
Setelah Bram pergi, Agi segera mendapat telepon dari Tio. Ia di suruh kembali bekerja menjadi chef terkait tidak ada penagih hutang pria besar dengan kulit hitam yang datang mengacak ngacak restonya.
"Benar pak! Saya dilunaskan oleh Bram. Saya berhutang budi padanya." ucap Agi.
"Kau tahu, apakah dia melakukan transaksi ilegal?"
"Saya tahu betul. Bram teman yang baik, tidak mungkin dia melakukan hal bodoh. Terkecuali dia selama ini pura pura miskin." asal Agi.
Sementara Tio tanpa tertawa keras tak percaya. Ia tidak yakin, Bram bisa melunaskan uang kecuali dengan cara merampok.
"Baiklah! Aku ingin membuktikannya, kau ajak Bram datang ke pesta pertunangan ku dengan kekasihku. Syaratnya adalah, kau yang bekerja menjadi koki. Kau minta Bram datang memesan sayuran! Mengerti."
"Tapi pak. Untuk apa, bahkan dia sudah dipecat, bagaimana mungkin saya .."
"Menolak kau akan kehilangan kerjaanmu lagi dengan fatal. Agi! Bilang saja kau butuh tenaganya, untuk mengantar pesanan." tegas Tio, seolah ia telah merencanakan sesuatu.
Bram sendiri saat ini telah berada di rumah menyortir pesanan yang memesan dari blog. Anehnya secarik kertas itu meminta Bram kembali menarik perhatian.
[ Bram! Hitunglah dekade periode penjualan. Timun emas, masukan kode slot dirimu. Lalu tebak saham timun emas yang hari ini akan naik di pasaran! Ingat jangan salah sasaran, jika tidak saldomu akan lenyap! Setelah itu kau antarkan timun emas seharga 15 juta! ]
XF56879000XXXBMEMAS1M Kode Bram ia masukan, dengan waktu berjam jam ia akhirnya menempatkan pada warna merah, sebagai lambang keberaniannya meski, ia tidak mahir, menempatkan timun emas pada blok warna kuning dari laptopnya.
'Selesai! Saatnya aku antar pesanan ini. Semoga menunggu kabar baik, jika harga pasaran yang diminta kakek Ruslan berjalan baik.' batin.
Gleuuk! Benar, timun emas dengan lapisan emas 24k ia timbang. 3,5kg Bram masukan ke dalam box, dan dengan matang ia memahami alamat yang cukup jauh. Lalu Bram segera mengantarnya dalam waktu empat puluh lima menit.
Paket! "Delivery box! Pesanan tiba." teriak Bram.
Bram pun segera meraih nota tanda tangan setelah diterima pelanggan, juga berupa struk pembayaran debit yang Bram lakukan pada mesin edc nya.
"Terimakasih pak." senyum Bram.
__ADS_1
Dan saat ia kembali akan pulang, tiba saja sebuah pesan masuk membuat Bram bertanya tanya.
Tling!
[ Hadiah ponsel flip Z4. Silahkan kamu terima, sebagai tanda terimakasih, kamu mengantarnya dengan baik. ]
Bram terkejut bukan main, ia saat ini bukan uang tunai. Melainkan sebuah hadiah tips dari pelangganya seorang petinggi ponsel canggih, yang memesan Timun emas dengan slot keberuntungan.
Tanpa sadar ia memutar arah, dan tepat berada di rumah Via. Hal itu membuat Runo memanggil putrinya dan meminta Bram masuk kedalam gerbang.
Via Glown, satu dari dua anak yang Runo miliki. Di mana hidup penuh kemewahan sejak kecilnya, membuat sifat manja begitu melekat pada dirinya.
“Pah, dirinya hanya kurir antar makanan. Mengapa kau tega menjodohkanku putrimu pada pria sepertinya." Via, beberapa kali merengek pada ayahnya, setelah melihat sendiri siapa orang yang saat itu akan menjadi pendamping hidupnya.
Runo sendiri mendengar hal tersebut, hanya bisa memijat keningnya. Sudah menebak sebenarnya terkait hal tersebut walau tidak menyangka ternyata Bram, setidak pantas itu untuk menjadi menantunya.
Mempertanyakan juga saat itu Runo, terkait apa sebenarnya alasan ayahnya menjodohkan putrinya dengan lelaki seperti Bram.
Di mana bukan hanya tidak memiliki apa-apa, fakta tentang apa pekerjaannya juga menjadi alasan terbesar saat itu Runo mempertanyakan hal tersebut.
Walau tentu saja, tidak ada celah saat itu bagi Via untuk mau, setidaknya mendengar sedikit saja ucapan dari ayahnya. Tetap memaksa saat itu, agar perjodohan dibatalkan.
Belum lagi dukungan terkait keputusan Via saat itu yang tidak mau dijodohkan, menerima dukungan dari kebanyakan anggota keluarga yang datang. Membuat Runo hanya bisa memijat keningnya, merasa seluruhnya menjadi semakin rumit saat ini untuk dapat dirinya atasi.
“Kalian diam!!!" Runo saat itu, pada mereka anggota keluarga yang hadir. Membuat keheningan segera terjadi, di mana beberapa ucapan yang saat itu mereka lontarkan segera menghilang. Mengelilingi Bram dengan sepeda motor box.
“Bila ada dari kalian yang tidak setuju, maka ucapkan langsung pada seseorang yang merancang semua ini." Runo, di mana kata-kata nya itu terbukti berhasil membungkam mulut setiap dari anggota keluarga yang hanya menambah kacau apa yang tengah terjadi di sana.
Begitu pula Via, di mana hampir tidak pernah saat itu dirinya mendengar ayahnya semarah itu. Sehingga ikut terdiam Via, tidak berani lagi merengek akan kemauannya.
Hanya bisa menatap Bram dingin, Via jelas menyalahkan semua yang terjadi di sana sebagai kesalahan Bram.
__ADS_1
“Bila saja kau tidak ada, tentu tidak mungkin aku harus berada dalam situasi ini!!!" Via menunjuk Bram dengan nada tingginya.
Membuat Bram hanya bisa membatu, tidak tau harus melakukan apa dalam situasi itu.
Di mana pikiran untuk segera pergi beranjak dari sana, hanya satu-satunya saat itu yang kini memenuhi kepala Bram.
“Bram, kemana kedua orang tuamu? Mengapa mereka masih belum datang?" Runo, memecah keheningan yang sempat terjadi setelah seruan Via.
“Kedua orang tuaku tidak dapat datang... Ehmm... Om. Mohon mengerti."
Bram, jelas bingung saat itu harus memanggil dengan sebutan apa pada calon mertuanya itu. Karena segalanya yang menurut Bram begitu mendadak, sehingga jelas dirinya sama sekali tidak siap.
Runo hanya bisa menghela nafas saat itu,
“Sudah gembel, keluarganya pun tidak memiliki sopan santun."
"Om, tenang saja! Saya kemari tidak sengaja, karena sedang antar pesanan. Saya sudah bicara, agar pertunangan ini dibatalkan. Bahkan om dan putri om sendiri. Jika saya tidak pantas, lagi pula saya hanya kurir box. Bekas karyawan kekasih Via, saat itu kami terlibat tabrakan, sepeda saya mengenai mobil Via. Jadi sudah jelas, saya juga menentang perjodohan ini. Permisi."
Via dari pintu lain mengintip, begitu memalukan dan sok kaya si Bram, ia bicara menolak Via. Meski Via jujur, dia lebih tampan dari Tio.
"Papa dengarkan tadi dia bilang apa, jadi lusa Tio akan melamar, keluarga kita tidak ada hubungannya lagi dengan pria gembel sepertinya kan."
"Hah! Terserah Via, pria itu juga cukup jelas menentang. Tapi kenapa dia seolah membencimu? Kau yang menabrak atau dia, tadi dengan apa? Sepeda..?" ujar Reno, dan Via segera ngeles masuk ke kamar.
Sementara Bram, ia tersulut menahan emosi. Betapa tidak keluarga Glown Reno sangat merendahkannya. Bahkan, ia saja kabur dari rumah tak ingin sang mama menemui keluarga matre seperti mereka.
Tling!
Pesan kembali hadir, membuat Bram menganga lebar.
[ Saham naik pesat, tebakanmu benar Bram! selamat, timun emas slot dan harga pasaran saat ini. Kamu berhak mendapat Rp.500.000.000 ]
__ADS_1
'Serius, benarkah ini. Lalu dengan uang sebanyak ini untuk aku apakan?' batin Bram.
Tbc