
Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.
Mungkin sudah saatnya Bunda dan Nabil mendapatkan hasil dari buah kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan yang begitu pahit selama lima tahun ini." Kata Awan di mulai obrolan malam itu.
"Maksud anakku.! Bunda bener bener tidak mengerti dengan ucapan yang di katakan oleh mu Nak.?" Tanya Azzahra.
Awan menyodorkan amplop berwarna coklat yang ia terima dari Tuan Aidil pada pertemuan malam itu di kantor Besar Future Nugraha Company Group.
Azzahra semakin tak mengerti mata nya menatap kearah pemuda itu. Nak. Ini apa, Bunda semakin tidak mengerti.? Tanya Azzahra penasaran penuh misteri malam ini mengobrol bersama Awan secara empat mata. Sementara Nabil sendiri di suruh menunggu oleh Bunda di warung di temani oleh mbak Pipit.
Pemuda itu menghela napasnya dalam dalam. Bibir nya tersenyum. Tarikan napasnya ia hentakan sangat keras.
"Bunda.! Buka saja amplopnya.!
Dengan rasa penasaran. Azzahra lalu mengambil amplop tersebut. Benang merah yang mengikat kedalam cincin amplop itu ia buka dengan jari tangan nya. Tangannya lalu mulai masuk kedalam amplop itu dan lalu mengeluarkan beberapa kertas tebal dari dalam amplop.
"Tidak................ Ini bukan diriku. Teriak Azzahra. Setelah di dalam amplop itu ia keluarkan lalu di lihat dengan mata wanita ibunda dari Nabil Nur Fadillah.
Azzahra seketika menangis, terisak-isak. Kenapa semua Poto lima tahun kebelakang ada di pemuda yang sudah di anggap anak nya itu.
"Bunda.......... Tenang.! Rilex........ Tarik napas dalam dalam. Ucap Awan menenangkan.
Tiba. Tiba.!
"Braak........!
__ADS_1
Pintu di buka sangat kasar oleh seorang gadis dan wanita setengah tua, setelah mendengar teriakkan seorang wanita dari arah belakang warung.
"Kak..............!!
"Bunda kenapa.?"
"Nabil setelah membuka pintu yang sangat keras dan melihat ibu nya sedang menangis terisak Isak lalu, menghampiri nya sebelum, pemuda itu menjawab pertanyaan yang di berikan oleh nya.
"Bunda........ Kenapa menangis.?" Tanya Nabil. Penuh dengan rasa penasaran.! Ujung matanya menatap kearah Poto berukuran sedang yang ada di tangan Bunda.
"Bunda............ Bicara.! Jelaskan semua ini kepada Nabil. Kak Awan........! Apakah.......... Benar yang di katakan malam itu oleh dua orang yang sudah tua.?
"Nabil...... Tenang dulu. Tenangkan dulu Bunda. Mbak Pipit sebaiknya. Warung di tutup dulu.?" Pinta Awan kepada wanita yang datang bersama Nabil.
"Siap Bos.........!! Pipit pun beranjak keluar dari rumah kontrakan menuju warung yang biasa mengais rezeki wanita beranak satu yang sudah menolongnya.!
"Kak Awan ini, kalau lagi serius tatapan dan bicaranya menakutkan, seolah oleh mempunyai dua jiwa yang berbeda." Ucap Nabil dalam hati seraya melangkah kearah dapur untuk mengambil air minum.
Awan sendiri lalu bergeser dan kini duduk di samping wanita setengah Tua dan mulai berbicara secara perlahan lahan.
"Bunda. Zahra. Tau nggak, sebelum kita bertemu dengan bunda pas waktu itu Bunda sedang di pukuli oleh Preman pasar yang bernama Kang Dayat.?" Tanya Awan. Azzahra tak menjawab Ia masih bergeming diam Air mata nya mengalir deras dari kelopak mata.
"Bunda. Padahal waktu itu, tujuan Awan untuk membeli barang barang dagangan yang sudah habis di kios milik Pak Ibrahim. Waktu itu biasanya Awan kalau belanja ke grosir toko Ahong, suka melewati jalan depan ruko. Entah kenapa tiba tiba mau jalan lewat belakang ruko saat itu." Kata Awan terdiam sesaat, ketika Nabil datang membawa air putih dan tak lama Mbak Pipit pun ikut duduk karna sudah selesai dengan menutup warungnya.
"Apakah ini takdir buat Awan.? Bisa bertemu dengan seorang wanita yang hebat, wanita yang pantas disebut surga di telapak kaki nya. Wanita yang dengan ikhlas dan sabar menjalani kehidupan yang sangat seratus persen berbalik dari kemewahan menjadi kesengsaraan hidup." Awan melanjutkan obrolan nya lagi.
__ADS_1
"Bunda........... Hati anak mu ini teriris sakit, dalam hati menangis, melihat seorang wanita yang sudah tak berdaya di pukuli dengan sangat membabi buta. Bunda. Andai di bolehkan dalam agama yang kita yakini, sudah Awan balas kelakuan preman pasar itu, waktu itu.
"Bunda............ Pak Lukman dan ustadz Hilal dan Ibu serta Nenek Awan pernah berkata dan menasehati aku.
Muhammad Awan Pratama. Jangan lah kau mempunyai sipat pendendam. karena dendam merupakan sifat yang tercela. dan dendam akan menyebabkan permusuhan seseorang yang semakin lama.
"Bunda. Awan tahu, sakit hati Bunda, Pitnah yang di berikan kepada Bunda, ketidakpercayaan yang di berikan oleh suami dan kedua Orang Tua Bunda, dan penghianatan. Itu sudah menjadi takdir yang harus di jalani oleh Bunda dan Nabil Nur Fadillah.
"Alhamdulillah. Kalau Awan lihat perjalanan Bunda ketika kita pertama kali bertemu sampai saat ini. Bunda dan Nabil menjalankan dengan ikhlas dan sabar, menerima semua apa yang di berikan oleh sang maha Esa.
Nabil, mbak Pipit tidak berani menyela setiap obrolan yang di katakan oleh pemuda itu, karna mereka yakin bahwa pemuda itu sedang menenangkan dan memberikan nasehat kepada Azzahra Masika Fatharani yang tidak terima bahwa anak buah Moch Ismail suaminya yaitu Ahmad dan Aidil sedang mencarinya.
Azzahra sendiri hanya diam saja wajah nya tertunduk air mata nya masih mengalir dan pikiran nya sedang melanglang buana kepada masa lalu bersama dengan suami dan anaknya di salah satu bangunan yang seperti istana kerajaan di negara nya.
"Bunda adalah wanita hebat, panutan Awan, rendah hati penyabar dan penyayang. Nabil beruntung mempunyai seorang ibu seperti Bunda.
"Bunda. Memaapkan itu lebih baik dari pada menyimpan rasa dendam dalam hati. Awan berharap semua perkataan dan obrolan yang di ucapkan, masuk kedalam hati Bunda, untuk menerima dan memaapkan kesalahan kesalahan yang sudah menyakiti hati dan pisik Bunda." Ucap Awan menasehati wanita beranak satu itu Azzahra Masika Fatharani.
Hening di ruangan tengah kontrakan yang mempunyai dua kamar tidur itu.
"Anakku.............. Lirih Azzahra........ Anakku.........! Azzahra Masika Fatharani lalu memeluk pemuda itu dengan Isak tangis. Awan menyambut pelukan hangat seorang yang sudah di anggap Ibu kandung nya.
"Sabar dan ikhlas, jadikan ibadah buat Bunda." Kata Awan mengelus ngelus punggung Azzahra.
Nabil sendiri hanya bisa memeluk Mbak Pipit untuk menuangkan kesedihan nya di malam itu.
__ADS_1
"*Terima kasih Kak. Awan terima kasih untuk semuanya, bila tidak ada kakak, Nabil dan Bunda tidak akan bisa hidup di dunia ini. Aku Nabil Nur Fadillah berjanji dan bersumpah tidak akan pernah melupakan kebaikan dan akan membalas kebaikan dari kak Awan. Ucap Nabil dalam hati seraya memeluk hangat mbak Pipit.
Bersambung*.