
Kapan teh Lisa.... Jatuh tempo yang di berikan oleh pihak Debkolektor dalam surat perjanjian Hutang Pi hutang itu.?" Tanya Awan... Sesaat sejenak terdiam.
"Awal bulan sekarang tanggal lima." Jawab Lisa.... Exfresi wajahnya berharap pemuda itu mampu membantu nya.
"Masih ada waktu seminggu lagi ya!! Awan berkata... Lalu mengeluarkan rokok yang ada dalam saku celananya.
Lisa mengangguk.... " Kang Sandi ngerokok..." Kata Awan menyodorkan rokok nya setelah ia mencabut satu batang dan langsung menyalakan bensinnya.
"Mangga.... Terima Kasih.. Awan ada kok." Jawab Sandi Ia pun langsung mengeluarkan rokok Djarum super dari saku celananya.
"Awan.... Kopi apa.?" Tanya Lisa.... Ia lupa pemuda itu tidak di suguhkan minum atau pun kopi karna pikiran nya yang sedang kalut..
"Boleh... Kalau ada luwak white kopi." Pinta Awan...!
"Siap..... A sandi mau kopi juga.?" Tanya Lisa dengan senyuman manis..
"Boleh yang.... Kopi ABC susu biasa.!! Jawabnya.. Lisa pun tersenyum dan beranjak bangkit dari duduknya.
Tak lama kemudian setelah Lisa membuat kan kopi untuk di suguhkan kepada dua pemuda yang berbeda usia... Ia pun sudah kembali membawa tiga gelas yang berisi dua kopi satu susu tampak terlihat oleh mereka berdua.
"Teh untuk masalah ini... Awan perlu di obrolkan dulu kepada majikan saya..." Kata Awan ketika gadis itu menyuguhkan kopi di meja ruangan tamu.
"Apakah perlu Awan membawa surat surat rumah dan kontrakan yang akan di jual.?" Tanya Lisa.
"Tidak usah! Nanti aja kalau majikan saya berminat langsung di bawa ke rumah ini dan urusan masalah harga berapa berapa nya nanti pihak Teteh dan pembeli langsung berhadapan." Terang Awan.
"Tapi..... Awan usahakan ya... Ada yang beli... Teteh hanya mengambil sisa nya untuk di belikan lagi rumah walaupun kecil kecil juga." Kata Lisa memohon.
__ADS_1
"Insyaallah... Awan usahakan Teteh... Sebelum jatuh tempo rumah berikut kontrakan dan tanah sudah terjual." Kata Awan tersenyum.
"Makasih sebelumnya.! Di minum Awan kopi nya." Titah Lisa.... Tersenyum.... Awan pun mengangguk dan langsung menyeruput kopi yang di suguhkan itu.
Obrolan mereka bertiga sudah lumayan cukup lama. Dan hampir satu jam lamanya mereka bertiga mengobrol. Awan pun menyanggupi dan berusaha akan membantu tentang kesulitan yang sedang di alami oleh anak nya Engkos Kosasih.
Awan sendiri bukan tidak sanggup membantu hari itu juga tentang kesulitan yang di alami oleh Teh Lisa.. Tapi dalam hati dan pikiran pemuda tersebut.. Ia harus di diskusikan terlebih dahulu bersama Bu Dewi dan Pak Arianto... Kalau di diskusikan kepada keluarganya.. Jelas jelas mereka akan mencegah dan menolak membantu nya karna bukan tak lain adalah kedua Orang Tua nya yang jelas jelas ingin menghabisi nyawa keluarga pemuda yang di minta tolong oleh Lisa.
"Teh Terima Kasih kopi nya... Awan pamit karna takut nya Bunda mencarinya." Kata pemuda itu bangkit dari duduknya..
"Ohk... Iya Awan... Teteh berharap meminta bantuan dari kamu.. Dan kalau bisa untuk masalah ini jangan di bicarakan kepada orang lain dan keluarga mu." Pinta Lisa.
"Siap Teh.... Insyaallah.. Awan usahakan bantu!! "Assalamualaikum." Ucap Awan.
"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh." Jawab Lisa...
######################
Kamis pukul 12:00
Satu unit mobil Xenia meluncur dari pusat kota dengan kecepatan 60 km perjam... Di dalam mobil tersebut empat orang dengan memakai pakaian ala preman tampak terlihat dengan wajah yang serius tanpa ada senyuman sedikit pun yang keluar dari bibir nya..
Satu jam lama nya mobil Xenia pun kini sudah memasuki jalan desa yang mengarah kepada salah satu bukit di kecamatan pinggiran kota kecil itu dengan jalanan yang lumayan cukup terjal....
Tak lama kemudian tiba di salah satu bangunan kayu dan gerbang masuk terbuat dari kayu terlihat tampak seperti pagar. Mobil Xenia itu pun berhenti.
Salah satu dari ke empat lelaki yang berada di dalam mobil itu pun langsung turun dan berjalan kearah pintu pagar untuk bertanya ke salah satu orang yang berada di sana.
__ADS_1
"Assalamualaikum.. Permisi apakah tempat ini pondok pesantren Al Ghifari.?" Tanya Lelaki berusia 35 tahun tersebut.
"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.. Betul sekali Tuan.. Ada perlu apa ya.?" Tanya balik seorang gadis berkerudung putih sambil memegang sapu itu.
"Saya perlu bertemu dengan pemimpin pondok pesantren ini.. Apakah Pak Kiayi Halim nya ada." Lelaki itu bertanya menanyakan tentang keberadaan pimpinan pondok pesantren yang terlihat bangunan sudah menua.
"Ohk.... Ada silahkan Tuan tunggu di madrasah.. Akan saya panggilkan Ayah saya." Jawab Gadis itu yang tak lain anak dari pemuka agama di kampung yang jauh dari pusat kota.
"Terima Kasih!! Jawab nya... Lalu melangkah menuju madrasah yang ada di samping rumah utama Kiayi Halim.
Sementara tiga orang yang sedang menunggu di dalam mobil... Dua di antaranya sudah keluar memutari bangunan Pondok Pesantren tersebut dan berjaga jaga bila buruannya itu ingin melarikan diri.
Kurang lebih lima menit di dalam madrasah lelaki berpakaian putih dengan memakai sarung dan tangan memegang tasbih, Ia duduk berhadapan dengan seorang tamu yang tampak asing oleh dirinya..
"Pak Kiayi.. Mohon maap kan saya mengganggu waktu anda. Perkenalkan saya adalah Kanit Diki dari polres kota." Kata lelaki itu memulai percakapan dan memperkenalkan diri nya.
Tampak lelaki paruh baya berusia 50 tahun itu tersentak kaget, setelah lelaki itu memperkenalkan diri nya.. Ia tak menyangka bahwa insting selama ini akan ada pihak kepolisian dari pusat kota datang mencarinya, tidak meleset sama sekali.
"Ahk... Tidak apa apa Pak Kanit.. Kalau boleh tahu maksud tujuan anda berkunjung ke pondok pesantren ini ada apa ya.?" Tanya lelaki paruh baya itu.. Walaupun dalam hatinya Ia sudah mengetahui bahwa Kanit tersebut mencari keberadaan perempuan yang bernama Ani yang telah di titipkan oleh orang tua nya untuk sementara tinggal di sini dengan satu alasan yang tidak di beritahukan.
Tapi setelah di selidiki dan di tanya pelan pelan kepada jenisnya... Wanita itu pun mengakui dan bener bener bertobat tapi hukum tetap berjalan, apa yang telah Ia perbuat harus berani menanggung konsekuensinya dan resiko nya.
"Begini Pak Kiayi... Maksud tujuan saya datang bersama rekan satu tim untuk menjemput saudara tersangka yang kata nya menurut informasi yang di dapat bahwa saudara Ani Wulandari.. Tinggal di pondok pesantren ini. Sudikah Pak Kiayi bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menyelesaikan tugas dari komandan saya." Kata Kanit Diki berhati hati dalam berkata.
Kiayi Halim mengangguk dan langsung berkata "Insyaallah!! Mari saya akan membawa anda ke kamar santri." Jawab Kiayi
Bersambung.
__ADS_1