
Salah satu bangunan berlantai tiga dengan area halaman parkir yang begitu lumayan luas telah berjejer rapi beberapa mobil kelas menengah dengan berbagai tipe dan merk.
Tak lama kemudian dari ujung jalan labuan Cianjur salah satu mobil Honda Br-v meluncur membelah jalanan di pagi menuju siang itu. Ketika pengemudi itu melihat sebuah plang papan bertuliskan Kafe Metalik, mobil Honda Br-v pun lalu berbelok dan masuk ke area parkir tersebut.
Setelah itu, ketika mobil itu berhenti tepat di samping mobil Xenia all new dari dalam mobil yang baru tiba turun dua lelaki yang satu di antara nya mirip bintang aktor Asia yang memerankan pendekar rajawali.
Dua lelaki yang baru turun tersebut, lalu melangkah kan kaki nya menuju lantai bawah yang berjejer kursi kursi dengan di tengah nya sebuah meja.
"Selamat siang Tuan. Tuan." Ucap pelayan Kafe tersebut menyambut kedua lelaki yang tiba di pintu masuk.
"Hmmmmmmm.!! Gumam salah satu mereka berdua.!!
"Aku butuh ruangan khusus untuk membahas sesuatu. Apakah bisa.?" Tanya salah seorang yang mirip aktor bernama Andy lau.
"Bisa....... Silahkan ikuti saya." Pinta seorang pelayan itu.
Setelah ruangan khusus di dapat. Bob Hidayat segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim Serlock lokasi kepada sahabatnya dan beberapa pegawai CV Hansel Mandiri.
"Holik Simatupang. Aku dan Betmen berada di Kafe Metalik, aku tunggu di sini. Lokasi sudah saya kirim." Pesan suara dari Bob Hidayat.
********************
Sementara di salah satu jalan menuju pesisir pantai selatan, tepatnya jalan penghubung antara Cianjur dan Garut di tengah tengah pemukiman yang tak jauh dari pesisir pantai selatan.
Satu unit mobil X Fander Cross berjalan perlahan memasuki jalan desa yang sedikit berbatuan dan berlubang.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan satu kilo jauh nya dari jalan utama Mobil keluaran terbaru pun memasuki area halaman rumah berkayu dan telah di tunggu oleh dua pemuda kembar.
Pintu mobil pun terbuka. Dua orang pemuda terpaut usia nya empat tahun pun turun menghampiri dua pemuda kembar yang berjalan kearah nya.
"Kang Hendra. Kang Hendri." Ucap pemuda yang berusia 19 tahunan itu seraya memeluk satu persatu.
"Asep. Sehat." Ujar Hendra usai pelukan itu terlepas.!!
"Alhamdulillah. Kang. Akang Akang bagaimana.?" Tanya Asep Sunandar.
"Iya seperti kau lihat." Timpal Hendra dengan senyuman.!
"Ehk. Kang. Hendra dan Hendri perkenalkan, Ini Kang Tarmin. Pegawai baru di perusahaan Tuan Muda Awan. Atas perintah Bu Dewi menemani perjalanan ku, Untuk menjemput Nenek dan Cucu yang katanya udah ada dalam pantauan kalian berdua." Kata Asep memperkenalkan.
"Kenal kembali para Kakak senior dari pemuda kampung yang baru saja mengenal dunia luar." Jawab Tarmin merendah.
"Ahk. Kang Tarmin orang nya suka merendah." Ucap Hendra tersenyum.!! Tarmin pun ikut tersenyum, orang orang dari perusahaan Anugrah Awan Sentosa tidak sombong dan angkuh suatu anugrah bisa mengenal mereka.
Setelah berbincang bincang dan saling memperkenalkan diri, mereka pun langsung pada pokok tujuan datang kesini atas perintah dari Ibu Direktur perusahaan Anugrah Awan Sentosa.
Kini mereka berdua yang di antar oleh Hendra dan Hendri sudah berada di salah satu rumah RT setempat dan para sesepuh kampung yang tak jauh dari pesisir pantai selatan.
Dalam rumah bilik berukuran 8x8 meter persegi tepat nya di ruangan tamu milik RT setempat. Wanita paruh baya yang sedang menggendong seorang bocah dua tahunan terbelalak kaget saat penuturan dari salah satu empat pemuda yang ingin menjemput nya.
"Pak RT dan Bapak Bapak lainnya. Maksud tujuan kami datang kesini untuk menjemput saudara Ibu Tukiyem, yang akan menjadi saksi atas pembunuhan dari suaminya Siti Lara sebulan yang lalu oleh para preman yang di telah di suruh oleh Engkos Kosasih." Asep Sunandar menjelaskan semua nya kepada yang hadir di rumah milik RT tersebut.
__ADS_1
Tarmin dan Bu Tukiyem tersentak kaget setelah pemuda itu mengutarakan maksud tujuanya. Berbeda dengan yang lainnya yang sudah di beritahu terlebih dahulu oleh Hendra dan Hendri, serta menjelaskan semua nya kepada pihak sesepuh kampung.!
"Anak Muda........!! Siapa anda sebenarnya.?" Tanya Tukiyem dengan keringat bercucuran. Jelas Ia berkeringat panas dingin, bila kejadian yang menimpa keluarganya itu berurusan dengan pihak kepolisian, secara garis besar Tukiyem sendiri akan ikut terseret atas kelakuan suaminya yang menjadi dukun santet.
"Bu Tukiyem. Saya hanya seorang pegawai yang di suruh oleh majikan saya, anda tidak usah takut dan terseret dalam kasus suami Ibu. Perlu ibu tahu Anak ibu Tukiyem yang bernama Siti Lara ada bersama kami, dan pemuda ini yang telah menyelamatkan hidupnya." Kata Asep menjelaskan seraya menunjuk kearah Tarmin.
"A.... A...... Apakah. Anak muda sedang tidak bercanda dan membohongi wanita tua ini." Jawab Tukiyem terbata bata. Kepercayaan dari istri Mbah Wongso sudah tidak ada lagi kepada orang yang hidup di kota, atas ulah Engkos Kosasih, yang tega mengkhianati dan membunuh menantu dan merenggut kebahagiaan nya.
"Bu Tukiyem. Apa yang di katakan oleh teman saya, Asep Sunandar, itu adalah kejujuran dan kenyataan bahwa Siti Lara ada bersama kami di rumah sakit rakyat. Ibu boleh tidak percaya kepada teman teman saya. Tapi Ibu harus percaya kepada saya, karna saya adalah anak dari sahabat suami Ibu Tukiyem." Kata Tarmin ikut menjelaskan dan meyakinkan Wanita yang sedang menggendong bocah berusia dua tahunan itu.
"Kalau boleh tahu siapakah kedua orang tua mu Nak Tarmin.?" Tanya Tukiyem. Penasaran.!!
"Mbah Juned. Yang tinggal di kaki bukit Gunung Halu." Kata Tarmin.
"Jaa.... Jadi....... Kau anak si Juned.!! Tandas Tukiyem kaget. Tarmin mengangguk. " Ayo Bu ikut bersama kami untuk menyelesaikan urusan dengan para preman dan Engkos Kosasih, agar almarhum suaminya Siti Lara tenang di alam nya." Ajak Tarmin.
"Baiklah. Ibu akan ikut bersama kalian dan menjadi saksi atas kejahatan yang di lakukan oleh Engkos Kosasih dan para preman nya itu." Lirih Tukiyem, Air mata nya sudah tidak bisa keluar lagi dari kelopak mata nya, karna hampir tiap malam setelah kejadian pembantaian itu Ia menangis.
"Alhamdulillah.!! Ucap mereka serentak yang ada di rumah RT setempat mengucap rasa syukur atas kesediaan wanita paruh baya itu yang akan menjadi saksi atas kejahatan Engkos Kosasih.
Hendra dan Hendri beserta Asep Sunandar berbincang bincang sejenak dengan sesepuh kampung tersebut, sementara Tarmin membantu menyiapkan segala sesuatu keperluan yang akan di bawa oleh Tukiyem dan Cucu nya.
Dalam hati dan pikiran Tarmin saat ini, memberi perhatian lebih kepada Anak Lara dan Ibu kandungnya, untuk mendapatkan hati dan cinta sang wanita pujaannya itu.
Bersambung.
__ADS_1