
Sebelum Bram, dan papanya beranjak. Terlihat Reksa Hartanto memberi aba aba. Jelas membuktikan siapa pemilik golden Heels.
"Bram, papa memberikanmu wewenang. Apa yang ingin kau lakukan dengan bocah tengik itu?"
“Aku ingin mereka semua mencuci piring di tempat ini selama 3 tahun. Apa aku bisa melakukannya? Dan papa tidak keberatan bukan, jika soal uang kita tidak kekurangan, tapi setidaknya dengan hukuman ini. Ryan sadar siapa dia.”
“Jika hanya itu yang kamu mau Bram, maka lakukan saja.” tegas Reksa.
Yang saat itu Ryan menunduk bersalah, terlebih Tio dan sang papanya pergi lebih dulu meninggalkannya. Bisa saja, Tio mengajak papanya ke rumah sakit, karena hampir saja Ryan, membayar dengan kartu black yang tak harus di gesek hanya karena ingin terlihat kaya di depan Bram. Apalagi nominal membayar minuman itu berhutang! jelas Tio sebagai kakak menolak.
Wajah Ryan! makin memerah mendengar perkataan itu. Tiga hari lagi dirinya akan jadi manager Harta Group, menggantikan Tio yang akan ke paris berlayar dan mustahil dirinya mau menjadi tukang cuci piring, setelah selesai bekerja, apalagi karyawan papanya sebagian bekerja di tempat aula golden green ini.
Tentu saja Ryan tidak akan mau menerima hal itu dan menjadi bahan olok-olokan seluruh karyawan dan rekan alumni yang hadir, apalagi ia sebagai tukang cuci piring.
“Manager Rose, aku tahu kalau dirimu itu memiliki pengaruh di dunia bawah golden Green. Tapi dirimu itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan keluarga Hartanto, seharusnya kamu tahu kalau papaku itu Direktur Utama CF Group dan satu perintah darinya bisa menghancurkan restoran ini.” jelas Bram.
“Benar, papanya Pak Bram itu direktur CF Group. Dia pasti mengenal banyak orang di dunia bawah yang jauh lebih berpengaruh dari manager Rose.”
Rose menekuk dahinya mendengar ancaman dari Bram, sesaat lalu ia mempermalukannya. Memang benar jika keluarga mereka mengenal banyak orang di dunia bawah yang lebih dari dirinya, akan tetapi jika semua orang itu tahu kalau ada Reksa Hartanto, mereka semua pasti akan melakukan hal yang sama seperti dirinya. Jadi Rose tidak terlalu takut jika harus menghadapi orang-orang dunia bawah. Selain itu ada pemilik restoran yang pasti akan mendukungnya, jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan nantinya.
Tiba-tiba Ryan, mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang yang ada dalam kontak ponselnya, “Pah, aku ditipu nih sama restoran aula Golden Green yang tidak jelas, dia memberikanku minuman…. bantu aku pah, kemana papa pergi dengan Tio?”
Orang-orang yang berada di belakang Ryan, menghela napas, saat melihat Ryan menelpon papanya, karena mereka tahu kalau masalah ini pasti akan selesai jika papanya sudah ikut campur.
Bram hanya berdiri diam melihat Ryan, yang menelpon. Dia hanya ingin melihat sampai sejauh mana perginya Ryan dalam menghadapi masalah ini.
Ryan, menutup teleponnya dan senyuman penuh kemenangan terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
“Hahaha... Kalian semua akan habis! Papaku sudah mengirim orang untuk membuat menyelesaikan masalah ini dan untukmu!”
Ryan menunjuk wajah Bram, kembali angkuh mengancam. “Jangan coba untuk melarikan diri!”
Reksa pun, tersenyum dengan Bram, tak sangka sikap Ryan amat angkuh begitu saja.
Selang beberapa waktu terdengar suara langkah kaki padat dari banyak orang yang terdengar seperti seruan perang. Kemudian pintu ruangan terbuka dan disusul dengan pengawal berseragam hitam yang membentuk dua barisan. Setiap dari pengawal itu berdiri tegap dengan tubuh mereka yang kekar.
Dari arah belakang barisan itu terlihat pria dengan jas putih berjalan memasuki ruangan VIP, semua pengawal berseragam hitam itu serentak membungkuk dan menyapa dengan sebutan Mr Tay.
Pria dengan nama lengkap Taylor itu adalah mafia ternama di wilayah Deluxe green ini. Semua orang yang ingin berbisnis di Deluxe green harus tunduk kepadanya atau bisnis mereka takkan bisa berjalan lancar. Dia merupakan salah satu orang yang memiliki pengaruh cukup besar di bagian utara.
Melihat kedatangan Taylor, Bram ikut bingung kenapa ia membungkuk pada papanya. Dan yang begitu tiba-tiba membuat Rose mengerutkan dahinya dan berkata, “Kak Taylor, apa yang ingin kamu lakukan disini?”
“Ryan, itu anak teman baikku, bisa dibilang dia sudah seperti keponakanku sendiri. Aku dengar kalian menyuruh Ryan untuk mencuci piring, apa itu benar?” ujar Taylor.
Reksa Hartanto, tiba-tiba berbalik menghadap ke arah Taylor. Saat itu juga, Mr Taylor ingat Bram yang telah membeli aset miliknya, hingga malas ia berhadapan dengan pemuda yang namanya kini santer diperbincangkan. Beberapa saat lalu, ia mengerahkan banyak orang, tanpa sadar jika dia benar benar putra Reksa Hartanto yang ia segani.
Taylor menatap Ryan, yang berani bertanya tentang dirinya itu dan melihat penampilan Bram seperti pria biasa yang miskin, serta tubuhnya yang terlihat lemah.
Lalu Ryan, berkata dengan tawa mengejek.
“Kak Taylor, dia ini anak hilang tidak berguna dari keluarganya, setiap hari kerjanya hanya menyuruh kerja an mengahasilkan uang dari istrinya. Dia hanya berpura-pura berani meremehkan kamu. Pokoknya kamu harus kasih dia pelajaran, biar dia tahu seperti apa kehebatan Kak Taylor yang menguasai Deluxe green ini. Bukankah kak Taylor mengenal papaku, juga teman kak Tio?" ucap Ryan, seolah mencari pembelaan tapi salah sasaran.
Mendengar itu Taylor tertawa, “Hehehe... sepertinya restoran golden green sudah sangat menurun, sampai mau membawa masuk tikus liar sepertimu. Sepertinya aku akan berpikir ulang untuk menghancurkan pemuda yang salah, kau remehkan Ryan, ...”
PLAAAKK...
__ADS_1
Tamparan yang begitu keras mengenai wajah Ryan dan secara bersamaan membuatnya terpental mundur hingga tersungkur di meja.
Para pengawal yang dibawa oleh Taylor langsung berlari menyerang Ryan.
"Justru aku datang kemari, bukan untuk membelamu Ryan! papamu mengirimkanku kemari, untuk mengambil semua isi kartu di dompet berserta cashmu." menepuk pipi Ryan, saat itu Taylor.
Ryan terdiam, bisa bisanya ia kalah. Bahkan orang kepercayaan papanya, berpihak pada keluarga Bram. Terlebih papanya sendiri yang menyuruh.
"Lihat saja, aku akan membalas semua ini." teriak Ryan, yang saat itu wajahnya sudah frustasi.
Sementara Taylor, mempersilahkan dengan membungkuk Tuan Reksa Hartanto segera berlalu, dengan senyuman hormat.
***
Beberapa Jam Kemudian.
Sesampainya di mobil! Bram yang masih memegang erat tangan Elea, ia bertanya pada sang papa, yang saat itu, sang papa berada di depannya duduk dengan sang supir.
"Pah, aku boleh tanya sesuatu? Aku terkejut, kenapa papa bisa mengenal Mr Taylor, sejak kapan ..?" tanya Bram, karena ia benar benar pernah bergelut hebat dan mendapat kesulitan oleh orang suruhan Mr Taylor, tapi begitu terkejut kala papanya dihormati tadi.
"Hanya sebagian masa lalu, kini papa yakini kaulah orang yang harus disegani. Itu tandanya kau putra Hartanto!" lirihnya dengan senyuman lebar.
Sementara Elea dan Bram, saling menatap. Elea juga tahu, betapa sulitnya Bram saat ia menjalankan bisnis pabrik timun emas, dan tanah sengketa di rusak oleh Mr Taylor dan anak buahnya. Bahkan rumah sakit yang telah dibeli direbut, dan amat rumit.
'Ciieh, apa aku mimpi El. Ini begitu mengejutkanku.. ?' bisik Bram, membuat Elea menepuk bahu Bram halus.
TBC.
__ADS_1