Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PERASAAN RINDU


__ADS_3

Bram semakin menatap nyeleneh, dalam hatinya berfikir jika dirinya sudah menemukan pusat markas penjahat yang telah mencekoki barang haram tsb, Ia bisa kalahi. Maka Bram, tak akan peduli jika ia pulang ke rumahnya tetap dicegah, oleh utusan langit!


Entah atas dasar apa, Bram saat ini seolah berada dalam lingkaran yang sebenarnya bisa pulang. Tapi kakinya beku, melangkah ketika menuju ke desa sengketa. Bahkan ada ponsel pun, jari tangannya sulit menghubungi keluarganya.


"Hey! Kau tuntun aku, dimana markas bosmu!" ujar Bram, dengan tatapan tajam.


Tapi dua pria itu saat berbicara, ia kaku dan menutup mata bagai orang yang terkena penyakit, kejang kejang matanya mendelik keatas dan pingsan.


"Jl Trihaptura ledeng sedeng III. No ... Aaaaargh." teriak salah satu pria sandera memekik lehernya sendiri, dan satunya lagi tak bersuara tapi kejang.


"Eh, kenapa dia?" melirik Bram, pada Olive.


"Heuuuph, kenapa menatapku seperti itu ..?" cercah Olive.


"Jika Tuan mengetahui tentang mereka semua, lalu kenapa tidak sejak awal Tuan mengatakannya padaku?" gerutu Bram yang akhirnya menyadari satu hal yang selama ini tidak disadarinya sejak awal.


Oliver bersenandung, mengacuhkan segala pertanyaan Bram, yang andai dilanjut, maka akan tercipta perdebatan yang panjang.


"Sebaiknya simpan dulu pertanyaanmu. Sekarang, ada baiknya kita amankan lebih dulu dua orang ini," ajak Olive, mengalihkan topik pembicaraan yang tengah memanas itu.


Kalau saja Olive tidak mengatakannya, maka Bram, lupa kalau dirinya memiliki dua sandera yang akan memberikannya banyak informasi tentang organisasi genk Merah ini.


"Ayo!" Bram menarik salah satu kerah baju sanderanya itu. Lalu, Olive menarik yang satunya lagi. Tidak mungkin dirinya melakukannya seorang diri, maka dari itu meminta bantuan pada Olive.


"Tuan, gunakan kekuatanmu sekarang!" perintah Bram, secara tiba-tiba.


"Hem, tidak biasanya kau memintaku untuk menggunakan kekuatan," balas Olive penuh selidik.


"Kemarin-kemarin mungkin aku berpikir kalau kekuatan Tuan sama sekali tidak berguna, tapi ..." Dia menjeda kalimatnya.


Olive bergumam dan mengangguk paham.

__ADS_1


"Ya. Aku tahu apa yang akan dirimu katakan selanjutnya."


Tanpa menunggu jawaban dari Bram. Olive sudah lebih dulu menjentikkan jarinya seperti yang biasa dirinya lakukan untuk melakukan perpindahan tempat.


Alhasil, dalam sekejap mata mereka telah berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya.


Bram, cukup terkejut lantaran kedua anggota Organisasi genk Merah tidak sadarkan diri.


"Ada apa ini, mengapa keduanya tadi tiba pingsan?"


"Keduanya adalah orang asing. Tertulis dalam peraturan Raja Langit nomor 103, yang berbunyi. 'Tidak sepatutnya orang asing yang tidak memiliki terikatan dengan Utusan Langit, mengetahui segala kekuatannya'. Itulah mengapa aku membuat keduanya tidak sadarkan diri lebih dulu," jelas Olive panjang lebar.


"Bagaimana, apa penjelasanku kurang jelas?" dengusnya sambil menaikkan kedua bahunya.


"Ya, sangat mudah dimengerti," balas Bram santai menirukan gaya yang sering Olive pergunakan.


"Bagus kalau begitu. Aku sudah sangat lelah dan ingin istirahat. Kau urus saja keduanya. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan urusan manusia seperti ini," liriknya lebih dulu, pada dua pria yang sudah tidak sadarkan diri akibat ulahnya, sebelum akhirnya menjentikkan jarinya dan menghilang entah kemana.


"Lama kelamaan aku mulai merasa nyaman juga di dekatnya," gumamnya sambil menarik salah satu anggota Organisasi genk Merah, untuk disandarkan dekat ranjang tempat tidurnya.


Dikarenakan kamarnya tidak terlalu luas, alhasil dirinya menepikan keduanya lebih dulu. Baru setelah ini meminta Olive, untuk membantunya nanti.


Dan setelah dua sandera itu di amankan, Bram kunci saat itu juga ia bergegas keluar. Sehingga ia menatap benda pipih yang diberikan Olive saat itu untuk berkomunikasi.


Seketika Bram yang rindu Elea, ia memencet nomor ponsel dalam beberapa saat, meski sekedar hanya ingin mendengar suara calon istrinya itu.


'Rindu, El .. tunggulah aku beberapa waktu lagi. Aku akan kembali.' batin Bram, masih samar apakah ia harus memencet tombol klik hijau, atau menggeser tombol merah.


***


Di Kantor Penelitian.

__ADS_1


Tlith! Dering ponsel Elea beberapa saat berdering.


Elea yang baru saja tiba, ia sudah mendengar keluh kesah Kristal yang sudah emosi ingin mengusir ibu tua tidak tahu diri.


"Memangnya dia siapa, berani beraninya dia mau usir aku. Tendang aku,memang aku sejenis spisies mereka apa. Andai dia bukan keluarga Bram, aku ingin sekali kutuk dia jadi sayuran timun. Biar di jual dimakan orang nantinya." cerocos Kristal.


"Kristal ayolah! Sesama manusia, kita harus memaafkan. Lagi pula memang rasanya tidak pantas, aku berada di posisi ini. Kamu tahukan, hutang keluargaku itu puluh Trliunan. Kantor aset ini saja, aku ga terbayang jika Bram, meminta semuanya pake aset namaku. Aku malu, tapi kalau aku berikan begitu saja. Aku takut kantor ini tutup. Masih banyak kurir yang bergantung pada kita, jika bisnis Bram berhenti disini." jelasnya.


"True."


Tak lama Elea kembali menatap ponselnya yang berdering lagi. Elea menatap nomor itu tidak tampil, sehingga sorot matanya menuju arah mata Kristal.


"Kenapa El ?"


"Rumah Sakit Buana. Aku ingin sekali masuk, aku yakin kalau Bram ada disana. Semenjak saldo id Bram berkurang, aku yakin dia memakainya. Tapi aku tak bisa menemuinya, aku harus menunggu berapa lama lagi ..? Jika dia masih hidup, kenapa dia menghindar dari aku selama ini Kristal ..?" sedih Elea, membuat Kristal ikutan sedih mengeluarkan air mata untuk pertama kalinya.


Tliiith! Dering Ponsel.


"Ponselmu bunyi, coba angkat!" ujar Kristal.


"Pasti orang iseng, lihat aja ga ada nomornya. Pribadi." balas Elea yang menunjukan layar ponsel, ke arah Kristal.


Sini ..!!


Kristal pun meraih ponsel Elea, lalu meloadspeakernya.


Hallo ..


Ha-loooo ..


"Hallo .. Dengan Siapa Ini ..?" sambar Elea, sudah lima kali tak ada jawaban suara apapun, setelah suara dari Kristal.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2