Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Supit dan Anak Buah nya Membuntuti mobil Excel


__ADS_3

Hari itu pukul 10 :00 Pagi, seorang pemuda tampan tapi mempunyai sipat yang begitu tengil dan kecerdasan yang luar biasa di bidang bisnis, sedang berada di kediaman rumah Haji Sunarti di kota Bandung.


Kedatangan pemuda bersama Bu Dewi dan kuasa hukum Pak Arianto itu berkunjung ke rumah haji Sunarti untuk membicarakan lahan yang di kuasa kan kepada dirinya. Untuk di jual bila ada yang berminat.


Lahan yang ada di kota kecil itu sebenarnya sudah beberapa pengusaha dan perusahaan datang kepada Bu haji Sunarti tapi selalu di tolak karna satu alasan yang hanya Awan dan wanita paruh baya itu yang mengetahui nya.


Karna amanat dari suaminya sebelum meninggal bahwa bila tanah itu di jual. Maka 50 persen uang nya untuk di berikan kepada orang orang yang membutuhkan atau pun kepada para pondok pesantren yang bangunannya tak layak di pakai.


Sedangkan anak anaknya mendapatkan masing masing 10 persen dari ketiga anaknya dan sisanya yang dua puluh persen lagi di bagi dua oleh Istri dan pemuda bernama Muhammad Awan Pratama yang di berikan amanat oleh almarhum suaminya.


"Bu haji Sunarti sesuai wasiat yang di berikan oleh suami anda bahwa lahan yang ada di kota kecil itu kemungkinan terbesar bulan ini akan ada yang membeli nya dengan nominal 15 miliar." Ucap Awan di sela obrolan bersama dengan anak anak dari Bu haji Sunarti.


"Apakah sudah seratus persen Awan, orang yang mau membeli lahan tersebut.?" Tanya Citra anak bungsu Bu haji Sunarti.


"Kemungkinan diel seratus persen jadi dan tidak akan meleset." Jawab Awan.


Citra dan kedua kakaknya tersenyum sebentar lagi akan menerima uang warisan lagi dari peninggalan suaminya. Walaupun hanya sepuluh persen dari harga yang di bayarkan oleh pihak pembeli, tidak jadi masalah buat mereka bertiga.


"Jadi kemungkinan tanggal berapa.? Serta proses jual beli nya apakah Ibu perlu datang.!! Atau hanya terima bersih dari Nak Awan.!! Kata Haji Sunarti.


Kemungkinan akhir bulan ini pembayaran lahan tersebut sudah terlealisasi oleh pihak pembeli. Uang akan masuk ke rekening saya. Bu Haji beserta ketiga anaknya tinggal menerima pembayaran dari saya." Jawab Awan.


"Apakah Nak Awan mengetahui lahan punya almarhum suami saya. Di beli untuk di bangun apa.?" Tanya Haji Sunarti.


"Iya....... Awan emang mau di bikin apa. Timpal Citra.


"Mau di bangun Mall." Ucap Awan singkat. Dan mereka berempat pun mengangguk.

__ADS_1


"Awan sesuai malam di telepon. Apakah kau mampu memenuhi kebutuhan kami bertiga. Dan pembayaran nanti setelah lahan itu di bayar oleh pihak pembeli.!! Kata anak pertama Bu Haji Sunarti yang bernama Adrian.


"Berapa yang di butuhkan oleh Kak Adrian dan kedua adik Kakak.?" Tanya Awan.


"Kalau ada sih 600 juta, masing masing dari kami bertiga kebutuhan nya 200. Jawab Kak Adrian.


"Apakah Bu Haji, sama membutuhkan uang saat ini.?" Tanya Awan.


"Hehehehe.............!! Kalau ada sih ibu juga mau pinjam." Kekeh Haji Sunarti cekikikan.


"Ada.............!! Tinggal bilang saja sama Awan..!! Mungpung yang punya uang nya ada di sini." Ucap Awan seraya menatap kearah Bu Dewi. Wanita yang di tatap oleh pemuda itu hanya tersenyum.


"Bu Haji Sunarti dan Kak Adrian bersama Kak Citra dan yang lainnya. Untuk urusan masalah pinjam meminjam silahkan kepada Bu Dewi......!! Awan ijin keluar karna mau nelepon seseorang." Ucap Awan seraya beranjak keluar dari rumah wanita paruh baya.


Bu Dewi dan Pak Arianto tersenyum kecut, mendengar akting dari pemuda itu. Sedang Bu haji Sunarti dan ketiga anaknya hanya mengangguk.


"Baiklah, Bu Haji dan Kak Adrian bersama yang lainnya kalau begitu Saya bersama Bu Dewi dan Pak Arianto undur diri, dan akan kembali ke kota saya." Ijin Awan.


"Ohk begitu Nak Awan. Di kira masih lama, tadinya ibu mau menyuruh Citra untuk bikin nasi liwet." Jawab wanita Paruh Baya itu kecewa.


"Terima Kasih banyak Bu tawaran, lain kali saja setelah beres dengan jual beli lahan yang akan di jual biar santai." Tolak Awan dengan senyuman manis sehingga Bu haji Sunarti pun ikut tersenyum.


**************


Di jalan labuan kawasan puncak Bogor, mobil mewah Lamborghini Sian melaju dengan kecepatan yang sangat lambat, karna suasana di jalan kawasan puncak sedang terjadi nya kemacetan di akibatkan hari weekend. Kendaraan pun sangat padat sehingga perjalanan Tuan Muda Excel terpaksa harus Extra sabar menjalankan mobil nya tersebut.


Para pedagang asongan di area kawasan puncak itu menambah suasana semakin macet, beragam ragam pedagang asongan seperti Tukang mochi. Kacang, Tahu Sumedang dan sampai gemblong pun ada di daerah puncak itu.

__ADS_1


*** Sementara di setiap perapatan jalan menuju kota kecil dengan ciri khas nya Tauco itu. Anak buah dari Tuan Agus Ferdiansyah yang di pimpin langsung oleh Supit dan Iwan saling mengabarkan satu sama lain tentang semut kecil yang terjebak macet tersebut.


"Tuan Supit........... Semut kecil terlihat di rest area gunung mas dan masih merayap." Lapor salah satu anak buah majikannya.


"Supit yang sedang menunggu di kawasan Puncak Pas pun langsung membalas laporan dari anak buahnya itu.


"Di Terima segera bergerak." Balas Supit.


"Siap Tuan Supit.........!! Segera kami bergerak.!!


Tak lama setelah itu Mobil Lamborghini Sian pun kini mulai melaju normal dan keaadaan mobil pun tidak merayap seperti di rest Area Gunung Mas itu.


"Tuan Supit Semut merah sebentar lagi sampai di kawasan Puncak Pas." Lapor Anak buah nya yang berada di Masjid attaaun.


"Di terima segera bergerak dan ikuti semut kecil itu, saya di sini sudah bersiap untuk mengikuti dan bergabung dengan kalian." Balas Supit.


"Siap. Kami segera bergabung dengan yang lainnya.


Mobil mewah yang di kendarai oleh adik Kakak itu kini melesat dengan kecepatan penuh setelah melewati keluar dari kemacetan yang kurang lebih memakan waktu satu jam lamanya terjebak dalam kemacetan.


Sementara dari arah belakang mobil mewah tersebut beberapa mobil anak buah Agus Ferdiansyah yang di pimpin oleh Supit mengikuti dari arah belakang, tanpa mereka sadari mobil mobil pengungkit itu di ikuti oleh Asisten Tuan Besar Tedi Ferdiansyah bersama ketiga mobil jenis Xenia.


"Tuan Robi apakah perkelahian akan terjadi di waktu siang ini." Kata supir bertanya kepada seorang majikan yang duduk di samping jok Mobil.


"Tidak mungkin mereka bukan orang bodoh.! Kemungkinan mereka ingin mengetahui dimana Tuan Muda Excel akan menginap." Jawab Robi mata terus memandang ke depan.


"Bukan kah Tuan Muda akan langsung menuju Lokasi proyek pembangunan perumahan yang ada di jalan Pramuka.?" Tanya Supir tersebut.

__ADS_1


"Iyaaa..........." Balas Robi seraya mengangguk. Dan supir pun tak bertanya lagi.


__ADS_2