
"Tuan, apa perlu saya antar?" ujar Kenan.
"Tidak perlu, pulanglah lebih awal! hari ini Damar sedang dibawa oleh papa Reksa ke singapore, aku akan pulang sendiri." ujar Bram, membuat Kenan mengangguk.
Bram setelah Kenan pergi, ia menghentikan taksi, menuju suatu tempat dalam puluhan menit.
Klek!
"Selamat malam, tadi kau memanggilku ada apa? kebetulan makananmu juga sudah siap nih!"
Bak gayung bersambut, Bram bahkan membuka bibirnya sedikit, saat sosok itu masuk ke ruangan lain. Tentu saja sambil tangannya menarik selimut, karena saat ini Jingga hanya memakai kemeja Bram. Bahkan dia tak memakai dalaman saat Bram membuka pintu. Dirinya masih menyibak selimut setelah memperhatikan kakinya. Tanpa diragukan lagi, Jingga yakin Bram pasti melihat intinya.
"Kau masih disini? untuk apa semua ini, kenapa tidak pergi dari tempatku?" cetus Bram.
"Aduh, kakiku dan suhu badanku tiba tiba saja lemas. Aku perlu tinggal di tempat ini, aku mohon izinkan aku ya Tuan Bram beberap hari lagi!"
'Tapi Bram datar aja tak bergeming? Dia pikir milikku jelek apa ya? Tapi udah mulus, putih loh pinggirannya juga!' Jingga terbakar dalam relung sanubarinya, sehingga.
"Tak perlu basa basi, lihat apa yang sudah kau lakukan padaku, tubuhku demam!" sentak Jingga saat melihat Bram sudah menutup pintu kamar utama.
'Bukankah cowok akan selalu tergoda dengan wanita yang memakai pakaiannya seperti di drama korea?' gumam hati Jingga yang memikirkan bagaimana cara Bram melihat Jingga datar saja. Padahal bukankah wanita terlihat lebih menarik dengan pakaian pria yang kebesaran?
"Maaf deh, habis cuma itu yang kepikiran, sih."
Ini mengesalkan apalagi ekspresi Bram cuma seperti itu. Jingga rasanya tak bisa terima, ketika Bram pergi ke kamarnya melupakan ada wujudnya di kediamannya.
"Ha-hatciiiiim!" Jingga kembali bersin, untung saja dia refleks mengambil tissue.
"Lihat akibat ulahmu! Aku hampir hipotermia, sampai demam begini dong!"
Jingga berteriak yang masih ingin memaki Bram, hatinya masih menggerutu, mengingat kejadian tadi malam. Lebih kesal lagi saat Jingga melihat pria itu kini sudah tersenyum tanpa rasa bersalah memasuki kamar, seakan dia hero penyelamat.
"Sorry, deh sorry, Jingga!" Bram menimpali sambil menyodorkan nampannya.
"Ini ada bubur dan aku juga bawa infuse water, khusus untuk demam. Bangunlah, minum dan makan dulu supaya cepet sehat. Aku ga bawain obat, soalnya demam ga butuh obat kimia, yang kaya gini lebih sehat, malah lebih cepet tanpa efek samping! Tapi ingat setelah membaik, pergi dari apartementku! aku sedang baik, ingat itu." cetus Bram, membuat Jingga senyum.
Panjang lebar Bram bicara tak menggubris kekesalan Jingga. Dia justru menarik kursi dan duduk di samping nakas, memangku bakul makanan yang tadi dibawanya.
"Makan dulu ya, bisa duduk gak, Jingga? Mau makan sendiri atau mau aku bantu security dibawah suapin kamu?" tawar Bram.
'Sial aku bisa makan sendiri, wangi buburnya harum sekali!' Jingga sebenarnya ingin menolak. Tapi setelah hidungnya menerima aroma yang menggetarkan perutnya, dirinya memilih berdehem dan mengubah posisinya duduk tapi masih terlihat cool.
__ADS_1
"Aku punya tangan!"
"Good."
Jingga juga tak menampik tangan Bram yang memberikan mangkuk itu untuknya, tapi dia memilih makan sendiri sambil menahan perasaan sebal karena pria itu masih cengar cengir tanpa beban.
Sikap Jingga tak masalah sih untuk Bram. Di dunia entertainment memang begitu, tak perlu terlalu sopan. Bram pun paham meski Jingga menunjukkan sifat aneh yang Bram tak sukai. Namun sesaat kemudian, ekspresi wajah Bram berubah, entah angin apa ia harus melihat Jingga di apartemennya.
'Huh, darimana dia bisa mendapatkan bubur seenak ini? Gila sih, juara rasanya.' Jingga tadinya mau jaim, mau icip-icip sesuap dua suap.
"Ehm, beli di mana?" tanya Jingga dengan sok jaim.
"Bikinlah, Mbok Sur, pembantu di pehthouse papa. Cepat habiskan lalu kembali ke kamar, aku tunggu kamu sampai besok untuk keluar dari apartemenku." celetuk Bram masih menyisakan senyum miring di bibirnya."
"Jahat." cerocos Jingga.
Yah, Jingga masih gengsi. Tapi setelah dia merasakan bubur yang hangat masuk ke dalam kerongkongannya, lumer dengan segala rasa memanjakan lambungnya yang kelaparan, sangat membangkitkan selera dan merangsang keinginannya untuk menyuap lebih banyak, Jingga seakan terhipnotis dan lupa jika ia membuat roti bakar.
'Bagaimana aku bisa menghabiskan ini semua? Cih, memalukan!' saat netranya menyapu mangkuk kosong itu, Jingga akhirnya merutuki dirinya sendiri yang menghabiskan semangkuk bubur tanpa sisa, lalu meneguk juice milik Bram, yang kala itu matanya tajam.
"Seger?" ditanya begitu, terpaksa Jingga mengangguk. Karena memang begitu kenyataannya.
"Apa ini?" tanya Jingga, sudah tak lagi berintonasi tinggi, saat dia sudah menghabiskan minuman di gelasnya.
"Oh, itu, perasan air ketimun yang di parut. Di campur madu dan garam sedikit untuk menghilangkan rasa ketimunnya. Aku tambahin spring water ju--"
"Ketimun?" sontak saja wajah Jingga memerah memotong ucapan Bram, yang juga mengangguk, menjawabnya.
"Kau, memberikan aku air ketimun, apa dari ketimun yang semalam?"
"Oh, iya. Yang dingin itu."
Dengan wajah tampak tak bersalah, Bram mengangguk, tersenyum juga.
"KAU!"
Tapi Jingga sebaliknya. Jelas saja itu membuat Jingga meradang dan dia tak lagi bisa menahan emosinya, karena itulah cara Bram mengusir Jingga.
BUG!
"Hey, hati-hati dong, gelasnya bisa membuatku benjol! Untung ketangkep, nih," seru Bram kaget dengan lemparan Jingga.
__ADS_1
"Bodo amat!" tapi Jingga, sudah nafsu dengan amarahnya.
Sehingga. "Kau tahu tadi malam kau ingin memasukkan itu ke mana, hmm? Dan sekarang kau membiarkan itu masuk ke dalam mulutku, aku minum?" jari tangan Jingga, menunjuk tepat ke bibirnya saat bicara.
"Ga punya perasaan banget sih!"
Mau nangis rasanya Jingga ketika di usir halus, ketimun itu seperti malapetaka baginya. Mual rasanya. Tapi tidak mungkin juga Jingga menumpahkan semua makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Itu lebih menjijikkan dan akan membuat perutnya sakit.
"Eeeh, tapi kan itu belum masuk!" Bram berpikir dengan logikanya, mengelak.
"Aku melihat dan merasakannya. Kau sudah menyodokkan ujungnya ke sana!" Bram masih tak terima.
"Ya itu dikit, kan cuma ujung, yang lainnya belum sempet masuk. Jadi jangan berkomentar cepat habiskan!" kembali sikap Bram yang dingin.
'Ya ampun! Orang ini, ngotot banget padahal dia salah! Jelas geli dan menjijikkan itu kan, hyaaks!'
Jingga tak tahan sehingga tadi menimpali sambil mengomel dalam relung sanubarinya.
"Kau, apa kau tau itu jorok?"
"Oh, aman. Udah dicuci bersih ketimunnya!"
"Braam!"
BUG!
Jingga tak mengerti terbuat dari apa kepala pria itu. Bram tidak juga merasakan getirnya hati Jingga, lempeng saja seperti jalan tol bebas hambatan cara berpikirnya.
BUG!
PRAAANG!
Di saat Jingga menggerutu, Bram melemparkan sebuah bising karena ia kesal dengan Jingga yang sedari tadi mengoceh saja.
Dasar Bram, sudah tahu Jingga sedang marah-marah, dia masih datar saja dengan satu ucapannya barusan. Gadis itu refleks melemparkan lagi bantal yang ada di belakangnya sampai terkena mangkuk di baki dan jatuh, mematahkan kekesalan Bram yang membludak.
Praang!!
"Sory, aku ga sengaja pecahin. Gelasnya jatuh kena bantal." ucap Jingga.
Tak berkata apapun, Bram meraih jaketnya setelah mendapat sebuah pesan. Lalu pergi begitu saja, lagi pula selain melihat keadaan Jingga, ia mengambil berkas yang tertinggal di kamarnya.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tanya Jingga, membuat matanya membola, karena diacuhkan lagi oleh Bram.
TBC.