Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Jamil Menjemput Bob Hidayat dan Betmen


__ADS_3

"Tuan Besar. Salam hormat dari saya Jamil." Ucap Lelaki yang baru masuk itu membungkuk hormat kepada Safir.


"Terima Kasih. Tuan Jamil. Silahkan duduk." Kata Safir mempersilahkan lelaki yang akan memberikan informasi tentang pencarian anak dan istrinya Moch Ismail.


Jamil pun mengangguk dan langsung melangkah menuju kursi yang tersedia di ruangan khusus itu.


Setelah mereka bertiga sama sama duduk dan memulai obrolan di siang itu. Jamil pun lalu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.


"Bos Besar. Tuan Besar. Semua informasi tentang seorang pemuda yang membawa gadis dalam pertemuan malam itu sudah ada dalam amplop tersebut." Kata Jamil menyerahkan amplop tersebut kepada Firmansyah.


Pemuda yang di panggil Bos Besar itu lalu membuka amplop yang di berikan oleh bawahan nya. Lalu membacanya.


"Nama : Muhammad Awan Pratama.


"Alamat : Kampung Situhiang Desa Kertayasa.


"Umur : 16 Tahun.


"Aktivitas : Pelajar sekolah, dan mempunyai beberapa kios yang di kelola oleh Dewi Ayunda, sebagai orang kepercayaan di bidang pekerjaan.


"Bos besar dan Tuan Besar. Pemuda itu tidak bisa di anggap enteng, kabar dari seorang pencari informasi, bahwa yang telah membantu dan menyelamatkan Tedi Ferdiansyah bersama keluarganya adalah pemuda yang ada dalam amplop itu. Kabarnya pemuda itu mempunyai beberapa koneksi yang sangat kuat di belakangnya.


"Sehari hari dia tidak pulang ke kampung Situhiang. Dia sekarang tinggal di perumahan elit di kota kecil itu, katanya perumahan Leles Residance bersama seorang ibu beranak tiga." Kata Jamil memberikan tambahan informasi nya. Firmansyah dan Safir hanya manggut manggut.

__ADS_1


"Tuan Jamil. Apakah identitas gadis yang di bawa oleh pemuda itu, sudah kau dapatkan informasi nya.?" Tanya Safir penasaran.


"Menjawab Anda Tuan Besar. Menurut informasi yang di dapat bahwa gadis itu tinggal bersama dengan dua wanita yang bernama Zahra dan Pipit, sehari hari nya. Aktivitas mereka berjualan di kios yang tak jauh dari rumah mereka tempati. Sementara gadis itu bersekolah di SMA Negeri yang tak jauh dari tempat tinggalnya.!


"Bos Besar Firmansyah. Anda akan terkejut dan tercengang setelah mendengar informasi yang akan saya sampaikan kepada anda. Bos Besar." Kata Jamil tersenyum.!!


"Cepat katakan." Jawab Firmansyah penasaran.


"Satu dari dua wanita yang tinggal bersama dengan gadis yang di bawa oleh pemuda itu, adalah istri dari Bob Hidayat, lelaki yang di suruh oleh Ayah bos besar untuk menghabisi Tedi Ferdiansyah dan keluarganya.!!


"Apa............. Teriak Firmansyah. Kaget.!!


Jamil tersenyum. Safir berkerut kening nya tidak mengerti kenapa pemuda yang menjadi mediator untuk mencari keberadaan anak dan istrinya Moch Ismail berteriak dan sangat terkejut.


"Bos besar saya sudah melacak mereka berdua. Saat ini mereka berada di kaki bukit Gunung Slamet, sedang menenangkan diri dan meminta bantuan dari seorang Dukun untuk menutup permasalahan nya. Konon katanya Dukun sakti itu bisa membantu mereka berdua dan menghilangkan jejak kejahatan nya." Jamil memberikan penjelasan kepada Firmansyah bos nya itu.


"Hmmmmmm." Begitu. Baiklah. Jamil saat ini juga kau berangkat menuju Dukun itu dan bawa Bob Hidayat dan temannya. Untuk ikut dalam penjemputan paksa pemuda dan gadis anak dari Moch Ismail.


"Siap Perintah dari Bos Besar. Akan saya laksanakan. Anda tinggal tunggu kabar baik dari saya." Ucap Jamil. Lalu membungkuk hormat dan beranjak pergi keluar.


Setelah kepergian Jamil anak buah Firmansyah. Yang menjadi kaki tangan nya itu. Pemuda itu lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke grup Wasttap untuk segera berangkat kepada anak buahnya yang ada di kota Jogja.


"Safir sendiri segera menyiapkan anak buah yang telah di persiapkan guna membantu Firmansyah bila ada pihak pihak dari Moch Aidil dan Ahmad yang sama mencari keberadaan Azzahra Masika Fatharani dan anaknya itu.

__ADS_1


"Tuan Firmansyah. Aku mohon ijin terlebih dahulu untuk memberangkatkan beberapa orang orang terlatih untuk menjaga kemungkinan terbesar terjadinya bentrok dengan Moch Aidil dan Ahmad atau pun orang orang dari perusahaan Future Nugraha Company Group." Kata Safir.


"Silahkan. Tuan Safir. Saya sendiri sudah mengirim pesan grup kepada para preman yang ada di kota Jogja, untuk segera mendarat ke kota Jakarta dan akan bertemu tepat hari Jumat." Jawab Firmansyah tersenyum manis.


"Siap. Tuan Firmansyah.!! Safir pun langsung berdiri dan keluar dari ruangan khusus menuju Area halaman Mansion Mewah milik Agus Ferdiansyah.!!


#######


Senja pun belum sepenuhnya di katakan hadir di hari itu, karna langit belum tampak gelap. Seorang pemuda keluar dari rumah bilik Lisnawati tepat pukul 17:30 Menjelang senja datang.!!


Setelah pamit kepada Ibu dan bapaknya serta nenek Romlah. Pemuda itu melangkah menuju sebuah mobil mewah yang terparkir tepat di samping rumah Mbak Ani dan di depan pohon pisang.


Tatapan sinis dari wanita beranak satu dan kedua Orang Tua nya, di acuhkan saja oleh pemuda tampan nan rupawan dan tengil tersebut berbeda dengan adiknya Mbak Ani. Mata nya sayu terlihat dari Rahma yang hampir sebulan lebih tanpa bertegur sapa. Terakhir kebersamaan gadis cantik yang setiap hari memakai kerudung itu tepat malam itu di belakang rumah Orang Tua nya. Sudah saya post di episode sebelumnya dengan judul ( Satu jam bersama Rahma di malam hari )


"Awan pun menyadari tatapan dari seorang gadis yang pernah ada dalam hatinya. Tapi Ia mundur karna perbedaan kasta dengan keluarganya.


"Maapkan aku. Maapkan aku Rahma. Kamu juga tahu bagaimana kakakmu dan kedua Orang Tua mu sungguh melarang kita berdua untuk bersama. Semoga kamu bisa menerima sipat acuh ku saat ini. Karna akibat kedua Orang Tua mu dan Mbak Ani. Namaku di kampung Situhiang tercemar sebagai seorang anak yang menyantet ayahnya sendiri " Kata Awan dalam hati lalu masuk kedalam mobilnya itu.


Rahma langsung berlari menuju kamarnya dengan Air mata yang jatuh di sore hari itu, setelah melihat pemuda itu masuk kedalam mobilnya. Gadis itu menangis dengan terisak dan di tahan dalam bantal agar tidak terdengar oleh pihak rumah.


"Hati ini sungguh sangat sakit setelah tatapan darimu, tanpa ada senyuman dari bibirmu. Aku tahu kau lebih sakit dari hatiku ini. Akibat ulah kedua orang tua ku dan kakak ku, namamu tercemar di kampung ini malah sampai tingkat desa semua sudah termakan pitnah yang di sebarkan oleh keluarga ku." Batin Rahma bergejolak.


Ingin rasanya Rahma berteriak memanggil pemuda itu dan memeluknya serta meminta maap kepada nya dan keluarganya. Tapi itu tidak mungkin karna kedua Orang Tua dan kakaknya melarang keras. Jangankan untuk menemui pemuda itu, untuk sekedar bersapa dengan ibu dan adik adik pemuda itu di larang keras oleh keluarganya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2