbang Cucu kandung nya sendiri.
"Cucuku....... Azzahra Masika Fatharani... Keluarga besar Fatharani akan menembus kesalahan masa lalu itu dan berterima kasih banyak kepada anak muda yang menjadi perisai dalam dirimu dan Nabil Nur Fadillah.." Ucap nya dengan Air mata yang mengalir..
"Aku harap balasan kesalahan keluarga Fatharani dan rasa terima kasih kepada anak angkat ku Muhammad Awan Pratama, setimpal dengan apa yang di pertaruhkan nya.." Kata Azzahra telak dalam obrolan panggilan video itu.
Obrolan dalam panggilan telepon itu cukup lama. Ketika di layar tablet sepasang suami istri berusia 58 tahunan itu menampakkan diri nya dengan keadaan wajah yang tertunduk... Jelas ia pasti malu tapi rasa rindu dan kangen nya itu mengalahkan rasa malu tersebut.. Sepasang suami istri paruh baya itu yang tak lain adalah Kedua Orang Tua Azzahra Masika Fatharani.
Sedangkan Awan sendiri bersama dengan Aidil serta Ahmad berjalan di jalan setapak sawah yang begitu luas itu, seraya mengobrol dan merencanakan ke depannya tentang pengalihan hak perusahaan Ismail Group kepada Nabil Nur Fadillah.
"Tuan Aidil dan Tuan Asisten Moch Ahmad.. Untuk urusan pengalihan hak perusahaan kepada Nona Muda Nabil Nur Fadillah.. Saya Muhammad Awan Pratama tidak akan ikut campur.. Tugasku sudah selesai dengan orang orang yang terlibat merencanakan pembunuhan berencana kepada Ibu dan anak itu yang sudah masuk ke dalam jeruji besi.." Kata Awan pandangan matanya menatap ke area sawah yang begitu luas milik Nenek Romlah..
"Tapi Tuan Muda..........." Ucap Aidil... Ia bingung seandainya pemuda yang telah berjuang selama ini mempertaruhkan segala sumber daya nya melindungi Nabil dan Azzahra, di hari finis ia tidak ikut campur.. Apa kata dunia.
__ADS_1
"Tuan Aidil.. Anda tenang saja..." Kata Awan berkedip mata nya.. Hal itu Aidil dan Ahmad hanya bisa mengangguk pasrah, lalu Awan pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Assalamualaikum.. Bu Dewi bagaimana keadaan Teh Siti Lara..?" Tanya Awan dalam panggilan telepon.
"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.. Alhamdulillah.. Kondisi dan kesehatan Siti Lara semakin membaik dan dua atau tiga hari lagi di bolehkan untuk pulang.." Jawab Bu Dewi di sebrang telepon.
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu mah.. Bu Dewi segera kumpulkan orang orang dari Anugrah Awan Sentosa dan pengusaha pengusaha yang telah bekerjasama dengan perusahaan ku, untuk di adakan rapat besar setelah urusanku menjadi perisai Nona Muda Nabil Nur Fadillah dan Ibu nya selesai.." Kata Awan memberi perintah.
"Baik Tuan Muda Awan.. Perintah akan di laksanakan.." Jawab nya wanita beranak dua itu.
"Sebelum esok nya rapat di gelar, anak mu ini ingin berbicara secara khusus bersama Bu Dewi dan suami ibu tanpa ada orang lain.. Terkecuali Advokad perusahan Anugrah Awan Sentosa boleh ikut dalam obrolan.." Kata Awan memberi pesan.
"Siap Tuan Muda Awan.." Jawab Bu Dewi singkat.. Ia tidak mau bertanya, karna sudah mengetahui sipat dan karakter anak angkatnya itu.
Setelah panggilan telepon itu selesai.. Awan dan Aidil serta Ahmad pun langsung berjalan dan kembali menuju sahung yang ada di tengah tengah hamparan sawah yang masih hijau.
"Bunda sudahkah temu kangen nya bersama keluarga walaupun hanya dalam panggilan video..?" Tanya Awan ketika sampai di saung itu.
Azzahra Masika Fatharani mengangguk bahagia, begitu juga dengan Nabil tersenyum manis kearah kekasihnya itu.
__ADS_1
Bersambung.