Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MANSION BRAM


__ADS_3

Di Luar Rumah Sakit, terlihat Inggrid sedang menunggu menantunya di periksa, dimana ia sedang berjalan menuju apotek. Namun yang ia dapatkan adalah suatu kebenaran, yang tak pernah Inggrid bayangkan.


Mama Inggrid terlihat kaget, saat ia ingin mengecek nota rumah sakit hasil kemo untuknya, sementara salah satu pelayan menunggunya sedikit jarak lima kilo meter, dan menatap kebenaran jika putranya juga kecelakaan apalagi terlihat dari berita, bagusnya ia telah sadar dari koma. Dan anak tirinya itu menutupi. Ia cukup terkejut karena melihat Mikha juga ternyata dalam keadaan trauma berat.


"Suster, berita itu sejak kapan tayang?" tanya Inggrid.


"Itu, kasian bu. Sejak dua minggu lalu, dimana kami juga menunggu. Semoga istri pasien tabah, dan korban kembali. Kebetulan istri pasien di rawat juga kan di rumah sakit ini." jelas suster, memberikan obat yang di minta Inggrid.


Inggrid kembali, dimana ia gemetar menahan sesak, tidak mungkin putra satu satunya kecelakaan amat tragis. Sehingga melangkah cepat ke ruangan Mikha, dimana Ia menatap dua karyawan putranya di depan pintu, sehingga ia bertanya.


"Kalian, apa kalian juga terlibat menutupi semuanya?" ketus Inggrid.


Osin yang tadinya diam, ia meminta Eri untuk mengizinkan Mama Inggrid masuk, hal itu membuat dirinya segera masuk dan melihat keadaan Mikha dan mencoba saling menguatkan.


"Sayang, apa yang kamu alami. Apa tidak bisakah mama melihatmu tersenyum. Jangan sedih nak, masih ada mama. Kamu pernah merawat mama dengan setia. Jika kamu mau, mama akan bagi waktu untuk merawatmu nak. Huhuhu." mode tangisan mama Inggrid mengusap telapak tangan Mikha.


Mikha yang masih sadar, air mata sangat kering baginya saat ini. Meski perih rasa sakit itu membuat dirinya semakin hancur. Hingga beberapa jam kemudian, mama Inggrid pamit dan akan menjenguk Mikha lagi jika di izinkan, dimana hatinya ikut remuk. Berencana menanyakan pada putranya juga bernama Bram.


"Nyonya mari ikut! kesehatan nyonya juga harus diperhatikan." ujar pengawal, dimana Inggrid memakai sedikit tongkat berjalan.


"Osin, saya titip Mikha!"


"Baik nyonya besar."

__ADS_1


Osin dan Eri berkompromi. Mereka bergantian berjaga selama satu minggu lebih. Kini pelupuk indah cahaya telah amat menyentuh dan menusuk di pori pori kulit Mikha. Mikha masih berharap mas Hari ada.


Ia membuka mata, melepas segala hal. Seolah nyawa kembali hidup baginya. Mikha pun memegang perutnya seolah ada kehidupan yang harus ia jalani saat ini dan seterusnya.


"Nak. Maafin bunda, ga seharunya bunda larut dan semakin larut bersedih. Bunda akan kuat dan kita pasti akan menemukan keberadaan dady. Dady pasti masih ada bersama kita." senyum Mikha mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


***


Bragh.


Untungnya Mikha tak jadi jatuh, tersangga Ryo yang menyelamatkan.


"Ada yang mau di ungkapin?" tanya Ryo.


"Gila, gue sempet denger tuh. Kenapa mereka tega segitunya sih, padahal udah punya kehidupan masing masing juga." ketus Ryo menanggapi.


"Entahlah, aku rasa dia dendam. Karena gue menikah sama Hari. Yang saat itu gue juga enggak tahu, kalau mas Dani punya kekasih mantan istri Hari Hartanto. Syok udah nikah selama bertahun tahun di acuhin, ternyata udah nikah lagi. Hancur hati. Seiringnya waktu mas Hari, yang bikin aku kagum. Hingga akhirnya .."


"Akhirnya kecelakaan kan, gue paham. Lo yang sabar Mikha."


"Ga sampe di situ mulut ember, lo tahu dong penjebakan zona Rose dan gedung ceremoni. Belum lagi wanita tadi yang gue ketemu, dia minta maaf. Meski gue memaafkan, tapi gue ga pernah lupa. Dan itu menurut gue fatal, kenapa dia bisa setega itu membuat hubungan gue sama mas Hari dulu hancur, aku sebagai istri selalu menyembunyikan demi nama mas Hari, ga hancur." jelas Mikha.


Ryo terdiam, ia senyum menyempit. Kala melihat drama rumah tangga Mikha yang menyulitkan. Terlalu banyak musuh buat hidup Mikha. Hingga ia bingung dan curiga, ada apa dengan masa lalu Mikha yang menginginkan kehidupannya semakin rumit dan sulit di artikan.

__ADS_1


"Udah, lo istirahat dulu ya. Atur emosi lo, jangan sampe papi Bram tahu lo emosi kaya gini, bisa di amuk gue. Gue yakin, kelak kebahagiaan dan kita bakal temui om Hari." ujar Ryo, dimana Ryo diangkat sebagai anak Bram.


"Thanks ya Ryo, cuma lo yang ngerti dan percaya. Yakin kalau mas Hari, masih hidup, sampe kapanpun gue ga akan berhenti mencari."


Ryo mengangguk, karena ia merasa curiga kala seseorang meminta dirinya menjadi asisten Mikha. Di mana ia sempat mendengar telepon jika keberadaan di rumah saat ini, ada paviliun yang akan di huni orang sakit. Ryo menerka nerka, tapi ia mengkesampingkan pikiran itu. Karena selama ia bekerja, ia tahu aturan dan batas wilayah mana yang harus ia tapaki yang boleh dan tidak boleh ia pijak.


"Nah, udah sampe nih kita. Mikha, gue cuma mau ingetin ya. Di balik gedung ini, asal lo tau ya. Lo ga boleh nyebrang melampaui jembatan belakang yang menepi ke paviliun!"


"Lah, emang kenapa?" tanya Mikha.


"Udah deh, kalau gue bilang ga boleh. Ya ga boleh. Gue aja ga boleh, gak tahu. Nanti lo tanya sama tuan Bram. Lo aja lah tanya lansung. Ok aunty! Dahlah, turun pelan pelan. Gue angkat koper di belakang, oke."


Mikha mengangguk, hingga di mana hati dan rasa tenang Mikha, tiba saja menyirami bagai air yang memupuk sebuah tanaman. Entah rasa apa, tapi yang jelas ia merasa dekat dan sedikit aman sampai waktunya tiba. Ia akan melahirkan dan memulihkan kondisinya, dan fokus pada perusahaan mas Hari, demi mengurangi kesedihan dan masa depan anak dalam kandungannya kelak.


"Ryo, kenapa hati gue ngerasa tenang ya. Di balik pohon besar itu, kenapa ada rumah lucu. Gue nanti mau kesana ya?"


"Eeh, Eehk. Di bilang ga boleh ya ga boleh, jangan bikin nyawa kerjaan gue melayang deh Mikha, dipecat dan di keluarin dari anak angkat oleh tuan Bram cuma karena larangan ga boleh kesana. Sekarang lo hubungi Osin, doi mau bicara hal penting tuh. Mau bicara serius, lo mending telepon sekarang juga!"


Gerutu Ryo, ia mengangkat dua koper dan berlalu masuk lebih dulu. Seluruh asisten menyambut dan mempersilahkan Mikha untuk masuk.


"Nona Mikha. Tuan Bram sudah menunggu, selamat datang!" ujar pelayan menyambut.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2