
Malam itu di perumahan elit Leles Residance di guyur hujan deras, di salah satu rumah yang ada di ujung perumahan tersebut, suasana rumah malam itu sudah berisik Senda gurau.
"Bu Ida. Tolong bikin kan kopi buat tamu, saya." Pinta pemuda sambil beranjak masuk kedalam kamar mengganti pakaian nya.
"Iya, siap Aden Awan." Jawab wanita setengah tua melangkah menuju dapur, Tarmin dan Lara bersama Sutisna menunggu di kursi yang ada di ruangan tamu.
Tak lama kemudian Awan pun keluar dari kamarnya setelah mengganti pakaian dengan penampilan yang begitu santai. Bu Ida pun telah membawa kan beberapa gelas kopi dan cemilan untuk di suguhkan malam ini.
"Terima Kasih Bu Ida.!! Ucap pemuda yang menjadi majikannya.
"Sami sami Aden.!!
"Teh. Lara bila mau mengganti pakaian terlebih dahulu. Silahkan bersama Bu Ida yang akan mengantar ke kamar.?" Tanya pemuda itu telah duduk di kursi samping Sutisna.
"Terima Kasih. Apakah tidak merepotkan, Tuan Muda Awan." Jawab Wanita yang bernama Lara itu.
"Tidak sama sekali, tidak merepotkan. Silahkan ikut sama Bu Ida yang akan mengantarkan nya." Titah Awan. Bu Ida mengangguk. Mari Nona Lara. Ucap Wanita beranak tiga itu mempersilahkan.
"Mari. Bu. Terima Kasih. "Aa Tarmin. Lara masuk dulu ke kamar untuk mengganti pakaian." Ucap nya, Tarmin mengangguk tersenyum.
"Tisna. Perkenalkan, akang ini dari Campaka Warna, tepatnya di kampung bukit Gunung Halu. Putra dari Abah Juned. Mungkin kamu dan sepuluh Murid dari Kiayi Mangku Bumi mengetahui nya." Kata Awan memperkenalkan seorang pemuda yang duduk di hadapannya.!!
"Bos.........!! Ucap Sutisna kaget.! Pemuda yang ada di hadapannya memang tidak mengenalinya. Tetapi Abah Juned Ia tahu, dukun sakti dan sesat di daerah nya ia mengetahui semuanya.
Abah. Juned bukan orang yang bisa di singgung oleh penduduk desa di daerahnya, mempunyai ilmu yang sangat di larang oleh agamanya. Penduduk desa enggan bergaul dengan keluarga dukun tersebut.
Sudah tersiar di kalangan desa sampai tingkat kecamatan, kesaktian Abah Juned dukun santet itu, beberapa dari kalangan para pejabat dan orang orang yang berduit meminta bantuan dari Abah Juned yang berprofesi sebagai dukun ilmu hitam itu.
__ADS_1
"Tenang. Tujuan dari Kang Tarmin dan Teh Lara, bukan untuk berniat jahat, tapi ada sesuatu yang harus di selesaikan dengan seorang lelaki yang sedang kamu awasi dengan akang sepuluh tadi siang." Kata Awan menjelaskan kepada Sutisna agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Maksud anda bos. Engkos Kosasih dan para preman bayaran nya.?" Tanya Sutisna.
"Nyawa Engkos Kosasih dan para preman nya, menjadi bagian saya." Satu suara tiba tiba terdengar jelas di mereka yang sedang duduk di ruangan tersebut.
Siti Lara langsung duduk, setelah mendengar mereka membicarakan sosok lelaki yang telah menghancurkan hidupnya dengan amarah yang tertahan.
"Lara. Tenangkan Amarah mu. Tidak semudah itu kamu menghabisi Engkos Kosasih dan para preman nya, walau bagaimana pun negara kita mempunyai hukum." Sahut Tarmin.
"Ingat. Apa yang di pesan kan oleh Abah dan Umi, tugas kita menjaga dan melindungi Tuan Muda Awan." Sahut lagi Tarmin.
"Iya. Aa Tarmin. Lara tahu." Lirihnya.
"Tuan Muda. Mohon maap kan hamba yang tidak sopan, karna terbawa emosi bila mendengar nama bajingan itu." Ucap Lara membungkuk hormat.
"Ahk. Tidak apa apa teh. Tak usah meminta maap. Aku mengerti dengan dendam dari anda. Untuk akang Tarmin dan Teh Lara, sebaiknya panggil aja Awan, bila kita sedang mengobrol, tak usah panggil Tuan muda segala." Pinta Nya.
"Sutisna. Berita apa yang ingin kamu sampai kan malam ini.?" Tanya Awan.
"Menjawab Anda Bos Awan.!!
"Siang itu, setelah saya dan akang sepuluh membuntuti Engkos Kosasih dan para preman, sampai di kediaman rumah nya yang ada di kampung Situ Babakan. Istri dari Engkos Kosasih yang bernama Titin Kharisma merencanakan sesuatu untuk menjebak Bos Awan dengan menyandera ketiga gadis yang ada di kampung Situhiang, kata nya ketiga gadis itu, orang yang sangat berarti bagi bos Awan." Kata Sutisna menjelaskan hasil pemantauan bersama Akang sepuluh siang itu.
"Licik........ Bener bener licik..........!! Sutisna apakah kamu tahu ciri ciri ketiga gadis itu.?" Tanya Awan, Ia berpikir apakah, Kiara Mira dan Irma yang menjadi target dari Istri Engkos Kosasih.
"Sebentar bos." Ucap nya, lalu ia membuka ponsel dan membuka Poto dalam aplikasi galeri.
__ADS_1
"Bos. Bisa lihat sendiri ketiga Poto gadis itu. Sutisna menyerahkan ponsel nya untuk di perlihatkan ketiga Poto gadis cantik yang akan di jadikan umpan oleh Titin Kharisma.!
"Bangsat..................!!
"Licik.......................!!
"Engkos Kosasih, kamu telah berani menyenggol ku. Aku pastikan kamu akan menyesal pernah berurusan denganku." Geram Awan tangannya mengepal erat.!!
"Sutisna, mereka bertiga sahabat ku. Yang mengetahui jati diriku. Aku tidak mau sampai mereka bertiga kenapa napa." Kata Awan.
"Tenang bos. Aku mengerti.!! Anda jangan khawatir, keselamatan mereka menjadi tanggung jawab saya dan sepuluh murid Mama Sepuh. Biarkan saja mereka menyandera mereka bertiga, agar kita dengan mudah untuk membantai nya dengan alasan menyelamatkan dari niat jahat keluarga Engkos Kosasih." Kata Sutisna memberi saran.!!
"Aden. Awan apa yang di ucapkan oleh Kang Sutisna, ada bener nya juga. Bila kita ingin mengungkap kejahatan dari keluarga Engkos Kosasih, biar mereka merencanakan niat jahatnya dan kita bisa mengungkap kejahatannya." Timpal Tarmin ikut berkomentar.
"Rencana yang di berikan oleh Sutisna cukup brilian, Ia manggut manggut kepalanya mendengar kan nya.
"Baiklah. Aku setuju dengan rencana mu Sutisna. Akang Tarmin sebaiknya kamu ikut bergabung dengan sepuluh Murid Mama Sepuh. Ikuti pergerakan para preman yang menjadi anak buah Engkos Kosasih. Untuk saat Ini Teteh Lara tidak akan di timbulkan terlebih dahulu, walau bagaimana pun Engkos dan para preman sudah mengetahui wajah Teteh." Kata Awan memberi perintah.
"Siap. Bos." Ucap mereka bertiga serentak.!!
"Untuk sementara Akang Tarmin, tinggal di kampung Senagar bersama Sutisna dan yang lainnya. Teteh Lara. Tinggal di sini sama Bu Ida. Apakah kalian berdua setuju." Ucap nya Awan.
"Ikut apa kata Aden Awan." Jawab Lara di anggukan oleh Tarmin.
"Bagus....... Awan tersenyum.!!
Sutisna dan Tarmin pun ijin pamit, pulang menuju tempat tinggal yang sudah di sediakan oleh pemuda itu, sementara Siti Lara tinggal di perumahan Elit bersama Bu Ida pembantunya.
__ADS_1
Malam pun semakin larut, mereka mungkin sudah terlelap dalam tidur panjang nya. Berbeda dengan pemuda itu yang masih santai di halaman belakang rumah yang menghadap ke hamparan sawah yang begitu luas dengan di temani secangkir kopi dan satu bungkus rokok, menghangatkan suasana malam yang sudah turun hujan malam itu.
Bersambung