
Kohar Komarudin lelaki berusia 45 tahun beristrikan seorang guru sekolah bernama Dewi Ayunda dan mempunyai dua orang putra putri yang sudah dewasa.
Satu jam lama nya akhirnya para pembeli di kios Pak kohar pun sudah selesai dan keadaan kios pun kini sepi kembali dan waktu pun semakin sore.
"Bunda...... dan Amel dari kapan disini? " Tanya Pak Kohar tidak mengetahui kedatangan istri dan anaknya tau tau sudah berada di dalam kios.
Istrinya tersenyum. Sedangkan Amel berkata kepada ayahnya dengan nada cemberut. "Uhk! Ayah tidak peka sama anak dan istrinya. " Rutuk Amel seraya bibir nya manyun kaya Tutut Sawah yang siap di masak memakai bumbu dapur.
"Maap'' maafkan ayah, kamu sendiri kan lihat tadi banyak pembeli mana bisa ayah melihat kedatangan mu." Jawab Pak kohar seraya merapatkan kedua telapak tangannya.
"Huh.....! Dengus anaknya seraya berjalan menuju kursi tempat duduk yang ada di kios yang lumayan besar di bandingkan kios lainnya.
"Sayang.....! Kok kelihatan capek? Wajahnya terlihat kusut? Tanya Dewi seraya tersenyum sambil mengusap peluh keringat suaminya.
"Alhamdulillah" Sayang hari ini bener bener pembeli banyak sekali.....! Patut kita syukuri." Ucap Kohar tersenyum manis kepada istrinya.
"Alhamdulillah" Jawab Bu Dewi. Lalu berjalan kearah kursi yang berada di samping anak nya itu.
"Bunda Ayah mau ke Masjid dulu.! Ijin Suami nya karna belum mengerjakan tugas seorang muslim.
"Iya.....! Jawab mereka berdua seraya mengangguk.
Setelah kepergian suaminya sekaligus ayah bagi anak anak nya Bu Dewi pun berbicara kepada anak bungsunya.
"Amel......! Nanti malam di rumah akan ada tamu spesial sepantaran dirimu." Kata Bu Dewi ibu kandung gadis yang bernama Amelia Amanda Kaharudin.
"Emang Siapa Bun? Tanya Amel penasaran dengan mata menatap kearah ibu kandung nya itu.
"Mau tau ya...... Atau mau tahu banget. " Goda ibu nya.
"Ihk........! Ibu....! Kesal Anak nya.
Wanita paruh baya bergelar ibu itu hanya terkekeh cekikikan melihat Anak nya bila sedang merajuk.
"Dasar bunda malah cekikikan.......! Ayo dong bunda katakan ihk.....! Rengek gadis itu.
"Muhammad Awan Pratama. Murid didik Bunda dari kelas satu SD sampai SMP.
__ADS_1
"Kak Awan yang sering Bunda sama ayah ceritakan itu? Tanya Amel keningnya berkerut.
"Iya.......! Anakku." Balas Bunda singkat seraya mengangguk.
"Apa sih Bunda spesial nya pemuda yang bernama Awan itu.? Tanya Amel.
"Anakku....'' Nanti Author cerita dalam episode selanjutnya dan terus dukung karya receh Author. Karya receh Author murni hasil khayalan dan imajinasi tampa ada jiplak atau pun mencuri tulisan dari orang lain.
"Amel......! Mengangguk tampa membalas perkataan dari Bunda.
*
*
*
Pemuda bernama Awan berjalan menuju rumah bunda untuk sekedar mengganti pakaian santai dan akan pergi ke basecamp menemui tiga gadis cantik sahabatnya.
Setelah sampai di halaman rumah bunda tepatnya di depan pintu masuk. Ia pun langsung masuk karna pintu rumahnya terbuka.
Mau kerumah Nenek.! Malam ini mau ada acara maulid di Masjid depan rumah Nenek. " Jawab Ujang santai.
Awan mengangguk dan melangkah menuju kamar untuk berganti pakaian serta membawa buku raport untuk di perlihatkan kepada tiga gadis cantik sahabat nya.
"Awan......! Kalau mau keluar nanti rumah nya di kunci. Dan seperti biasa simpan kunci di bawah pot bunga." Teriak kang Ujang yang mungkin sudah keluar dari rumah.
"Siap." Balas Awan dengan nada teriak dari dalam rumah.
Tidak lama berselang Awan pun sudah berganti pakaian dengan kaos motif gambar anak metal serta celana jeans pendek dan menyemprotkan parfum kepada baju yang Ia pakai. Menambah kegagahan dan kemacoan pemuda berusia 15 tahun itu.
Suasana di sore hari yang begitu bersahabat dengan balutan matahari yang tertutup Awan seperti nama nya ditambah angin semilir di sore itu. Membuat kampung itu cukup ramai dengan anak anak yang berlari lari dengan kesenangan permainan itu serta ibu ibu tua maupun muda bercanda gurau yang tidak jauh dari rumah Bunda Lisnawati.
Pemuda tampan itu berjalan menuju utara dimana ketiga gadis yang mungkin sudah menunggu nya di basecamp yang berada di tengah tengah sawah milik orang.
Seketika pemuda itu pun berhenti tepat mata nya melihat dari kejauhan seorang wanita berusia sama dengan kakak pertama nya berjalan menghampiri Awan.
Aduh mati aku ada wanita lampir menghampiri ku bisa bisa kena caci.." Prolog Awan dalam hati nya.
__ADS_1
"Hai.........." Tukang kuli panggul." Sergah mbak Ani setelah berdiri berhadapan dengan pemuda itu. Dengan gaya angkuh dan sombong bicara nya.
"Ehk.......! Mbak Ani sang bidadari tercantik dan terseksi di kota ini." Puji awan dengan senyuman terpaksa di buat nya namun kata kata manis yang di berikan Awan tak akan mempan kepadanya karena rasa kebencian terhadap keluarga Lisnawati.
"What's.......! Apa loe bilang Anak kencur. " Lantang suara nya dan menggema sehingga membuat telinga Awan berdengung menahan sakit.
"Aduh......! Mbak ucapan itu Doa dan yang di ucapkan oleh aku adalah kenyataan tidak ada kebohongan atau pun terpaksa harus nya Mbak di Amin kan." Kata Awan dengan mimik muka sedih.
"Halooooo.......! Loe itu tidak usah menceramahi gue. Dan harus nya sadar diri dasar tukang kuli panggul. Jangan sekali kali loe deketin adik gue." Ancam Mbak Ani.
Pemuda itu hanya tersenyum tampa mau membalas penghinaan dari wanita yang berada di samping nya itu. karna buat dirinya lebih baik diam itu akan lebih baik dari pada membalas setiap perkataan dari orang yang sombong karna sebuah harta dan sosial pergaulan.
"Cuih......! Dasar orang miskin masih bisa tersenyum. " Geram Mbak Ani.
"Mbak Ani.....! Aku pergi dulu ya karna ketiga gadis gadis cantik sudah menunggu kedatangan pemuda tampan seperti diriku." Kata Awan seraya menyombongkan diri di hadapan wanita sombong itu.
"Ohk my God.....! Apakah telinga gue. Tidak salah mendengar perkataan mu.?" Tanya Mbak Ani seraya menepuk jidat nya.
Sedangkan orang yang di tanya sudah mengeluarkan jurus kaki seribu dengan cepat dan seketika itu sudah tidak terlihat di mata wanita sombong.
Huh......." Awas kau Awan akan gue kasih pelajaran kepadamu berani berani dia kabur sebelum aku mengijinkan pergi. Geram Mbak Ani dengan mata yang menyala merah.
Sesaat pemuda itu berhenti dari lari nya melihat kebelakang atau pun ke kanan dan kiri takut nya wanita lampir itu mengejarnya sambil menetralkan napasnya yang menderu agar teratur kembali.
Di saat situasi sudah aman dan napas pun sudah stabil pemuda itu pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan mengarungi jalan setapak di pinggir sawah menuju tempat nongkrong nya para gadis dan dirinya di waktu senggang.
*
*
*
Di Pusat Kota Kecil tepatnya di rumah sakit daerah Cianjur dan di ruangan rawat inap seorang lelaki paruh baya sedang terbaring lemah dengan tangan di infus selang dan beberapa orang yang sedang menunggu nya.
"Sebelum datang nya adzan duhur berkumandang dan waktu itu menunjuk kearah pukul 10:00 siang hari.
Bersambung.
__ADS_1