
Pagi adalah pembuka hari. Apa yang terjadi di pagi hari seringkali menjadi penentu akan apa yang dijalani sepanjang hidup pemuda berusia 16 tahun Itu. Oleh karena itu, menatap pagi dengan penuh semangat adalah suatu keharusan. Dengan adanya semangat di pagi hari, ujian yang besar sepanjang hari pun akan dihadapi dengan penuh berani dan tanpa keluh kesah.
Lahir dari rahim seorang Ibu yang mempunyai ekonomi pas pasan dan seorang ayah yang pekerjaan hanya serabutan terkadang pagi makan sore pun puasa, sehingga Muhammad Awan Pratama pun di haruskan bekerja keras di usia yang terbilang belia waktu itu.
Sudah menjadi rutinitas bagi seorang Awan bangun sebelum matahari terbit, lalu menunaikan ibadah sholat subuh dari usia tujuh tahun sampai menginjak usia belasan tahun.
Sang mentari belum tampak menyinari Bumi Pertiwi, tapi langit sudah tampak terang, pemuda itu duduk di kursi dengan di temani secangkir kopi yang tertera di atas meja, dan pandangan matanya menatap kearah gedung gedung bertingkat tinggi di hotel tempat ia menginap.
Asep Sunandar yang satu hotel dengan dirinya setelah melaksanakan sholat subuh, ia melanjutkan lagi tidur nya, karna semalaman Ia bergadang bersama Nabil dan Lara, sementara Awan sendiri sesudah pukul 23:00 sudah terlelap dalam tidurnya.
Hari ini Ia berusaha untuk kembali ke kota kelahiran nya, setelah kata sepakat dari Liem Tank Cie, terucap dan urusan penyakit yang di derita oleh Tuan Tang Tang Dor serta istrinya menjadi tanggung jawab Aden Haruman dan para sahabatnya..
Tadinya Awan Pratama akan bermalam mingguan di kota Jakarta dengan seiring nya bertemu dengan Nona Muda Tiara adik dari Firmansyah, orang yang sedang memburu dirinya dan Nabil Nur Fadillah serta Azzahra Masika Fatharani tentang sebuah warisan dari Moch Ismail. Akan tetapi Nona Muda Tiara janji pertemuan menjadi lebih awal dan memberikan semua informasi yang di dapatkan oleh orang orang yang di susupkan dalam pertemuan antara Tuan Jamil dan Safir serta para preman pasar induk tempat pertama berdirinya perusahaan Anugrah Awan Sentosa.
Muhammad Awan Pratama, berdiri lalu berjalan menuju kamar untuk mengambil ponsel yang sedang di cas di samping kamar tidur nya.
Setelah sampai dan mengambil ponsel nya, ia lalu membuka aplikasi wasttap dan mengirim pesan suara ke grup.
"Untuk Sepuluh Murid Mama Sepuh dan Sutisna, malam ini pukul 19:00 untuk berjaga di restoran yang baru dua Minggu beroperasi... " Pesan suara Awan terkirim ke grup.
Setelah mengirim pesan suara ke grup khusus, Muhammad Awan Pratama langsung mengirim pesan ke tiga sahabat nya, yaitu Mira dan Kiara serta Irma, untuk meminta datang atas undangan dari dirinya dan bukan kepada tiga sahabat nya saja pemuda itu mengundang anak dari Engkos Kosasih.
Tidak lama kemudian dan hanya beberapa menit saja, balasan balasan dari mereka yang di kirim pesan Wasttap oleh Awan pun, masuk ke ponselnya dengan jawaban yang sama dan berjanji akan datang.
###########
Masih di ibu kota Jakarta hanya berbeda tempat saja, tepat nya di salah satu Mansion Mewah milik perusahaan terbesar di nomor satu di negara ini.. Pagi itu di ruangan keluarga pukul 07:00 setelah selesai dengan sarapan pagi, kepala keluarga yang bernama Tedi Ferdiansyah, langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon kepada seorang pemuda yang posisi nya sedang berada di kota Jakarta.
Kabar dari sang Jendral Irsyad Maulana dan Asisten nya, bahwa dirinya serta anak nomor dua yaitu Friska sedang menjadi target buruan Jamil dan para preman yang di datangkan dari kota Jogja atas perintah dari Firmansyah keponakan nya sendiri.
"Tut....................!!
__ADS_1
"Tut....................!!
"Tut....................!!
"Assalamualaikum... Halo... Selamat pagi... Apakah saya berbicara dengan Tuan Besar Tedi Ferdiansyah yang terhormat dan sangat tampan di muka bumi ini." Kata seorang lelaki di sebrang telepon dengan candaan nya.
"Hahahahaha..... Hahahahaha...... Bocah sinting pagi pagi sudah ngajak bercanda.." Jawab Tedi Ferdiansyah dengan tawa yang lepas..
"Awan gitu loh......... Hahahhahahah.......!!
"Tuan Besar... Pagi pagi sudah menelepon ku, apakah kangen pada anak mu ini atau hanya ingin mengajak ngopi.?" Tanya Awan dalam panggilan telepon.
"Dua dua nya Nak... Saya tidak mau tahu sekarang juga kamu kesini ke Mansion ku.. Bawa pacar mu dan kedua orang yang menjadi pengawal dirimu." Titah Tedi menjawab pertanyaan dari Awan.
"Aduh Tuan Besar... Aku masih jomblo.. Hehehehe.. Baiklah satu jam lagi aku akan berangkat menuju Mansion Tuan Besar." Kata Awan.. terkekeh..
"Siap.... Aku dan sekeluarga menunggu mu..... Gpl...." Hehehe.." Kekeh Tedi Ferdiansyah.
######
"Ayah terlihat bahagia sekali, sesaat tadi waktu sarapan pagi tampak cemas dan penuh kekhawatiran.?" Tegur wanita paruh baya datang dan duduk di ruangan keluarga bersama anaknya Friska.
"Hehehehehe.! Anak bungsu kita akan kesini sayang." Jawab Tedi Ferdiansyah.
"Hmmmmmmmmm''.. Muhammad Awan Pratama.. Si Ganteng kalem." Gumam Agista istri dari Tedi Ferdiansyah.
"Apakah adikku Muhammad Awan Pratama, Ayah yang datang kesini." Timpal Friska menebak dan mendengarkan gumam nya sang Bunda...
Tedi Ferdiansyah hanya mengangguk, menjawab pertanyaan dari dua wanita yang berstatus anak dan ibu itu..." Kakak kamu kemana Friska..?" Tanya Sang Ayah.
"Kak... Excel tadi sesudah sarapan, langsung keluar kata nya mau ke supermarket membeli Rokok." Jawab Friska.
__ADS_1
"Ohk............" Balas Tedi singkat.!
###
Satu unit Mobil Mewah Marcedez Benz C-Class, keluar dari hotel berbintang lima di daerah Jakarta Selatan membelah jalanan di pagi hari yang beranjak siang..
Di dalam mobil tersebut tampak seorang pemuda berusia 16 tahun itu, tatapan matanya menatap tajam kearah depan jalan dengan sesekali senyuman terukir oleh nya, hingga gadis di sebelah nya bertanya tanya tentang pemuda yang tangannya memegang kemudi setir.
"Kak.... Awan gila ya... Senyum senyum sendiri." Celetuk Nabil.. Hal itu membuat pemuda itu tersentak kaget! Bahkan dua orang yang duduk di jok belakang pun ikut terkejut..!
"Aduh........ Bidadari ku... Seenaknya aja kalau ngomong." Keluh Awan...
"Lagian Kak Awan, sedari tadi turun dari hotel dan masuk ke mobil sampai sekarang senyam senyum.. Wajarlah aku menyangka kakak gila... " Kata Nabil tak mau kalah dalam urusan berdebat.
"Hehehehe...... Nabil kesayangan ku... Bidadari ku.. Pujaan ku....."
"Stop.............! Tak usah mengeluarkan kata kata yang merayu kak Awan.." Kata Nabil menyela ucapan dari Awan.
"Kenapa sayang.!
"Kata kata dari kak Awan, sudah basi dan terlalu sering di ungkapkan." Sewot Nabil.
"Sekarang jelaskan kenapa Kak Awan senyam senyum sendiri... Pokok nya Nabil butuh penjelasan titik gak pake koma.." Sergah Nabil tegas..!
"Hmmmmmmmm.. Ini anak kenapa sih marah marah mulu... Mungkin lagi dapat kali ya." Tebak Awan dalam hati.!
"Kamu lagi dapat ya sayang.?" Tanya Awan.!
"Iya.... Ayo sekarang jelaskan." Sewot Nabil..!
"Pantas, dari tadi uring uringan terus, hehehehe." Kekeh Awan..
__ADS_1
Bersambung.