
"Tante! ayo .. kita main lagi di taman boleh, Isha mau es krim kaya kemalen."
Siren tersenyum dan mengekor gadis kecil berlari. "Kita tunggu Uncle Damar dulu ya sayang!" gadis itu mengangguk, karena saat ini Siren sedang menjaga keponakan suaminya.
Siren menyiapkan baju untuk suaminya, mengetuk pintu kamar mandi dan berbicara, tuan tampan suamiku. Aku tunggu dibawah ya! Namun tak terdengar akhirnya Siren menulis surat untuknya, di atas baju yang telah disiapkan karena Damar sedang mandi.
Setengah jam berlalu, Damar membuka dan tak melihat siapapun dikamar, ia melihat sebuah kertas dan pakaian yang sudah disiapkan.
"Tuan Damar tercinta aku tunggu dibawah,
cepatlah keponakan mu menginginkan es cream. Ke cafe diujung jalan dekat rumah!"
Isha sudah merengek ketika sedang dimeja sarapan, Ibu Siren menenangkan dan ayah juga yang sedang sarapan hanya tersenyum tak banyak bicara.
"Tante .. uncle kok lama naaa?"
Tak lama Damar sudah turun dan menghampiri meja makan, Ia menyambut mertua dan mencium kening istrinya itu.
"Maaf lama menunggu ya, keponakanku tersayang." Damar, mengusap pucuk rambut Isha.
"Bagaimana semalam lancar?" Ayah mertua bertanya.
"Damar tersenyum dan berkata, Jika semalam gagal yah, Isyha gadis kecil hanya alibi, agar Siren menghukum tragedi di nikahan kemarin yang salah paham, benarkan Sayang ku. Kamu merajuk karena kamu berfikir aku sedang dengan yang lain, padahal kemarin malam Damar benar benar sibuk! menemani paman Hari." jelasnya kecewa.
Ibu, Ayah tertawa dan menasehati Siren, kala itu Siren yang cemburuan pun, meminta maaf pada suaminya dan tidak akan mengulangi.
"Ya udah ayo sarapan. Siren ingat jangan di ulangi dosa sayang menolak suami apalagi mengerjainya." ucap Ibu.
Siren tersenyum lalu menatap suaminya itu.
berbisik.
"Dasar tuan pengadu."
Setelah lama sarapan, Akhirnya Damar pamit mengajak Siren dan Isha makan dicafe dengan Es krim juga bermain di taman.
Berjam jam mereka menikmati bersama.
Isha bosen main main timezone, Siren melirik suaminya dan ia pun segera pergi ke mall tempat edukasi, mereka membeli kue tart dan minuman jus kesukaan. Bermain timezone dan terakhir bermain edukasi anak hingga tak sadar mereka bermain di mall sudah lebih dari empat jam.
__ADS_1
"Sayang kita mau makan dulu atau gimana ?"
Siren pun, melirik gadis kecil sudah mengantuk dan tertidur di pelukan Damar yang di gendongnya.
"Kita pulang aja ya tuan tampan."
Dan ketika berjalan keluar. Siren melihat sebuah baju lucu dan pergi ke toko tersebut. Siren juga memilih beberapa pasang baju tidur dan baju terbaik terlucu, sebelum mereka pulang.
Damar tak lupa perhatian memasangkan belt istrinya, sedang Isha sedang di pelukannya.
"Kamu lelah ga sayang?"
"Mmmmmh, Enggak hari ini menyenangkan."
Tak lama ponsel Siren berdering dari Mikha, ia mengangkatnya dan tiba saja ingin menjemputnya di pertengahan jalan karena terburu buru.
"Siren jika tak keberatan kita bertemu di persimpangan. Hari, dan dady Bram sedang ada rapat dadakan keluar kota. Kakak tadi lama di rumah menunggu mu ternyata kamu bawa Isha jalan jalan maaf ya." lirih Mikha, yang menggendong Isha, anak angkatnya.
"Tak apa, Kak.. baiklah."
Setengah jam kemudian mereka bertemu di halte dan Isha berpindah pelukan dan saling berpelukan pamit. Isha mengucapkan terimakasih karena gadis kecilnya tak merepotkan. Justru membuat Siren senang dengan anak kecil, sehingga menginginkan dan tak akan menunda mongmongan.
Damar memasang belt dan menggenggam tangan istrinya.
"Sayang kamu tak ingin merubah nama panggilan manis untuk suamimu?" tanya Damar manja.
Siren menatap dan memikirkan dengan lama.
"Baiklah hubby! Ayo kita pergi, kita bersiap siap aku belum rapih mengemas loh di rumah, besok kamu jadi ke singapore kan?" lirih manja Siren.
"Hubby, baiklah cukup menarik dan sangat indah."
Tapi Damar sudah mencium bibir istrinya yang manis dan Siren pun menikmati membalasnya.
"Hubby, ayo kita cepat ambil barang - barang dikamar, lalu kita ke apartemen atau rumah Dady Bram?"
Damar pun melaju cepat dan ia menuju hotel bintang lima, mengambil ruangan terbesar vvip. Semi pasangan pengantin yang diberikan Dady Bram, semenjak pernikahan mereka belum sekali menikmati bulan madu.
"Hubby, kita kenapa kesini aku belum bersiap lho?"
__ADS_1
Masih pakai baju santai dan Damar membuka belt, istrinya menatapnya untuk diam, Siren pun mengikutinya dengan malu.
Tak lama lantai 12 sudah ada dinomor 1109. Damar dan Siren segera masuk dan di suguhkan dengan pijat satu ruangan saling menggenggam dan bercerita. Siren pun rileks dan menyambut di ikuti spa dan ratus sementara Damar sudah menunggu di kolam ruangan kamar nya.
Sungguh hari melelahkan ia teringat pertama kalinya ketempat ini saat ia belum menjadi siapa -siapa Damar. Tak menyangka mereka kembali lagi dihotel ini.
Siren pun melaju ke kamar menemui Damar,
dengan baju handuknya, dan melepas dengan baju seksi bikini ia ikut berendam.
"Sayang aku sudah menunggumu, ini minuman cherry yang manis !" tutur Damar.
Siren menyuap buah Apel merah yang sudah dipotong suaminya. Ia memakan buah itu dari tangan suaminya dan saling membalas.
Damar memeluk istrinya dari belakang dan merebahkan Siren ketatapannya dalam kolam renang.
Mereka bercerita dan mengingingatkan beberapa tahun lalu kita disini mengadu lomba renang. Tapi malam ini kita lomba siapa yang lelah duluan.
"Aku akan membuatmu lelah meminta ampun karena sudah membuat onar di malam pengantin. Suamimu kemarin malam yang sudah hampir diujung tanduk!"
Siren tersenyum meminta ampun, dan ke-cup-an itu langsung menyergap bibir Siren kala itu. Damar menyentuh kening, dahi, dan bagian sensitifnya. Siren yang merasakan hembusan telaga sudah menyentuhnya.
Lama kelamaan mereka memainkan, hingga meregang dan Damar memulainya memangku Siren dan menggendongnya. Lama mereka pun bermain dengan lama dan berpindah tempat.
Selesai itu pun, Damar menggendong istrinya ke kamar. Mereka bermain kembali dengan bulatan kain dan kembang serta lilin yang bertaburan, hingga permainan mereka itu amat panas. Siren pun sedikit berisik menjerit untuk pertama kalinya.
Tapi Damar semakin panas dan memainkan semakin keras dan ganas. Hingga selesai Damar mengecup kening istrinya dan membersihkan diri.
"Terima kasih sayang"
"Hubby, aku belum selesai kamu sedang, apa...?
Ah!! Damar memulai kembali dan kembali. Sehingga Siren pun kelelahan, kewalahan.
Damar benar benar membuat balasaan dan ide lain untuk menunda ketakutan malam seperti ini itu, akan ia jadikan tameng jika istrinya ber'ulah jahil. Hingga selesai mereka pun bersantai di kamar dengan menonton film drama romantis.
"Aku tidak pernah menyangka, kita akan di persatukan?" lirih Siren, yang kala itu Damar masih mode memeluk.
"Takdir, dady Bram akan mengalah karena aku adalah putra satu satunya." gemas Damar, yang mengeratkan pelukan di malam pertama bersama Siren.
__ADS_1
TBC.