
"El, kemarilah! Hapus air matamu!"
Sesaat, Elea yang menoleh. Ia dibuat bingung akan pria yang tadi bilang, tak ingat dirinya siapa. Sehingga Elea menelan saliva, ia mencoba menerka apakah Elea tidak mimpi.
"El, aku ingat semua tentang kita. Maaf! Aku tadi hanya bercanda, seolah lupa siapa kamu. Tapi haha ..., percayalah! Aku jadi tahu, sebetapa besarnya kamu selalu menungguku, setia padaku!"
Pluuugh ...
"Jahat, kamu jahat Bram. Kekhawatiranku kamu jadikan lelucon." Elea menepuk bahu, Bram.
"I'M sory El. Aku berkata demikian, karena suatu hal yang aku pun harus izin."
"Izin, apa maksudmu Bram, Apa ada wanita lain selain aku .. ?"
Elea tadinya ingin menerka jika Bram punya kekasih baru, atau istri. Tapi Bram, mengajaknya masuk ke kamar pasien. Ia menjelaskan perlahan dengan hati hati, semoga Elea bisa mengerti.
Hingga beberapa jam kedepan, Bram menceritakan dirinya yang masuk jurang. Ditolong oleh utusan langit, awalnya Elea tak percaya karena tak masuk akal apakah dewa itu nyata. Tapi saat dijelaskan beberapa misi yang Bram harus lewati, maka Elea pun menaruh percaya jika kekasihnya itu adalah orang terpilih.
"Baiklah, jangan lagi mengumpat hal apapun dariku! Jangan buat aku menangis lagi Bram, aku akan membantumu. Jika ada yang perlu kamu katakan, agar aku bisa membantumu!"
"Tentu, Elea sayang. Lalu bagaimana dengan penelitian Mr Taylor. Apa ada perkembangan ..?" tanya Bram.
"Sulit Bram! Bahkan gudang mereka sangat ketat. Aku tidak bisa mencari banyak bukti lagi, karena mereka dilindungi orang orang aparat."
Deuuugh!! Bram terkejut, itu artinya percobaan manusia seperti kelinci, masih terus berlanjut. Bram pun jadi ingat, jika satu misi ini akan terselubung pada pengusaha kaya yang melakukan transaksi ilegal, dengan mencantumkan pt pabrik garmen, atau sekelas dengan kesehatan. Yang aslinya sangat menakutkan bagi nyawa orang yang sehat.
Kruuuk! Bunyi perut Bram, kala itu.
"Kamu lapar, tunggulah sebentar. Aku akan ke kantin membuatkan sesuatu. Ada buah, aku sudah memotongnya agar kamu bisa makan ini dulu."
"Baiklah hati hati, aku juga akan ke toilet." senyum Bram, setelah Elea pamit ingin membuat makanan, dan berlalu pergi.
Hingga Bram setelah makan buah, ia berlalu ke toilet.
-- **HINGGA DI TOILET** --
Bram yang bengong, kadang mengangguk, bola matanya berputar cepat, mengingat-ingat kembali tentang level-level pada Sistem yang diberikan pada kehidupan keduanya ini.
'Untuk mencapai Level Kelas 3, aku harus mendapatkan lima puluh Poin Kemenangan, sedangkan aku baru memiliki 82 Poin Kemenangan, dalam artian aku harus mencari 17 poin lagi, dan kemenangan lagi untuk mencapai level tersebut, benar begitu?' benak Bram, mengingat semua hal perkataan Olive.
__ADS_1
Olive dari jauh tahu, ia mengintai dan mengangguk dari kejauhan, membenarkan tebakan dan perhitungan Bram, yang saat ini banyak berfikir.
Tak lama, saat Bram di toilet. Tiba saja Olive berada di tiang duduk melihatnya, membuat perasaan Bram amat terkejut saat itu.
Wuuuuaaah ... Kaget Bram, kala ingin mengambil tissue.
"Kau sedang apa disitu? Apakah utusan langit mengintip kerjaan orang saat ini?"
"Aku hanya ingin mengecek, sebab kau sepertinya ngedumel banyak tanya. Silahkan aku disini, bertanyalah!"
Huuuft!
Bram, banyak banyak menghela nafas. Di saat ia sedang ke toilet pun. Olive berubah jadi kotak tisue yang membuat Bram, sebelum keluar ia mencuci tangan dibuat terkejut, dengan tampilan wajah dan mata Olive yang tiba tiba bersuara. Bagus saja di dalam toilet saat ini kosong. Hingga nampak jelas wajah Olive di kotak tisue kala itu, bagai hantu.
"Cepatlah keluar, dari kota tissue! Jangan membuat orang menatapku gila, karena aku berbicara sendiri dengan kotak tissue!" ujar Bram, hal itu membuat Olive tertawa memperlihatkan gigi.
Tling!
Kini, Olive sudah berhasil merubah dirinya menjadi pria berpakaian serba hitam, lengkap dengan payung hitam. Lalu mengeluarkan buku hitam takdir Bram.
"Lalu sepekan aku libur, apa kau masih mengecohku. Bahkan hingga ke toilet juga Hah..?"
"Ceeeh, hanya 2 Poin. Kau bisa bisanya mengejutkan aku."
Setelah berkata demikian, seberkas cahaya kebiru-biruan muncul dari Buku Takdir. Hal itu membuat Bram tampak bingung, terkadang buku itu berubah warna dari buku hitam. Cahayanya yang berkilau, membuat Bram tidak bisa melihat dengan jelas. Bram pun dengan Olive sang pemilik buku tersebut.
Bukunya pun jatuh ke lantai. Perlahan-lahan cahaya yang menyilaukan mata itu berangsur-angsur menghilang. Lalu, bukunya pun tertutup, tapi di atasnya terdapat sebuah benda yang jika dilihat seksama seperti pisau.
Olive mengambil pisau tersebut dan juga Buku Takdir-nya.
"Apa itu, Tuan?" tanya Bram, penasaran.
"Ini adalah pisau yang akan sangat membantumu ke depannya."
Tanpa menjelaskan lebih detail, Olive menyerahkan pisau tersebut pada Bram.
"Pisau? Apakah ini pisau asli?"
"Jika tidak percaya, coba kau sayat lehermu itu!" celetuk Olive ketus.
__ADS_1
Hahahaha ... Bram, cengengesan seperti biasanya, "Ya maaf. Aku percaya dengan anda. Pisau ini pasti asli, mana mungkin Utusan Langit memberikan hadiah palsu. Sudah jelas semua barang pemberiannya asli. Tapi, ini untuk apa. Pisau ini hitam mirip pisau dapur yang sering dijual olshop. Apa kau mencuri gambar penjual lagi. Dan menjadikan asli?"
"Tutup mulutmu! Bukan waktunya bercanda, dengarkan baik baik. Jika kau tak ingin aku datang dengan tiba tiba."
"Hiii, pemarah. Baiklah aku dengar."
Olive membuang pandangan malas, "Selalu saja bercanda, tidak pernah ada seriusnya," gumamnya menahan kesal.
"Baiklah, apa yang ingin anda bicarakan!" tanya Bram, penuh selidik.
"Tidak ... Aku tidak mengatakan apa-apa. Sebaiknya aku pergi dan melihat kondisi terbaru dari anak-anak itu."
"Ciieh, utusan langit yang aneh. Memberi pisau tanpa penjelasan." gerutu Bram.
Mendengar hal tersebut, Bram menjadi antusias kala ingin menjenguk anak anak.
"Aku akan ikut dengan Anda Tuan Langit. Aku pun ingin melihat kondisi anak-anak itu sekarang."
Olive, membuang pandangan malas, sama sekali tidak memberikan tanggapan apa-apa pada Bram. Hambar. Begitulah yang Bram rasakan sekarang.
Olive pun berjalan lebih dulu, lalu Bram mengekor di belakang dengan perasaan senang dan bahagia. Akan tetapi sampai pintu Bram buka, ia melihat senyuman Elea yang telah merapihkan pakaian untuk pulang.
"El .." Bram, hampir melupakan Elea.
"Maaf, aku lama."
"Tidak apa ..., aku tadi ke kantin di sebelah rumah sakit ini. Aku buatkan kamu sup jahe, ini lengkap dengan ayam kampung. Aku minta buatkan banyak, meski bukan semuanya aku yang buat sih. Ayo cicipi dulu sebelum kita pulang!"
"Terimakasih El, apa aku mimpi kita bertemu lagi?"
"Bram, aku yang amat bahagia. Mimpiku terlalu indah, aku lebih baik kehilangan jabatan atau harta. Asalkan aku selalu bersama kamu, aku lebih ingin kita berjuang bersama Bram! Aku ga mau kamu pergi lagi." sendu Elea, yang saat itu Bram menempelkan tangan besarnya ke pipi Elea.
"Maafkan aku membuatmu terlalu lama menunggu! Lalu sup Jahe yang banyak kamu buat kemana?"
"Hish! Itu untuk anak anak yang terluka. Kita jenguk mereka dulu ya, aku sudah siapkan semuanya."
Serius?! Terimakasih El.
Bram pun, merasa terharu. Saat tadi, Olive tiba datang menampakan wajahnya. Ia merasa ingin ikut kala Olive, akan menjenguk anak anak yang terluka. Dan kini tampak sadar kekasihnya itu mengajaknya menjenguk mereka, yakni anak anak yang terluka dan mungkin akan mengalami trauma, sebagian dari mereka.
__ADS_1
Tbc.