Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 HARUS PERGI


__ADS_3

Dua jam berlalu, Siren di ukur seluruh tubuh untuk sebuah gaun yang telah dipesan.


begitupun Bella yang mencatat. Sementara tugas mengukur oleh Hena."


"Hubby, aku selesai aku angkat klien paman Kenan, untuk acara di korea dulu ya."


"Ya sayang, cepatlah kembali." balas Damar.


Sementara Hena, mulai mengukur tubuh ideal Damar, kakak kelas yang ia sukai dan ia cari selama ini, ternyata rumahnya pindah disini.


'Kak Damar Hero, kamu pasti lupa dengan sebuah coklat, aku pernah ditolong olehmu saat aku diganggu oleh preman nakal, kamu membantu aku dan bicara adalah kekasihku, menolongku dan menenangkan ku." batin Hena diam dan memandang mengukur tubuh Damar yang sempurna.


"Apa sudah selesai?" tanya Damar.


"Oh ya, tuan bos, sudah selesai."


Hena pun tersadar, dari terkesima tatapan wajah kakak kelas itu, tapi ia kecewa karena sudah menikah.


Damar pun menghampiri istrinya berlalu dari ruang tamu. Ia bahkan meninggalkan Hena dan Bella yang sudah selesai.


Sementara Bella menyelesaikan berkas sebelum pamit dan kembali ke butik.


"Hena, hampiri nyonya bos bawa berkas ini, aku hampir lupa dengan catatan penting yang harus ditandatanganinya!"


"Baik kak Bella, aku harus kemana?" tanya Hena.


"Kamu ke depan saja, tanya asisten disana, biasa nona dan tuan berada di ruang meja bartender dapur. Kamu bisa ke arah sana, lurus ke kiri dan belok ke kanan. Setelah selesai cepat aku menunggu di mobil ya."


Tak lama, Hena menuruti perintah dan ketika sampai tujuan, melihat pangeran impian. Yakni kakak kelas yang ia cari, sedang memeluk erat dari belakang dengan mesra. Sedang nyonya bos berbicara lewat ponsel.


Dan jantung Hena berdegub mengetuk pintu untuk masuk, tangannya bergetar tak kuat.

__ADS_1


'Aduuh aku dilema, masuk jangan ya, apa aku menunggu saja disini?' batin Hena ia kebingungan, ingin masuk menatap dua sejoli mesra, tapi jika tak masuk sampai kapan menunggu disini, bak patung diacuhkan.'


"Sayang, apa sudah selesai?" Damar membisik kan suara merdu ke telinga istrinya dan menghentakan sesuatu.


"Ah, hubby."


Siren membalikan badan dan melepaskan tubuh Damar, sehingga Damar terkejut kaget, karena tak jauh ada Hena dihadapannya.


"Hena .. sedang apa? masuk lah, kenapa diam disana." ucap Siren sedikit malu.


Tapi berbeda dengan Damar, ia flat biasa saja seperti tanpa dosa.


"Kemarilah masuk!" ucap Damar.


"Ada yang ingin disampaikan cepatlah kami terburu buru, ingin menuntaskan olahraga pagi yang tertunda karena ada tamu pagi pagi sangat datang." ucap Damar kesal.


"Hubby, konyol jangan seperti itu!"


Siren menatap suaminya, tersenyum baiklah maafkan telah menunggu. Kamu boleh kembali ke butik semangat hari pertamamu ya Hena.


***


Di Beda Tempat.


Di ruang kamar.


Siren yang membuka kancing piyama, berusaha memoles cream pelembab tubuhnya, bahkan dipeluk erat oleh Damar yang manja.


"Hubby, sikapmu seperti tadi aku jadi kasihan pada Hena yang mematung."


"Sayang, kenapa mengasihani oranglain kamu tidak kasihan padaku yang menunggu, bahkan olahraga kegiatan kita ditunda karena itu."

__ADS_1


"Hubby, kamu bisa bisanya seperti itu tak ada empati sekali. Aw .. bibir Siren di gigit dan di bopong ke kasur."


Damar mulai merebahkan diri. Bahkan Damar membuka piyama istrinya dan melucuti nya dengan perlahan, tangan jemari bersamaan dan saling memeluk, hingga posisi Siren kala itu sudah berada diatas tubuh Damar.


Kring.


Terdengar nada ponsel Damar, hingga dimana Siren mengangkat bahunya untuk mengecek, berbeda dengan Damar yang masih saja asik erat membuat tanda.


"Hubby, Dady Bram telepon."


"Ah, kenapa sulit sekali kita berada di zona nyaman dengan tenang sayang."


Damar pun segera mengangkat telepon, dimana Bram meminta Damar segera terbang ke eropa. Terkait bisnis timun emas, pt gold corp Miror di demo, karena bangunan yang setengah miring. Bram meminta Damar mengurusnya dari pusat perusahaan eropa yang terbesar, di impor bermasalah dari ibu kota.


Terdiam Damar, setelah menutup telepon.


"Kenapa hubby?"


"Aku harus ke eropa, islandia perusahaan Dady bermasalah, sementara di ibu kota dan daerah cibubur, baik baik saja oleh paman Hari."


"Ada yang kamu curigakan?"


"Ada, paman Kriss, dia penanggung jawab dua cabang eropa yang dipercayakan Dady, dan di tunjuk paman Hari."


"Kalau begitu bersiaplah, aku segera merapihkan nya."


Tanpa aba aba, Siren di sergap oleh Damar. Berbisik halus, membuat Siren tertawa malu.


"Sebelum pergi, aku harus tambah amunisi dulu. Sayang, maaf jika sepekan aku tidak bisa dampingi kamu. Bahkan jaringan sistem yang didirikan paman Alex saja, benar benar lemah." jelas Damar, membuat Siren memeluk suaminya untuk bersabar, karena pewaris Dady Bram, hanya Damar seorang putranya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2