
"Astaghfirullah alladzim. Berat tidak bisa di angkat.? Tanya Bunda kepada anaknya yang ikut mengangkat.
"Bapa bapa Tolong bantu. Untuk mengangkat Pak Hilman di bawa ke kamar mandi." Pinta Nenek Romlah.
"Pak Ustadz Hilal bersama Ketua pemuda dan kakak nya Awan pun langsung mengangkat lelaki setengah Tua yang terkena penyakit yang di luar nalar.
"Aneh........ Bener bener aneh......... Di angkat oleh empat orang pun tidak terangkat berat nya melebihi ratusan kilo.
"Nak........ Awan bagaimana ini. Pak Hilman sama sekali tidak bisa di angkat." Kata Ustadz Hilal.
"Iya....... Awan saya bener bener aneh." Timpal Ilyas ketua pemuda di kampung Situhiang.
Awan hanya diam dirinya sedang berpikir, bagaimana cara mengatasinya. Agar ayahnya bisa di bawa ke dalam kamar mandi.
"Anakku. Apakah tidak sebaiknya di mandikan langsung di kamar ini saja." Saran lelaki paruh baya yang ikut bersama pemuda itu.
"Tapi Tuan Besar......... Abah tadi bilang nya.......!! Suruh di mandikan di kamar mandi." Keluh Awan dengan alis berkerut.
"Iya...... Tapi ini darurat dan kondisi ayah kamu juga berat untuk di angkat di bawa ke kamar mandi.!! Ucapnya.
"Baiklah aku coba..........!! Pemuda itu langsung menuju kamar mandi, sesuai amanat dari Abah Aden Haruman. Air yang di bawa dari Gunung Masigit itu langsung di masukan kedalam sumur. Dan pemuda itu pun langsung menimba air nya kedalam ember untuk di bawa ke kamar tempat dimana ayah nya berbaring.
"Bunda........ Ayah mandikan dengan air ini dan di suruh membaca syahadat tiga kali." Kata Awan seraya menyerah kan air dalam ember.
"Baik Anakku...........!!
Tak lama kemudian setelah Lisnawati memandikan suaminya di kamar. Dia langsung keluar menemui anaknya dan yang lainnya. Kini Hilman tidak lagi meraung-raung kesakitan.
"Awan ayah mu sudah tidak lagi kesakitan tapi kaki dan perutnya masih besar belum kembali ke seperti semula." Kata Bunda cemas.
"Sabar Bunda. Banyak berdoa kepada sang maha tunggal." Ucap Awan menenangkan.
"Kang Ujang sebaiknya ayah di pindahkan di kamar sebelah. Karna kasur nya kemungkinan sudah basah." Kata Awan.
__ADS_1
"Mau di pindahkan bagaimana Awan. Tadi juga mau di angkat ke kamar mandi sama empat orang gak ke bisa terangkat.?" Tanya Ujang dengan senyuman meledek.
"Coba aja Kang sekarang sudah ringan kok." Kata Awan tersenyum.
Lelaki yang di panggil Ujang pun langsung melangkah kedalam kamar bersama Ilyas ketua pemuda untuk di bantu mengangkat Pak Hilman di pindahkan ke kamar satu nya lagi.
"Tidak ada kesulitan sama mereka berdua ketika mengangkat Pak Hilman. Tidak seperti sebelum di mandikan di angkat oleh empat orang pun tidak dapat terangkat. Kini mereka berdua membawa Pak Hilman ke kamar yang biasa di tempati oleh anak nomor tiga pasangan Hilman dan Lisnawati.
"Semua yang ada di dalam rumah Lisnawati mengucap kata syukur karna kemungkinan terbesar suami dari Lisnawati akan sembuh dari penyakit aneh itu.
"Bunda........... Sudah jangan bersedih terus. Ayah nanti juga akan sembuh." Kata Awan melihat Lisnawati dari tadi terus menerus mengeluarkan Air mata nya.
"Anakku Muhammad Awan Pratama Bunda tidak sedih. Justru Bunda bahagia ayahmu akan sembuh." Jawab Lisnawati.
"Syukur lah Bunda. Kalau begitu mah." Ucap Awan.
Satu jam setelah itu kondisi Pak Hilman sudah sedikit membaik...... Para warga yang ada di luar pun sudah melihat secara bergiliran kondisi Pak Hilman dan tidak ada yang di khawatir kan. Sementara pemuda tampan nan tengil kini sedang berada di masjid bersama Tuan Besar Tedi Ferdiansyah. Selesai melaksanakan kewajiban seorang muslim.
"Silahkan Pak Ustadz dan yang lainnya." Ucap ramah Awan dengan senyuman.
"Nak Awan mohon maap sebelumnya. Bila ada pertanyaan yang membuat hati Nak Awan tersinggung.?" Tanya Ustadz Hilal ramah.
"Ahk Pak Ustadz suka merendah. Ada pertanyaan apakah kepada saya.?" Tanya Awan penasaran.
"Begini Nak Awan........ Apakah sebelum Nak Awan pernah menolak kehadiran seorang Ayah datang lagi dan masuk kedalam keluarga. Mohon maap bila pertanyaan saya menyangkut dalam kepribadian keluarga Nak Awan." Kata Ustadz Hilal.
Mereka menatap penuh kepada pemuda yang sedang duduk berhadapan dengan sesepuh di kampung Situhiang itu.
"Iya bener sekali.........!
"Alasannya Nak Awan." Ucap ustadz Hilal.
"Tidak punya alasan......! Jawab Awan berbohong.
__ADS_1
"Apakah karna rasa sakit atau membenci sosok seorang ayah yang sudah tiga tahun meninggalkan dirimu dan istri serta anaknya.
"Kalau untuk membenci sedikit pun tidak ada Pak ustadz. Tapi kalau rasa sakit itu pasti ada. Tetapi tidak sampai berlarut larut." Jawab Awan.
"Alhamdulillah." Saya cukup puas jawaban dari Nak Awan." Ucap ustadz Hilal.
"Kenapa Pak Ustadz bertanya begitu kepada saya.?" Tanya balik pemuda itu.
"Mohon maap sebelumnya, bila saya harus berkata jujur apakah Nak Awan tidak akan marah dan menaruh dendam kepada para warga Situhiang.?" Tanya Ustadz Hilal.
"Justru saya akan marah bila ada sesuatu yang di sembunyikan oleh para warga terhadap diriku dan keluarga ku." Jawab tegas pemuda itu.
"Baiklah saya akan menceritakan kepada Nak Awan. Agar tidak terjadi nya kesalah pahaman di antara warga dan Nak Awan." Ucap Ustadz Hilal.
"Silahkan Pak ustadz saya mendengar kan dan tidak akan menyela ucapan anda sampai selesai." Jawabnya.
"Sempat beberapa warga, terutama kebanyakan adalah ibu ibu bergosip ria membicarakan tentang sakit yang di alami oleh Hilman ayah Nak Awan. Kata Ibu Ibu Situhiang sebagian bahwa penyakit yang sekarang di derita oleh Pak Hilman, karna atas ulah Nak Awan dengan mengirim guna guna kepada ayah kandung nya sendiri. Dan itu juga bisa sembuh oleh Nak Awan sendiri yang menyembuhkan nya.
"Kini di buktikan oleh kehadiran dan kedatangan nak Awan sendiri bahwa ayahmu sudah sembuh setelah kamu datang. Kemungkinan terbesar para warga membenarkan obrolan tadi siang di saat Nak Awan belum datang. Maka nya dengan insiatif bapa bapa untuk menanyakan langsung kepada kamu. Apakah penyakit yang di derita oleh Ayah mu. Adalah perbuatan dari anaknya. Begitu lah Nak Awan cerita yang sedang hangat di kampung Situhiang ini. Bahwa penyakit yang di derita oleh Pak Hilman, yaitu atas ulah anaknya sendiri." Kata ustadz Hilal menjelaskan panjang lebar.
Sementara Tedi Ferdiansyah dan Pak Lukman hanya geleng-geleng kepala setelah mendengar perkataan dari ustadz Hilal sesepuh di kampung Situhiang itu.
"Apakah Pak Ustadz percaya dengan ucapan yang di lontarkan beberapa warga sini.?" Tanya Awan'.
"Sa.... Say.... Saya...... Tidak percaya Nak." Jawab nya tergagap.
"Hmmmmmmm." Ustadz Hilal pun termakan ucapan dari para warga. Dengan nada bicara tergagap seolah olah dia juga mempercayai ucapan para warga.
"Yaa sudah biarkan mereka semua mau ngomong apa tentang diriku. Suka suka mereka. Mulut mulut mereka.! Tapi ingat satu hal dan mungkin bapa bapa di sini menjadi saksi. Bahwa pitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
"Semua akan terungkap siapa yang telah mengirim guna guna kepada ayah saya. Dan untuk beberapa warga yang dengan sengaja mempitnah diriku tanpa bukti. Kehidupan nya tidak akan tenang sebelum bertobat dan meminta maap kepada orang yang telah di pitnah." Ucap Awan tersenyum kecut.
Bersambung.
__ADS_1