Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Nasib Tragis Lara anak Dukun Mbah Wongso


__ADS_3

"Kak Awan jadi nggak tentang obrolan semalam. Kakak ngajak aku ke kota Jakarta menghadiri undangan dari bos kakak.?" Tanya Nabil Nur Fadillah dari sebrang telepon.


"Jadi Bil. Tapi sudah dapat ijin belum dari Bunda Nabil mau ikut.?" Tanya Awan.


"Sudah Kak...... Kalau pergi nya sama Kak Awan. Nanti tanya langsung sama Kak Awan waktu jemput aku." Ucap Nabil.


"Ok..... Kalau begitu mah. Kakak mau siap siap dulu, setelah dari sini langsung berangkat menjemput kamu." Ucap Awan.


"Iyaaa. Kak Nabil tunggu ya.


"Iyaa. Tut....... Tut...... Tut....... Panggilan telepon pun berakhir.


Setelah menerima telepon di pagi hari itu. Awan pun langsung bergegas masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badan nya.


Sementara di kantor PT Anugrah Awan Sentosa. Beberapa mobil sudah berjejer rapi di halaman gedung bertingkat tiga itu. Di antaranya mobil milik Bu Dewi dan Mobil Pak Arianto berjejer dengan mobil yang di bawa oleh Asep Sunandar dan Hendra Hendri yang di berikan langsung oleh Muhammad Awan Pratama, karna ikut membantu menyelamatkan keluarga Tedi Ferdiansyah.


Sementara bantuan yang di berikan oleh muridnya Aden Haruman dan anak nya Opan Jaya Haruman juga di berikan kompensasi berupa modal untuk berwirausaha. Walaupun Tuan Besar Tedi Ferdiansyah belum memberikan kompensasi tersebut kepada mereka yang ikut membantu menyelamatkan keluarganya.


Tak lama kemudian setelah kedatangan Bu Dewi dan keluarga nya serta Advokad perusahan Anugrah Awan Sentosa, Toyota Agya pun kini memasuki halaman kantor dengan di ikuti dua unit mobil lainnya.


Setelah Mobil Toyota Agya berhenti tepat di samping mobil Toyota Ayla, seorang pemuda berusia 19 tahun dengan gaya rambut zig zag dan memakai setelan kaos bergambar dan celana lepis turun dan berjalan kearah orang orang yang sedang berdiri di teras kantor itu. Begitu juga dengan dua mobil lainnya yang mengikuti dari arah belakang.


"Bu Dewi dan yang lainnya mohon maap terlambat." Ucap Iyus membungkuk hormat.


"Nak Iyus tidak apa apa. Ibu sama suami dan yang lainnya juga baru datang. Sebaiknya kita masuk dulu di dalam kantor untuk sekedar minum kopi, sambil menunggu Nak Awan." Ajak Bu Dewi kepada yang baru datang di antara nya Iyus Saputra dan Opan serta murid murid dari Aden Haruman.


"Baik Bu. Mari............ Ucap Iyus Saputra.

__ADS_1


"Mari semuanya kita masuk dulu dan minum kopi." Ajak Bu Dewi. Lalu membuka pintu kantor yang sudah tidak di kunci.


##########


Di salah satu kampung yang jauh dari perkotaan, tepatnya di kaki bukit gunung halu yang berbatasan dengan pelosok kabupaten Bandung Barat. Seorang wanita berusia dua puluh dua tahun dengan pakaian compang camping jelas terlihat kulit bagian dalam tubuhnya dan sedang di olok olok oleh beberapa anak kecil di pagi menjelang siang itu.


"Orang gilaaaaaaa.


"Orang gilaaaaaaa.


"Orang gilaaaaaaa.


"Anak anak di kampung kaki bukit gunung halu itu mengolok-olok wanita yang terlihat gila di mata anak anak tersebut.


Apakah emang gila atau tidak nya terlihat jelas oleh beberapa warga sekitar, ketika anak anak menyebut dengan sebutan orang gila. Wanita itu hanya tertawa seraya jingkrak jingkrak kaki nya. Sehingga beberapa warga beranggapan bahwa wanita itu emang gila.


"Heeiiiiii. Wanita gila'........ Pergi kau dari kampung ini." Usir seorang lelaki sambil membawa sebuah balok kayu agar si wanita itu pergi.


"Wanita itu yang mendapat kan ancaman untuk pergi dari kampung tersebut. Malah mengejek nya dengan berjingkrak jingkrak kaki nya dan menjulurkan lidahnya ke arah lelaki yang memakai balik kayu. Sontak lelaki itu marah ketika wanita itu mengejeknya dan langsung mengarahkan balok nya kearah tubuh wanita.


"Bugh...............


"Bugh...............


"Pukulan dua kali mengarah kearah tubuh wanita itu dan beberapa warga yang melihat nya bukan melerai lelaki itu memukul wanita yang di sangka gila itu malah ikut membantunya dengan membanjurkan air keseluruh tubuh wanita itu.


"Ampun......... Ampun......... Hiks........ Hiks......... Ampun... Ampuni saya......... Hiks........ Hiks.......... Saya akan pergi dari sini....... Ampun tolong jangan di pukul lagi...... sakit.... Hiks..... Hiks.........!!

__ADS_1


Ucap wanita itu meminta ampunan dari warga dengan Isak tangis dan tangan menahan tubuh yang sakit akibat pukulan balok kayu tersebut. Sebagian warga yang melihat seorang wanita gila di pukuli oleh lelaki yang memegang balok tak sedikitpun merasakan iba dan belas kasihan.


"Tidak ada kata ampun dari wanita gila seperti mu hah." Bentak Seorang lelaki yang mulai melayangkan balok kayu ketiga kali nya akan mengarah kepada kepala wanita itu.


"BERHENTI. Teriak satu suara sambil berlari kearah warga yang yang hendak memukul seorang wanita yang sedang berlutut meminta ampunan.


Kodir pria yang mempunyai otot dan badan tinggi hendak memukul langsung berhenti dan bersama para warga langsung membalikkan badannya kearah teriakan yang sudah ia tahu lelaki yang berteriak itu.


"Apa apaan kalian semua hah." Bentak Tarmin. Apakah kalian tidak punya otak dan mempunyai sipat seperti binatang. Apa kesalahan wanita itu hingga kalian berani mengintimidasi dan memukuli tanpa ada rasa kasihan sama sekali di hati kalian." Ucap Dengan nada geram kepada seluruh warga setelah lelaki yang bernama Tarmin berdiri di hadapan para warga.


Seketika warga di kampung kaki bukit gunung halu terdiam Tampa ada yang bersuara sama sekali. Mereka mengetahui siapa Tarmin enggan berurusan dengan nya, bukan takut kepada Tarmin tapi takut kepada ayahnya. Kuncen Gunung halu. Bila saja menyinggung dirinya maka siap siap esok nya nyawa nya menghilang tanpa sebab.


"Kenapa kalian diam hah.! Ayo Jawab." Bentak Tarmin. Mendapatkan bentakan yang sangat lantang dari seorang pemuda berusia sembilan belas tahun itu. Warga pun lalu meleos pergi meninggalkan Tarmin dan wanita gila. Mungkin dengan bubar dan kembali ke aktivitas di pagi hari itu lebih baik dari pada berurusan dengan seorang pemuda anak kuncen Gunung halu tersebut dalam pikiran mereka.


"Benar benar bangsat........... Bajingan........ Setan Alas kalian semua. Akan ku habisi." Teriak Tarmin karna mengacuhkan perkataan nya.


Setelah mengatakan kata kata kasar kepada para warga yang telah memukuli seorang wanita dengan kondisi yang compang camping dan rambut acak acakan serta beberapa goresan merah di sekujur tubuh yang terlihat oleh nya. Tarmin pun langsung memapah lelaki itu dan membawa nya ke rumah Orang Tua nya yang ada di ujung tanduk kampung kaki bukit gunung halu.


Tanpa ada reaksi penolakan dari wanita itu di papah oleh pemuda yang menolong nya melangkah dengan menahan sakit di seluruh tubuh nya.


"Kalau boleh tau siapa nama Mbak.?" Tanya Tarmin di sela jalan menuju rumah nya.


"Siti Lara." Lirih wanita itu memperkenalkan dirinya. Aku Tarmin." Balas pemuda itu yang memapah dirinya.


"Kenapa Mbak Lara bisa seperti ini.?" Tanya Tarmin.


Lara tak menjawab pikiran nya melayang tinggi kepada kejadian malam itu. Hingga Ia di sekap dan di jadikan budak *** oleh seseorang yang sangat di hormati dan sudah di anggap anak oleh almarhum ayahnya yaitu Mbah Wongso.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2