
"Tunggu, kenapa setiap aku menjalankan perintah. Aplikasi system ini selalu membuatku takjub, apa dia sama seperti dulu aku mengantar sayuran box?" tanya Bram.
"Bodoh! Lakukanlah setiap perintah misimu tanpa bertanya. Semakin cepat, semakin baik kau akan kembali pulang. Bahkan debet card mu itu, aku ambil dari lemari kerja yang kekasihmu selalu simpan." jelas Olive.
"Waah! Kenapa kau tidak bilang Oliver? Berarti saat aku bertransaksi di rumah sakit. Pesan itu tampil, artinya Elea melihat id ku aktif lagi?"
"Ya! Catatan keuanganmu tersambung di arsip system Kristal, si wanita berekor itu. Hanya saja, dia dibawah level di atasku yang berada dari langit. Kristal tidak akan bisa ikut campur, kecuali jika ia bosan ingin jadi debu." jelasnya.
Bram pun berfikir keras, artinya Elea tahu kemungkinan ia masih hidup. Dan artinya tidak menutup kemungkinan Elea saat ini mencari tempat terakhirku yang saat itu menolong Arsen, siswa malang yang ia dan Olive selamatkan.
"Cepatlah! Ini saatnya bukan banyak bertanya!" cetus Olive, lalu menghilang begitu saja.
Dia menyudahi kalimatnya langsung saja maju untuk membuat serangan dadakan. Bram pun, masih stand by di posisinya, menunggu aba-aba selanjutnya dari Olive. Meski hatinya bercampur memikirkan perasaan Elea, yang mungkin menganggapnya telah mengabaikannya.
'El, bersabarlah aku menjalani hidup keduaku saja tidak mudah.' batin Bram.
Bram pun, memperhatikan secara seksama Olive yang telah berdiri gagah, menantang para anggota genk Merah di ujung sudut. Sementara Bram, menyimak alias mengumpat dibalik pohon rindang nan besar.
"Siapa kau?"
Bukan hanya satu orang saja yang terkejut, tetapi lima orang anggota genk Merah yang tengah berjaga di area tersebut pun terkejut dengan kehadiran orang asing itu.
Olive terkekeh, dipandanginya satu persatu Anggota genk Merah yang ada dihadapannya. Baginya mereka-mereka itu hanya sebagian kecil dari kotoran hewan. Tidak ada apa-apanya sama sekali dihadapannya yang adalah Utusan Langit, sikap sombong Olive muncul, ia pun melirik Bram di ujung sudut agar bersiap ke tempat satunya.
"Jangan banyak bicara kau! Kami akan mengirimkan dirimu ke alam baka!" seru pria itu sangat berani, seiras dengan suaranya yang lantang, ia pun segera menutup cela bagi Olive, agar tidak lari dari sana.
Bukan hanya ia yang berpikir demikian, tetapi rekan-rekannya ikut turut menyerang. Mereka memisahkan diri, menyebar ke segala sisi, menutup cela Olive agar tidak bisa meloloskan diri.
Pria itu menyeringai. Jelas-jelas orang-orang yang menamai diri mereka sebagai Ketua Genk itu, tidak ada apa-apanya bagi dirinya yang adalah Utusan Langit.
__ADS_1
Jika dirinya mau, Olive bisa saja langsung membuat mereka menjadi patung batu dalam hitungan detik. Namun, karena tugasnya adalah mengukur waktu dan mengalihkan pandangan mereka, maka Olive harus bermain sabar.
Alasannya tentu tidak sesimpel itu juga. Kekuatan yang dimilikinya tidak boleh digunakan dengan sembarangan. Ada kiat-kiat yang harus Olive patuhi.
Hasilnya Olive saat itu, harus menggunakan ilmu bela diri, saat bertarung layaknya manusia pada umumnya. Bukan dengan jentik menghilang tiba tiba.
Olive tidak melakukan pertarungan terbuka di titik tersebut. Dirinya sengaja berlari ke sisi lain seolah-olah menghindar dari pertarungan. Hal tersebut dilakukan untuk membuka jalan bagi Bram, untuk masuk ke rumah ketiga dan keempat.
Sementara itu, Bram masih menghitung momen tetap untuknya menerobos ke sana. Dirinya harus menunggu sebentar lagi lantaran anggota genk Merah yang menjaga rumah nomor satu dan dua, belum keluar.
Seharusnya saat terdengar keributan, maka mereka, akan keluar untuk membantu.
"Satu ... Dua ... Tiga ...."
Praang !!
Bram, mulai menghitung mundur dari sepuluh, untuk memudahkan dia memulai aksi yang telah lama tidak di lakoninya.
Suara pertarungan antara Olive dan Anggota genk Merah bisa didengar jelas oleh Bram.
Dirinya sudah berada dalam posisi siap. Sama seperti yang sudah Olive duga, anggota genk Merah yang berjaga di rumah satu dan dua akan meninggalkan posnya saat ada penyerangan.
"Sembilan ... Sepuluh ... Sekarang!"
Dirinya berlari dari titik sembunyi. Lokasi dia berada tadi, memakan jaraknya kurang lebih 150 meter. Berlari seperti itu, akan banyak menguras energi dan fisiknya tentu akan cepat lelah sebelum bertarung.
Benar yang Arsen katakan, si bocah siswanya itu bilang. Luas tempat ini seperti lapangan sepak bola, memang benar. Bram mengakuinya setelah apa yang dilihatnya sekarang.
Hingga akhirnya Bram, berhasil melewati rumah pertama. Sebelum berlari lagi, dipastikannya lebih dulu kalau anggota genk Merah tidak berada di sana.
__ADS_1
Setelah dirasa aman, barulah dia berlari kembali. Memacu semangatnya untuk bisa menyelamatkan banyak nyawa anak anak yang disandera.
Sedikit lagi dia akan melewati rumah kedua. Namun mendadak berhenti lantaran anggota genk Merah ada yang baru keluar dari rumah bercorak merah muda abu tua itu.
"Siapa kamu?" Ia langsung menodongkan senjata tajam berubah belati ukuran Dua puluh sentimeter itu, yang baru saja dikeluarkannya dari ikat pinggang.
Tanpa menjawab, Bram langsung saja melumpuhkan orang tersebut hanya dalam satu tarikan napas. Menarik pistol pria itu dengan tendangan, seketika pria memegang pistol itu gosong begitu saja. Dan Bram amankan di balik peti jauh dari terlihat banyak mata.
Pertama-tama dirinya mengunci pergelangan tangan pria itu dengan jurus kaki terangkat ke atas. Lalu, di waktu bersamaan, Bram memutar kaki beserta tubuhnya, sehingga lawan duelnya tersungkur dan senjatanya terlepas.
Bram, memang telah berhasil melumpuhkan satu orang, tetapi pertarungan belumlah berakhir sampai di sini saja.
"Cepat, tangkap dia! Jangan sampai dia keluar dari tempat ini!" seru pria itu.
Bram menyeringai, sambil menggerakkan telapak tangannya yang mengisyaratkan mereka untuk maju semua.
Bram berlari ke arah yang terasa lebih baik, untuk bisa melumpuhkan tiga orang yang mengejarnya dan membuat mata Bram fokus, agar tiga pria itu terkena sengatan listrik dari tangannya.
Tbc.
Yuks simak kelanjutan Bram. Jejak, hadiah dan vote bolehlah.
Author cuma mau jelasin, novel ini sesuai tema system Delivery yang di ikut sertakan sesuai Tema Lomba Tagar Kurir Delivery Bantuan System, Jadi untuk cerita nganu, romance berlebih memang tidak ada! Konfliknya mengarah ke misi dengan bantuan system.
Berkomentarlah sebaik mungkin, agar tidak menjatuhkan mental author! Ini adalah novel perdana system author yang setiap misi akan mendapat balasan misterius.
Bahkan sesama penulis jangan saling menjatuhkan! Author terima masukan dan saran kalian kok Guys.
Terimakasih atas masukan semuanya, sehingga Author kembali baca salah penulisan, benar Author sudah merivisi perlahan tanda baca dan nama yang terpleset alias tertukar.
__ADS_1
--- Happy Reading All ---