
Satu minggu kemudian, Mikha benar benar tak percaya dan suka akan pemandangan ini, dimana salah satu keluarga harus menerima jika salah satu keluarganya telah gugur.
'Ini gak benar, mas Hari pasti masih hidup. Kenapa kalian membuat acara pemakaman, yang dimana jasadnya belum ada.' ingin sekali Mikha memaki, namun ia tak bisa berkata karena lemah.
Beberapa kali ucapan belasungkawa di kediaman Mikha. Dan lemasnya Mikha, hanya menatap gugup ketika salah seorang pria menghampirinya yang seharian berada di taman belakang rumah.
"Hapus air matamu, aku turut berbelasungkawa. Aku harap, tangisan itu tidak perlu lagi jatuh. Hanya menangisi yang jelas sudah tidak ada, resiko kemungkinan 99% dia sudah tenang bukan?"
Mikha mendongak wajahnya, terus terang jika Dani bisa mudah datang, memberi muka dengan jelas Mikha menyibakkan tangan Dani, yang menempel ke bahunya.
"Berhenti peduli Dani, kalau kamu datang hanya untuk menyakiti! apalagi membuat onar, suamiku masih hidup. Jangan sekali dekat padaku! aku tidak kenal kamu!"
"Mikha. Aku tahu, kamu bersikap seperti acuh, untuk menutupi dirimu yang kuat. Setelah aku bicarakan kebenaran kamu masih mau menghindar? Hey! Hari Hartanto sudah mati terbakar hangus. Meski bukan dari tanganku, sudah jelas pria yang seperti suami mu itu takdir nya buruk bukan, atau kau sebentar lagi jadi janda terkaya." dengan gelak tawa Dani.
Dani menatap Mikha. Wajah Mikha kembali memerah dan mengeluarkan air mata. Mikha mencoba menahan agar tetap tak terpancing emosi. Mikha berusaha tak menerima, jika kejadian itu adalah Dani yang melakukannya.
"Dani. Kita tak pernah lagi mengenal. Setelah kita sudah hidup di jalan masing - masing. Pergilah, aku sibuk!"
"Mikha jangan bersikap sibuk. Aku tahu hatimu akan patah dan kecewa. Kembalilah padaku, janji aku akan memperbaikinya! Lupakan Hari si pria tua itu!"
"Cukup Dani. Jangan katakan lagi, aku tak menyukai semua yang kamu katakan. Anggap kita pernah menjalin hubungan yang gagal, tapi aku beruntung aku tak pernah jadi istrimu.!"
Mikha pergi meninggalkan Dani. Namun langkahnya di hentikan kala Dani berteriak dengan jelas.
"Setidaknya jika kamu hamil. Dia memerlukan ayah Mikha." teriak Dani.
Mikha masih berjalan dalam mode menutup mata. Tubuhnya gemetar kala Dani, bisa tepat ada di tempat yang ingin ia menyendiri. Belum lagi, Mikha tak pernah membayangkan jika Dani memintanya kembali dengan cara yang mustahil.
__ADS_1
"Jika aku hamil, aku tidak akan memilih pria iblis sepertimu Dani, anak ini akan selalu ada nama dan jiwa ayah biologisnya, yakni Hari Hartanto." balas Mikha dan berlalu pergi.
Setelah beberapa waktu kembali, Mikha merasakan hal yang amat perih. Kala suaminya Hari belum juga di temukan. Meski ahli forensik menyatakan tangan itu adalah dna asli milik Hari. Tapi Mikha yang merasa jasadnya tidak utuh belum ditemukan, ia selalu merasa mas Hari, akan baik baik saja dan masih hidup.
Mikha menjambak rambutnya. Sedikit memukul mukul. Ia kesal, mengapa setelah jatuh hati dan berusaha membuka hati. Semua kembali terulang sakit, apa salahnya ia ingin bahagia. Apakah ini takdirnya menjadi istri yang gagal, baik itu ditinggalkan atau dikhianati. Tapi yang Mikha alami, ia selalu merenung menatap langit.
'Kapan kebahagiaan itu ada, padaku?' ujar Mikha memohon, menatap foto Hari.
Mikha cukup memutar mata. Di mana, ia sedikit pusing dan lelah. Lelah dan seperti ingin pingsan. Hal itu membuat dirinya tiba saja tergontai di atas teras.
"Mas. Toloooong aku! Kamu dimana mas." deru nafas Mikha. Tak sadarkan diri masih mode menggenggam ponsel.
Tak menunggu lama, terlihat beberapa orang datang, hal itu membuat Mikha terdiam dengan wajah sembab, dengan tudung hitamnya.
"Mohon maaf, kedatangan kami adalah untuk memberikan hasil rekaman cctv dari lalu lintas. Sesaat sebelum kecelakaan terjadi."
"Mari ikut kami Bu!" ujar pengawas forensik.
Empat pengawas berdampingan, dan salah satunya membawa segala bukti yang kongkrit diberikan pada Eri. Eri menyambungkan langsung di laptop di samping meja, yang memang ia sedang memberi laporan pada Tuan Ryo. Sementara Mikha berada di sampingnya, yang tak lama Osin ikut mendampingi agar menguatkan Mikha yang lemah saat itu juga.
"Kita mulai ya bu!"
Klik.
Beberapa komputer dengan system tercanggih, yang tak pernah Mikha pernah lihat. Bahkan sejenis hacker pun mungkin kalah akan tampilan, dimana layar itu transparan kala Mikha akan mengklik, terlihat tidak berbentuk tapi nyata.
Klik.
__ADS_1
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN.
Mikha menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia amat terkejut kala mobil mas Hari lost menerobos lampu merah. Dan di saat yang tepat, arah berlawanan truck tangki minyak milik negara melewati dengan begitu kilat.
Boom.
"Aah, tidak .." menutup mata Mikha yang lemas melihat semua itu, dibalik layar.
"Enggak. Ini pasti kesengajaan, terjadi sesuatu pada mobil mas Hari. Paman Bram, percayalah padaku. Aku yakin mas Hari tidak mungkin menyalahi aturan rambu lalu lintas. Itu pasti ada yang sengaja mencelakai. Eri, bantu kami untuk mencari banyak bukti!" pinta Mikha saat itu.
"Nyonya. Tenanglah, Osin bawa Mikha pulang. Tim kami masih belum menemukan kamera Dashcam. Jika itu benar, kami tidak akan diam." ujar tuan Ryo.
"Pulanglah, biar paman akan selidiki lebih lanjut, Damar juga sedang mencari bukti kuat bersama yang ahlinya, keluarga Hartanto tidak akan pernah tinggal diam, jika sedikit saja di usik. Sekalipun dia keluarga yang lebih kaya dari kami." sombong Bram, membuat Mikha menurut, dimana ia juga harus menjaga kandungannya tetap kuat dan tidak semakin lemah.
Hingga dimana Mikha tidak bisa berfikir jernih. Ia membayangkan itu bukanlah mas Hari.
Sembab, sendu Mikha membuat matanya menoleh ke arah jendela pintu. Mikha berlari mengejar seseorang.
"Mikha, lo mau kemana? Jangan lari!" teriak Osin.
"Mas Hari tadi di depan, Osin. Percaya deh sama gue. Mas Hari tadi ada, iya. Gue ga salah liat itu beneran mas Hari, suami gue." senyum Mikha, membuat Osin memegang erat tangan sahabatnya itu dan memeluk.
"Lo yang sabar, Mikha. Itu hanya ilusi atau lo tadi mimpi karena saking rindunya, kita sama sama berdoa ya!" lirih Osin ikut menetes air mata.
Dan Mikha yang akan berlari terhenti, dimana ia ingat dan sadar jika itu adalah ilusi dari mimpinya, yang beberapa saat ia memasak bersama Hari di apartement, bagai video tayangan ulang yang masih ia ingat.
'Jadi ini bukan nyata?' deru batin Mikha menahan sesak.
__ADS_1
Tbc.