
Berada di bank saat ini, Bram merasa beruntung ia kini bisa membeli sepeda motor seharga dua puluh lima juta, cash. Hal terbesit ia melupakan sepeda rusaknya. Tak lupa ia mencoba mengatur box untuk pelanggan yang membeli timun emas.
Glows merupakan keluarga kaya dengan satu perusahaan yang keluarga tersebut jalankan.
Keluarga Glows sendiri, merupakan keluarga yang cukup terpandang di kota tersebut.
Di mana pada awalnya, keluarga itu merupakan keluarga biasa saja sebelumnya. Sampai pemimpin keluarga terdahulu, berhasil merintis usahanya hingga menjadi sebesar sekarang.
Di mana usaha tersebut, telah diturunkan pada Hartanto, ayah kandung Bram yang kini berada di jepang. Amanat kakek buyut, meminta Hartanto menikahkan putra satu satunya dengan keluarga terpandang, yang konon ia sangat baik, sekaligus rekan bisnisnya, sehingga identitas dari tunangan Bram sendiri bisa dikatakan amatlah tinggi di keluarga tersebut.
Tapi saat Bram datang, seolah keluarga terpandang rekan bisnis kakeknya itu amatlah buruk. Jauh dari kata keluarga baik, menurut Bram tunangannya bernama Via, lebih jelas dikatakan matre dan bermuka dua.
Tling!
Pesan dari seseorang, membuat hati Bram tersentuh.
[ Bram, aku sangatlah tidak tahu malu. Tapi apa kita bisa bertemu, aku tahu hatimu hancur. Begitupun aku, tapi jika kamu tak percaya! Aku tidak bisa berbuat apapun, selagi kamu mau memaafkanku. Hubungan kita, aku tidak bisa berbuat apa apa meski aku selalu menunggumu. Bram, ayo kita kawin lari. Aku sanggup di coret asalkan bisa bersamamu ]
Dengan berat nafas Bram! [ Baik, tunggulah aku sebentar lagi! Aku masih punya misi, setidaknya kamu tidak kelaparan saat memutuskan denganku ]
Tling!!
[ Bram, apapun itu. Aku tidak masalah aku bisa melamar bekerja, kita sama sama berjuang ]
__ADS_1
Bram tak membalas, ia tidak mau Elea putus dari kuliah karenanya. Sehingga ia matikan ponselnya, dan ia kembali nyalakan ponsel kerjanya untuk mengirim pada pelanggan.
'Maafkan aku Elea, jika kamu jodohku tak akan kemana. Urusanku sangat banyak, maaf aku menggantungmu seperti ini.' batin.
Dredddth!!
2 Kg timun emas, seharga 8.000.000. Kirimlah satu ke alamat yang sudah kakek kirimkan, tapi berhati hatilah jika dia ingin membeli lebih dari dua. Jebakan slot bisa saja akan membuat masalah. Ingat slot timun emas tidak semua di dapatkan di dalam buah timun emas, jika seseorang yang membeli ada maksud tertentu.
Bram lagi lagi setelah akan menjualkan timun emas, ia segera menatap pesan dari kotak.
Benar setiap pagi ia akan menjual timun emas, timun emas biasa seharga tiga puluh ribu rupiah sebelum matahari terbit ia akan pulang. Akan tetapi di rumah itu, Bram akan menjual melalui blognya tentang timun emas ajaib dengan kode Slot keberuntungan.
Ok! Kita berangkat, paket timun emas itu Bram masukan kedalam box. Dengan sepeda motor barunya, ia mencari alamat sesuai yang di kirimkan oleh petunjuk kakek Ruslan. Hingga sampai saat ini, Bram tak pernah melihat kakek Ruslan, ia bekerja dibawah sang kakek, tanpa tahu asal usul sang kakek yang sempat misteri. Bram hanya fokus bekerja dan mendapat keuntungan, kekayaan jerih payah saat ini, menjadi pria jutawan setiap harinya.
Ia duduk sambil memencet tombol ponsel pintar, akan tetapi nomor rahasia lebih dulu menelpon.
"Letakan timun emas itu dibawah gerbang, ada kantong plastik hitam dan pulanglah! Jika aku membeli tak sesuai exspetasi. Maka kau orang pertama yang aku cari untuk menuntutmu!"
"Pak..ta- tapi.." terdiam saat sambungan itu terputus.
Bram menghela nafas, sesuai intruksi ia letakan paket itu di dalam gerbang, dimana kantong plastik itu ia buka benar uang sejumlah yang di sepakati melalui blog.
"Ah! Sandi ini rumit sekali, bagaimana kode nya aku masukan jika kode Slot ini tidak bisa di scan."
__ADS_1
Pasalnya setiap Bram jual timun emas istimewa, Bram harus memasukan kode dan menscan agar kakek Ruslan tahu, jika paket telah sampai pada pelanggan. Dengan begitu juga Bram akan mendapatkan kode tambahan sebagai bonus sekedar uang tips pengantar paket box.
"Sudahlah biar aku lakukan di rumah."
Di tengah perjalanan Bram berhenti sebentar guna minum sejenak, akan tetapi ia melewati tak sengaja rumah mantan yang dibicarakan sang kakek kemarin. Bram dengan pede minum di depan pagar.
Situasi itu, seorang gadis yang nampak begitu familiar bagi Bram, keluar dari dalam rumah menuju ruang teras. Di mana kedatangannya segera diikuti decak kagum saat itu dari mereka yang ada di sana.
“Cantik. Lihatlah di depan pagar!" teriak seseorang.
Bram, tanpa sadar sebelum sedikit menyesali apa yang sempat dia gumamkannya.
Setelah mengenali siapa gadis tersebut, di tambah dengan bagaimana orang di sana memanggil nama gadis tersebut.
“Via akhirnya kau datang."
“Kemari Vi, agar bisa kau lihat bagaimana rupa calon tunanganmu itu. Kemarin dia datang dengan pakain lusuh, lihatlah meski tampilan saat ini dengan motor lumayan. Tetap saja butut tidak pantas untukmu." teriaknya membuat Bram mendengar.
Sebuah pukulan remang seolah menyambangi kepala Bram, begitu kerasnya, siapa yang menyangka bila ternyata gadis yang menjadi tunangannya. Merupakan wanita menyebalkan bernama Via yang berapa hari lalu, berhasil membuat Bram begitu kesal akan sikapnya juga, menjadi alasan dirinya harus kehilangan pekerjaan yang dimilikinya.
'Benarkah dia..?' batin Via, ia menatap Bram yang saat itu kembali menjalankan sepeda motor box nya pergi menjauh.
'Bagaimana bisa papa menjodohkan aku, jangan jangan dia menyamar sebagia pria miskin.' benak Via.
__ADS_1
Tbc.